Honestly ya, at this point, kalau Presiden Prabowo bilang “kekuatan asing” sekali lagi, itu udah bukan narasi politik, itu catchphrase . Kayak: “Ulah kekuatan asing.” “Antek-antek asing.” “Bangsa-bangsa asing, kekuatan-kekuatan asing.” Which is… okay Pak, we get it. Tapi pertanyaannya: asing yang mana dan salah kita di mana? So basically, setiap kali ada problem, ekonomi nggak make sense, kritik makin rame, publik makin questioning, jawabannya selalu sama. Bukan evaluasi kebijakan. Bukan minta maaf. Tapi: “ini ulah kekuatan asing.” Red flag? Honestly, yes. Now plot thickens. Setelah berkali-kali Presiden ngomong soal “kekuatan asing yang mengusik kedaulatan”, tiba-tiba muncul naskah akademik RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing . Timing-nya? Suspicious banget. Kayak abis debat terus langsung bikin aturan biar debatnya nggak kejadian lagi. Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, bilang ini memang atas permintaan Presiden. Tapi tenang, katanya Presiden c...
Masuk 2026 harusnya hidup menjadi glow up. New year, new me, new money. Tapi rupiah literally bangun pagi terus bilang, “Bestie, I’m tired.” Tanggal 20 Januari 2026 , kurs nyentuh Rp16.988 per dolar AS . Rekor terlemah sepanjang sejarah. Not “salah satu yang terlemah”. Yang paling lemah. Ever. Dan jangan mulai dengan, “Ini karena global” . Because plot twist-nya, dolar AS lagi melemah secara global . So, kalau rupiah tetap jatuh? Yes bestie, this is a local issue . Sepanjang 2025, rupiah udah turun 3,5% dan jadi runner-up paling ambyar di Asia . Di situ harusnya negara udah pasang alarm. Tapi vibes-nya lebih ke, “Tenang, nanti juga stabil sendiri.” Problem-nya, negara belanja kayak lagi healing phase: impulsif, emosional, dan nggak ngecek rekening. Defisit anggaran 2025 tembus Rp697,1 triliun . Hampir 3% PDB . Terlebar dalam 20 tahun kalau pandemi kita skip. Pemasukan seret. Pajak nggak nyampe target. Tapi belanja? Gas terus. Program jumbo tetap masih jalan, sa...