Rencana Prabowo Subianto buat nambah konser K-Pop langsung terasa janggal, bukan karena konsernya, tapi karena timing-nya. Di saat PHK naik, pengangguran jutaan, kebijakan yang di-highlight justru… hiburan. Dan itu bukan sekadar tone-deaf. Itu problem framing. Narasinya dibungkus rapi: diplomasi budaya hasil pertemuan dengan Lee Jae-myung . Bahkan disebut sebagai sesuatu yang “dirasakan langsung oleh rakyat.” Sounds good. Clean. Marketable. Namun, kalau kamu tarik sedikit ke bawah permukaan, klaim ini langsung goyah. “Dirasakan langsung” implies broad impact. Mass. Inclusive. Konser K-Pop? Not even close. Aksesnya terbatas. Tiket mahal. Lokasi di kota besar. Audience-nya spesifik. Ini bukan kebijakan publik yang menyentuh mayoritas, ini event-driven consumption untuk segmen tertentu. Jadi, kalau ini dijual sebagai kebijakan yang “pro-rakyat,” kita harus jujur: rakyatnya itu highly segmented. Sekarang tarik ke konteks yang lebih real. Data menunjukkan sekitar 88 ribu p...
Indonesia punya e-KTP dari 2011. Naumn, sampai hari ini, kamu masih disuruh fotokopi. Di era semua orang udah scan QR buat bayar parkir, birokrasi kita masih minta kertas yang literally hasil copy dari kartu yang katanya… elektronik. Ini bukan ironi lagi. Ini udah habit. Isu ini naik lagi gara-gara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mulai nanya hal yang sebenarnya semua orang udah lama kepikiran, ke Bima Arya, " kalau datanya udah digital, kenapa kita masih hidup di mesin fotokopi?" And the answer is so predictable. Katanya karena Identitas Kependudukan Digital masih belum optimal. Baru sekitar 10% data yang ke-input. Which basically means, sistemnya belum jadi. Yang agak lucu atau mungkin menyedihkan, ini bukan masalah baru. e-KTP dari awal dijual sebagai “solusi.” Satu identitas, semua beres. Enggak perlu bawa dokumen ini-itu, enggak perlu isi ulang data berkali-kali. It was supposed to be the system. But somehow, 15 tahun kemudian, kita malah bikin sis...