Skip to main content

Posts

Ketika Dunia Dipimpin Aki-Aki Baperan

Katanya si Terompah lagi ngambek karena Spanyol allegedly nggak kasih wilayahnya dipakai buat kepentingan serangan ke Iran. Dramanya sih belum tentu se-epik timeline Twitter, tapi vibe-nya kebaca: geopolitik sekarang makin terasa kayak group chat keluarga yang admin-nya sudah sepuh semua dan sensiannya minta ampun. Well. Kalau kamu zoom out sedikit dan lihat panggung dunia hari ini, line-up-nya memang senior-senior semua. Raja Salman sudah 90. Mahmoud Abbas juga 90. Khamenei 86. Terompah 79. Anwar Ibrahim 78. Raja Charles 77. Netanyahu 76. Modi 75. Prabowo dan Shehbaz Sharif 74. Putin 73. Xi Jinping dan Erdogan 72. Al-Sisi 71. Ini bukan daftar tamu resepsi emas pernikahan. Ini adalah orang-orang yang literally menentukan arah perang, ekonomi global, sampai harga beras di dapur kamu. Dan saya nggak sedang age-shaming. Pengalaman itu valuable. Wisdom itu mahal. Tapi ada satu pertanyaan yang uncomfortable namun perlu diajukan: ketika usia sudah di ujung karier, bahkan di ujung hidup, ...
Recent posts

“Orang Kami Ada di Sekitarmu” — Thriller Geopolitik atau Script AI yang Kebablasan?

  Timeline lagi rame. Ada satu postingan yang views-nya udah tembus jutaan. Narasinya dramatis banget. Katanya ada Mayor Jenderal Israel bernama Jacoob Ariel Ashaabi, Komandan Umum Batalyon Infiltrasi Serangan Senyap Global, yang ngasih warning ke Indonesia: jangan ikut campur urusan mereka dengan Iran. Kalau nekat, “kami bisa menghentikan jantung ibukota Anda.” Excuse me? Kalimatnya tuh berasa kayak villain monolog sebelum final battle. Kurang background music aja. Masalahnya gini. Begitu kamu coba sedikit aja switch dari mode panik ke mode mikir, ceritanya langsung goyah. Nama jenderalnya terdengar meyakinkan. Ada Ariel, ada vibe Timur Tengah, ada pangkat tinggi. Sounds legit. Tapi pas ditelusuri ke struktur resmi Israel Defense Forces , gak ada unit bernama “Batalyon Infiltrasi Serangan Senyap Global”. Let’s be real. Militer itu naming convention-nya kaku. Mereka gak pakai nama yang kedengarannya kayak judul webtoon conspiracy edition. Kalau ada unit resmi, pasti ada arsipnya. A...

Timur Tengah Lagi Mau “Rebranding”?

  Ada satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan netizen + analis wannabe kalau ngomongin Timur Tengah. Mereka ngira konflik di sana itu kayak film Marvel. Ada villain, ada hero, terus kalau villain-nya kalah… ya berarti happy ending dong? No. That’s not how geopolitics works, dude. Di dunia nyata, kadang villain kamu itu literally adalah satu-satunya alasan kenapa villain lain belum takeover seluruh map. Beberapa waktu terakhir, kawasan lagi panas banget setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran . Bukan cuma “warning shot”, ini literally udah masuk fase,  “Let’s see if regime change is possible”. Iran is about to get a full political makeover—forced edition. Masalahnya Gini… Selama ini Timur Tengah itu ibarat group chat yang toxic tapi somehow masih balance. Di satu sisi ada Israel, yang semua orang tahu punya nuklir walaupun gak pernah bilang secara resmi ( strategic ambiguity is such a mood ). Di sisi lain ada Iran, ya...

Selat Hormuz Ditutup: Perang di Timur Tengah, Kenapa Dompet Kita yang Deg-Degan?

  Beberapa hari lalu, setelah rudal dari Israel nyasar ke target-target di Iran , respons Tehran tuh nggak langsung dalam bentuk “balas rudal now-now juga” . Mereka justru pull a move yang jauh lebih strategic, and honestly, jauh lebih nyusahin buat seluruh dunia: Selat Hormuz ditutup. At least, secara operasional dibikin too risky to pass . Dan di geopolitik energi, kamu nggak harus literally pasang gembok buat bikin jalur laut berhenti fungsi. Cukup bikin shipping company mikir,  “Is this route still worth the risk?”  Karena once risiko naik,  entah itu ancaman rudal, drone, ranjau laut, atau sekadar radio warning dari IRGC, premi asuransi kapal langsung spike. Dan begitu war-risk insurance naik, banyak tanker bakal choose untuk delay, reroute, atau straight up nunggu situasi agak chill dulu. Masalahnya, Selat Hormuz itu bukan jalur random yang bisa diganti kayak kamu ganti rute Google Maps karena macet di Kuningan. Sekitar 20% minyak dunia yang diperdagangka...

Dunia Sudah Main Drone Kamikaze, Kita Masih Ribet Ngurus Izin

  Sekarang realitas global itu lagi shifting dan kalau kamu masih mikir perang itu identik sama jet tempur gaya film Top Gun: Maverick , ya… kamu ketinggalan season. Yang berseliweran di timeline medsos kita saat ini bukan F-16 adu manuver. Tapi benda kecil bersayap segitiga, suaranya kayak motor bebek kehabisan oli, terbang pelan, lalu… boom. Itu HESA Shahed 136 . Drone kamikaze buatan Iran yang beberapa tahun terakhir dipakai Rusia di Ukraina. Murah, simpel, tapi bisa dikirim massal. Seratus. Dua ratus. Kayak flash sale, tapi isinya bahan peledak. Secara konsep, ini bukan drone lucu buat cinematic pre-wedding pakai slow motion dan lagu Hindia. Ini loitering munition . Dia terbang cari target, bisa diprogram GPS, lalu menghantam dan meledak. One way trip. No refund. No return. Yang bikin saya mikir bukan cuma karena dia bisa terbang ribuan kilometer. Tapi karena logika militernya berubah total. Ini bukan lagi soal siapa punya jet paling mahal. Ini soal siapa bisa produksi pali...

Impor 105 Ribu Pikap dari India: Cost Saving atau Just Costly Vibes?

Beberapa waktu terakhir, yang lagi wara-wiri di timeline bukan cuma soal wedding influencer atau artis yang tiba-tiba soft launching skincare, tapi juga soal rencana PT Agrinas Pangan Nusantara buat impor 105 ribu mobil pikap dari India . Ini mobil pikap yang bakalan dibeli pakai skema yang ujung-ujungnya… nyenggol Dana Desa . Dan seperti biasa, setiap kebijakan yang dibungkus kata “efisiensi”, pasti ada satu pertanyaan klasik yang muncul, "Ini beneran hemat… atau cuma kelihatan hemat di Excel?" When “Murah” Sounds Too Good to Be True Menurut Agrinas, alasan impor ini simple: harga mobil pikap dari India jauh lebih murah dibanding produksi dalam negeri. Bahkan mereka klaim potensi efisiensi bisa nyampe Rp46,5 triliun . That’s not small money. That’s Avengers-level budget. Logikanya straightforward: Kalau satu unit pikap dari India bisa lebih murah sekian puluh juta, dikali 105 ribu unit, ya jelas saving-nya kelihatan gede banget. Tapi masalahnya… ekonomi itu bukan ...

Catatan Kematian Warga Sipil di Tangan Aparat: When “We’re Just Doing Our Job” Doesn’t Make Sense Anymore

  Februari tuh biasanya identik sama hal-hal yang soft. Orang ribut soal Valentine, cokelat diskon, atau debat receh “love language lo apa sih?” Timeline harusnya pink, bukan penuh kabar duka. Namun, di Februari ini, yang lewat di feed justru berita seorang remaja di Tual, Maluku, meninggal dunia setelah dipukul helm taktis oleh oknum aparat dalam operasi pembubaran konvoi motor. Dan yang bikin uneasy itu bukan cuma karena ada yang meninggal. Namun, karena rasanya kita pernah nonton episode ini sebelumnya. Different city. Different name. Same ending. And honestly? Itu bukan plot twist. Itu pattern. Kasus terbaru ini soal AT. Seorang remaja yang, kata keluarga dan saksi,  literally bukan bagian dari konvoi motor yang lagi dibubarin. Dia bukan peserta. Nggak ikut-ikutan. Nggak lagi revving mesin sambil cosplay Fast & Furious. He was just… there. Namun, dalam operasi pembubaran, AT kena pukul helm taktis milik oknum Brimob sampai akhirnya meninggal dunia. Versi aparat? Ko...