Kamis malam, 12 Maret 2026. Sekitar pukul 23.37 WIB. Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Andrie Yunus sedang mengendarai motor setelah pulang dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia . Beberapa menit sebelumnya, dia baru saja selesai rekaman podcast dengan tema yang clearly not exactly comfortable for certain people: “Remiliterisme dan Judicial Review UU TNI.” Lalu datang dua orang dengan motor matic dari arah berlawanan. Penumpang di belakang menyiramkan cairan kimia ke wajah dan tubuh Andrie. Air keras. Result? Luka bakar serius sekitar 24 persen . Wajah, dada, kedua tangan, dan mata terdampak. Bajunya bahkan sempat meleleh karena zat korosif tersebut. Korban jatuh dari motor dan berteriak kesakitan sampai warga sekitar berdatangan. Pelaku kabur ke arah Salemba Raya. Kalau cerita ini terasa familiar, yes, you're not imagining things. Karena Indonesia sudah pernah melihat film yang sama sebelumnya. Deja Vu: Publik Langsung Ingat Kasus Novel Begitu berita ini mun...
Per Februari, defisit APBN sudah Rp135,7 triliun . Tahun lalu di periode yang sama cuma sekitar Rp30 triliun . Artinya dalam setahun naik hampir 4,5 kali lipat . Secara hukum, pemerintah masih technically safe. Indonesia punya aturan defisit maksimal 3% dari PDB dalam setahun. Posisi sekarang sekitar 0,5% PDB . Jadi kalau lihat angka mentahnya saja, masih kelihatan aman. Namun, fiskal negara itu bukan soal snapshot satu bulan. Yang dilihat selalu momentum . Dan momentum awal tahun ini jelas: belanja naik cepat, ruang fiskal mulai kepakai lebih awal . Sekarang masuk variabel kedua yang bikin situasinya jadi lebih tricky: harga minyak dunia . APBN disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sekitar $70 per barel . Semua hitungan subsidi energi basically berdiri di angka ini. Problemnya, situasi geopolitik lagi messy. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak bergerak jauh di atas asumsi itu. Banyak proyeksi sekarang menaruhnya di sekitar $90–$92 . Kalau ini bertahan, APBN l...