Per Februari, defisit APBN sudah Rp135,7 triliun . Tahun lalu di periode yang sama cuma sekitar Rp30 triliun . Artinya dalam setahun naik hampir 4,5 kali lipat . Secara hukum, pemerintah masih technically safe. Indonesia punya aturan defisit maksimal 3% dari PDB dalam setahun. Posisi sekarang sekitar 0,5% PDB . Jadi kalau lihat angka mentahnya saja, masih kelihatan aman. Namun, fiskal negara itu bukan soal snapshot satu bulan. Yang dilihat selalu momentum . Dan momentum awal tahun ini jelas: belanja naik cepat, ruang fiskal mulai kepakai lebih awal . Sekarang masuk variabel kedua yang bikin situasinya jadi lebih tricky: harga minyak dunia . APBN disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sekitar $70 per barel . Semua hitungan subsidi energi basically berdiri di angka ini. Problemnya, situasi geopolitik lagi messy. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak bergerak jauh di atas asumsi itu. Banyak proyeksi sekarang menaruhnya di sekitar $90–$92 . Kalau ini bertahan, APBN l...
Beberapa tahun terakhir pemerintah punya satu storyline besar yang terus diputar: hilirisasi nikel . Narasinya keren. Indonesia berhenti jadi penjual bahan mentah, mulai naik kelas, bangun smelter, masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dari tambang di Sulawesi sampai mobil listrik yang nanti dipakai orang di Los Angeles atau Berlin. Kalau didengar sekilas, ini terdengar seperti plot film ekonomi yang perfect. Dunia lagi sibuk ngomongin transisi energi. Negara-negara berlomba meninggalkan bahan bakar fosil. Mobil listrik diposisikan sebagai masa depan transportasi. Dan Indonesia, yang kebetulan duduk di atas cadangan nikel besar, tiba-tiba punya tiket masuk ke permainan global itu. Sounds like a jackpot. Tapi seperti banyak cerita industrial policy, bagian yang terlihat di panggung biasanya bukan seluruh cerita. Karena di balik semua talk tentang baterai, EV, dan green economy, ada satu bahan kimia yang hampir tidak pernah muncul di diskusi publik: sulfur . ...