Ramadan itu idealnya momen buat nahan diri. Nahan lapar, nahan haus, nahan emosi, nahan buat nggak ngegas di Twitter. Namun, entah kenapa, tiap kita lagi disuruh menahan , politik di negeri ini justru hobi melepas . Kali ini yang dilepas adalah… tanggung jawab. Jadi ceritanya gini. Beberapa hari lalu, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo , ngomong soal revisi UU KPK tahun 2019. Revisi yang dulu sempat bikin mahasiswa turun ke jalan, dosen ikut demo, dan netizen mendadak ngerti fungsi legislasi lebih dalam dari biasanya. Dan menurut beliau, revisi itu dulu adalah inisiatif DPR . Bahkan beliau sampai bilang: “Jangan keliru ya, itu inisiatif DPR.” Kalimat yang secara emosional setara dengan: “Eh itu bukan ide aku ya waktu kita putus.” Padahal kita semua tahu, bikin undang-undang itu bukan kayak bikin Spotify playlist. Nggak bisa satu pihak tiba-tiba compile lagu, terus besoknya udah rilis di Apple Music. Ada proses. Ada pembahasan. Ada persetujuan. Dan yang paling penting:...
Ada satu hal yang selalu berubah setiap Ramadhan, tapi jarang disadari sampai kita benar-benar keluar rumah menjelang Maghrib. Lingkungan. Jalan yang biasanya sore-sore sepi, yang paling cuma dilewati tukang galon atau anak kecil main sepeda, tiba-tiba berubah jadi jalur lalu lintas manusia dengan tujuan yang hampir sama. Trotoar yang biasanya kosong mendadak penuh. Bahu jalan yang biasanya dipakai parkir motor, sekarang dipakai meja lipat. Dan di atas meja lipat itu, biasanya sudah berjejer: bakwan tahu isi pisang goreng risol tempe mendoan yang baru diangkat dari minyak beberapa menit lalu. Ngabuburit di Indonesia tuh jarang benar-benar tentang jalan santai. Pada praktiknya, itu lebih mirip ritual scouting lokasi takjil. Orang keluar rumah dengan niat awal cuma mau “lihat-lihat dulu”, tapi langkahnya pelan-pelan melambat begitu mulai tercium aroma tepung yang lagi ketemu minyak panas. Yang menarik, Ramadhan bukan cuma bikin orang lapar. Ramadhan juga bikin orang berani am...