Coba bayangkan sejenak: Karl Marx, sang bapak komunisme, hidup kembali di abad ke-21. Mungkin dia akan berdiri di tengah alun-alun Tiananmen di Cina, berkeliling ke Pyongyang di Korea Utara, atau mampir ke Havana di Kuba. Lalu apa reaksi dia melihat komunisme di dunia saat ini? Akankah dia bangga atau justru kecewa?
Kalau melihat betapa kapitalisme dan kekuasaan telah menyusup ke negara-negara yang mengaku "komunis," mungkin Marx akan merasa lebih banyak kesal daripada bahagia. “Apakah ini dunia tanpa kelas yang saya bayangkan?” mungkin itu yang terlintas di pikirannya. Komunisme versi Marx adalah tentang masyarakat egaliter, tanpa kepemilikan pribadi, dan penuh solidaritas. Namun, kenyataannya? Banyak negara yang mengklaim "komunis" ternyata lebih condong ke otoritarianisme atau bahkan kapitalisme yang diperhalus.
Apa Itu Komunisme Murni?
Menurut Karl Marx dan Friedrich Engels dalam The Communist Manifesto, komunisme murni adalah dunia tanpa kelas, tanpa kepemilikan pribadi atas alat produksi, dan di mana semua orang bekerja sesuai kemampuan mereka dan menerima sesuai kebutuhan. Dalam sistem ini, negara pada akhirnya "layu" karena masyarakat bisa mengatur dirinya sendiri tanpa pemaksaan.
Namun, teori ini lebih mirip utopia daripada sesuatu yang benar-benar bisa diterapkan. Dalam praktiknya, manusia tidak hanya altruistik. Kita punya naluri untuk bersaing dan terkadang mencari keuntungan pribadi.
Seperti kata Marx: "Dari masing-masing menurut kemampuannya, untuk masing-masing menurut kebutuhannya." Tapi kenyataan sering berkata lain—pemimpin sering kali lebih dulu mengambil bagian mereka, jauh lebih banyak dari rakyat.
Negara-Negara yang Mengklaim Komunisme
1. Republik Rakyat Cina
Tiongkok mungkin negara pertama yang muncul di benak banyak orang saat membicarakan komunisme. Tapi apakah Cina benar-benar komunis? Sejak reformasi ekonomi di bawah Deng Xiaoping pada 1978, Cina lebih mirip kapitalisme versi negara. Ada pasar bebas, miliarder, dan persaingan ekonomi, meskipun Partai Komunis tetap memegang kendali politik.
Bisa dibayangkan, Marx akan menggaruk-garuk janggutnya sambil bergumam, “Apa ini? Sosialisme dengan karakteristik Cina? Saya bahkan tidak menulis bab itu!”
2. Korea Utara
Korea Utara adalah negara tertutup yang sangat mengontrol ekonomi dan kehidupan rakyatnya. Namun, lebih dari sekadar "komunis," negara ini lebih menyerupai kediktatoran personal di bawah dinasti Kim. Semua alat produksi dikuasai negara, tetapi masyarakatnya hidup di bawah represi ketat. Marx mungkin akan sangat kecewa karena komunisme yang ia bayangkan bukanlah soal kontrol penuh oleh segelintir orang.
3. Kuba
Kuba adalah salah satu negara terakhir yang masih mempertahankan model sosialisme ala Marxis-Leninis. Tapi sejak 2010, Kuba mulai membuka pintu bagi kepemilikan pribadi kecil-kecilan dan bisnis swasta. Sementara Fidel Castro pernah berkata, “Sejarah akan membebaskan saya,” sejarah malah menunjukkan bahwa Kuba harus berkompromi dengan kapitalisme untuk bertahan hidup.
4. Vietnam dan Laos
Kedua negara ini juga mengikuti jejak Cina dengan menggabungkan pasar bebas dalam sistem ekonomi mereka. Reformasi ekonomi seperti Đổi Mới di Vietnam menunjukkan bahwa mereka telah jauh dari komunisme murni, meskipun tetap menggunakan retorika politik komunis.
Kenapa Komunisme Murni Sulit Terwujud?
1. Utopianisme Konsep Komunisme murni mengandaikan bahwa manusia bisa sepenuhnya altruistik, rela bekerja tanpa pamrih, dan membagi kekayaan dengan adil. Tapi kenyataannya, manusia tidak sesederhana itu. Ada ego, ada ambisi, dan ada kebutuhan yang berbeda-beda.
2. Negara Tidak Bisa Layu Begitu Saja Marx membayangkan negara akan menghilang setelah masyarakat mencapai titik tertentu. Namun, dalam praktiknya, negara justru menjadi semakin kuat, digunakan oleh elite penguasa untuk mempertahankan kekuasaan.
3. Masalah Ekonomi Terpusat Sistem ekonomi terpusat sering kali tidak efisien. Kekurangan barang, korupsi, dan stagnasi ekonomi adalah hal yang hampir selalu terjadi dalam eksperimen komunis.
4. Tekanan Global Dalam dunia modern, negara sulit benar-benar menutup diri dari kapitalisme global. Negara-negara seperti Cina dan Vietnam harus mengintegrasikan elemen pasar bebas agar bisa bersaing di tingkat internasional.
Jadi, Apakah Ada Komunisme Murni Saat Ini?
Jawabannya: tidak ada. Semua negara yang mengklaim "komunis" telah beradaptasi atau berubah jauh dari ide dasar komunisme. Mereka lebih mirip dengan sosialisme negara atau, dalam beberapa kasus, rezim otoriter dengan retorika komunis. Komunisme murni tetap menjadi sebuah idealisme yang belum pernah terwujud.
Seperti kata Lenin, "Revolusi adalah seni di mana langkah mundur sering diperlukan untuk melangkah maju." Namun, apakah langkah-langkah mundur ini membuat kita lebih dekat ke komunisme murni atau malah semakin menjauh? Itulah pertanyaan besar yang mungkin membuat Marx menggelengkan kepala.
Kesimpulan
Jika Karl Marx hidup kembali, dia mungkin akan merasa lebih frustrasi daripada bangga. Komunisme yang ia impikan belum pernah terwujud dalam bentuk murninya. Sebaliknya, eksperimen-eksperimen yang dilakukan atas namanya sering kali melenceng jauh dari tujuan aslinya.
Namun, gagasan Marx tetap relevan sebagai kritik terhadap ketimpangan dan eksploitasi kapitalisme modern. Dunia mungkin tidak akan pernah melihat komunisme murni, tetapi ide-ide Marx tetap hidup sebagai pengingat bahwa keadilan sosial dan distribusi kekayaan adalah hal yang patut diperjuangkan.
Comments
Post a Comment