Skip to main content

Posts

Dari Rape Jokes ke KBGO: Kampus, Negara, dan Batas yang Sering Diabaikan

  Awalnya “cuma bercanda”. Ujungnya, 16 mahasiswa terancam sanksi etik sampai dikeluarkan. Kasus di Universitas Indonesia ini nunjukin satu hal yang sebenarnya sudah lama ada: garis antara “jokes” dan kekerasan itu sering banget di-blur, terutama di ruang online. Begitu masuk ranah digital, candaan seksis bisa berubah jadi KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) . Dan menurut Komnas Perempuan, ini sudah masuk kategori kekerasan seksual berbasis elektronik dalam UU TPKS. Jadi, ini bukan lagi soal “sensitif atau enggak”. Ini sudah masuk ranah hukum. Kampusnya sendiri sudah bergerak, satgas internal turun tangan, para terduga pelaku dinonaktifkan sementara. Namun, reaksi publik langsung naik level: banyak yang minta transparansi, bahkan dorong supaya kasusnya dibawa ke ranah pidana. Dan di sini pertanyaannya mulai tricky, "Cukup enggak sih, cuma diselesaikan di dalam kampus?" Secara aturan, kampus memang punya kewajiban. Di Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024, setiap perguruan ...
Recent posts

Erika: Dua Lagu, Satu Nama, Dua Kontroversi

  Nama yang sama, vibe yang beda jauh, tapi sama-sama bikin orang uncomfortable, dengan alasan yang nggak interchangeable. Versi pertama lahir di Eropa tahun 1930-an. “Erika” ditulis oleh Herms Niel dan kemudian melekat kuat dengan militer N4z1 Germany di era Perang Dunia II. Secara tekstual, ini lagu yang almost innocent. Ceritanya tentang seorang pria yang merindukan perempuan bernama Erika, yang juga diasosiasikan dengan bunga heather. Soft, bahkan agak wholesome kalau dilepas dari konteks. Masalahnya, lagu itu nggak pernah hidup di ruang hampa. Begitu jadi bagian dari keseharian tentara N4z1, “Erika” berubah fungsi. Bukan cuma hiburan, tapi juga elemen pembentuk identitas kolektif militer. Ritmenya repetitif, mudah diingat, gampang dinyanyikan bareng, perfect untuk bonding pasukan. Dan di situlah letak problemnya, lagu ini ikut melekat pada rezim yang bertanggung jawab atas kekerasan sistemik dan gen0s1da. Respon publik hari ini cenderung konsisten: cautious. Di banyak konteks,...

Konten Dulu, Logika Belakangan

  Ada momen aneh yang sekarang makin sering kejadian: orang berhenti di tempat berbahaya… cuma buat foto. Dan makin aneh lagi kalau yang melakukan itu bukan orang random, tapi rombongan pejabat. Kasus yang lagi ramai, rombongan yang diduga dari PT Pupuk Sriwidjaja Palembang , sebenarnya simpel. Mereka berhenti di tikungan tajam di jalur Sumatera Barat, turun dari mobil, lalu foto-foto. Tidak ada konteks heroik. Enggak ada urgensi. Cuma… berhenti dan ambil gambar. Yang bikin ini jadi problem bukan karena “pejabat kok foto-foto”. Itu mah semua orang juga lakukan. Yang jadi masalah itu lokasinya. Tikungan tajam, visibilitas terbatas, jalur aktif. Tempat di mana orang lain berharap semua kendaraan tetap jalan normal, bukan tiba-tiba ada yang parkir dadakan. Dan di situ mulai terasa ada disconnect. Seolah-olah ada dua realitas berjalan paralel. Di satu sisi, jalan itu ruang bersama, semua orang punya ekspektasi yang sama soal perilaku dasar: jangan berhenti sembarangan, jangan bikin bli...

Netralitas yang Mulai Blur: Ketika Indonesia Terjebak di Forum yang Salah

  Narasi “peran aktif Indonesia dalam perdamaian dunia” adalah sebuah narasi lama yang nyaman, tapi makin sulit dipertahankan tanpa terlihat… selective. Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan. Bukan dalam konteks perang terbuka Indonesia, tapi saat menjalankan mandat perdamaian. Secara teknis, ini bagian dari kontribusi global. Secara politis, ini mulai terasa seperti posisi yang ambigu, bahkan kontradiktif. Indonesia selama ini cukup konsisten: pro-Palestina, anti-agresi, dan selalu positioning diri sebagai negara yang berdiri di sisi hukum internasional. Namun, sekarang muncul satu pertanyaan yang uncomfortable, kalau dua aktor utama dalam Board of Peace justru adalah pihak yang dianggap agresor oleh sebagian besar publik Indonesia, sebenarnya Indonesia sedang duduk di meja yang mana? Ini bukan soal moral outrage semata. Ini soal coherence. Karena begini, kamu tidak bisa secara konsisten mengecam tindakan militer Israel di satu forum, lalu di saat yang sama tetap berada ...

Negara vs Videografer: Ketika Ide Dihargai Nol, dan Logika Ikut Hilang

  So here's the thing, seorang videografer, Amsal Sitepu , didakwa korupsi karena dianggap nge-markup proyek video profil desa di Sumatera Utara. Angkanya? Rp30 juta per video. Totalnya 13 video. Semua disepakati di awal, dikerjakan, direvisi, diserahkan, dibayar. Clean. Done. Terus negara datang, lihat itu, dan bilang: “ini markup!”  And suddenly, we pretend this is corruption. Masalahnya bukan cuma di angka. Masalahnya ada di cara berpikir yang, frankly, feels outdated and borderline ignorant. Di persidangan, jaksa dan auditor menyimpulkan bahwa proses kreatif berupa pencarian ide, pengembangan konsep, sampai editing itu nilainya Rp0 di RAB. Literally dianggap enggak ada. Sebentar... Kalau kamu pernah kerja di industri kreatif kamu pasti tau ini bukan cuma salah, tapi insulting. Ini bukan sekadar beda persepsi harga. Ini denial terhadap eksistensi kerja kreatif itu sendiri. Ide itu bukan bonus. Konsep itu bukan dekorasi. Editing itu bukan tombol “export” doang. Dan negara, l...

PJJ Buat Hemat BBM?

Pemerintah mau hemat BBM dengan cara mengurangi mobilitas siswa lewat PJJ mulai April. Kedengarannya logis. The problem is, logika ini berhenti di permukaan. Konsumsi BBM terbesar di Indonesia itu bukan dari orang tua yang nganter anak sekolah. Itu datang dari sektor logistik, distribusi barang, industri, dan transportasi komersial. Truk-truk besar, rantai pasok, aktivitas ekonomi skala besar. Jadi ketika kebijakan penghematan energi justru menyasar siswa, ini already feels off target. Ini bukan soal mobilitas ke sekolah nol dampak. Tapi kontribusinya kecil dibanding sektor lain. Jadi kalau tujuan utamanya adalah saving BBM secara signifikan, PJJ bukan lever yang paling impactful. Ini lebih ke kebijakan yang “kelihatan kerja”, bukan yang benar-benar kerja. Pemerintah bilang skemanya nanti fleksibel. Enggak akan seketat pandemi. Praktikum tetap tatap muka. Ada penyesuaian. Fine. Namun, ini justru bikin satu hal jadi makin jelas: kebijakan ini setengah-setengah. Kalau memang mau mene...

Ucapan Maaf yang Semu di Hari yang Fitri

  Setiap Lebaran ada satu ritual yang selalu muncul: saling meminta maaf. Kalimatnya juga hampir selalu sama. “Mohon maaf lahir dan batin.” Diucapkan saat sungkeman, saat salaman setelah salat Ied, di grup WhatsApp keluarga, bahkan di broadcast message yang jelas-jelas copy–paste. The phrase travels everywhere. From living rooms to timelines. Masalahnya bukan di kalimatnya. Masalahnya di maknanya. Karena kalau kita jujur sedikit saja, sebagian besar ucapan maaf saat Lebaran itu tidak pernah benar-benar menyentuh masalah yang sebenarnya ada di antara orang-orang yang saling mengucapkannya. It’s more like a social script. Semacam template tahunan yang harus dijalankan supaya suasana Lebaran terasa lengkap. Kalau tidak ada sesi saling memaafkan, rasanya ada yang kurang. Tidak afdhol. Jadi ritual itu tetap dijalankan. Orang salaman. Orang sungkeman. Orang mengucapkan maaf. Lalu selesai. The problem is: konflik yang ada sebelumnya tidak ikut selesai. Orang yang sebelumnya salin...