Foto dua orang yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus tiba-tiba viral di TikTok. View-nya tembus 22 juta. Like lebih dari satu juta. Narasinya simpel, bahkan sedikit provokatif: satu Indonesia sedang mencari dua pelaku, dan wajah mereka sudah kelihatan jelas. At that point, internet langsung melakukan apa yang internet selalu lakukan: investigasi sendiri. Ada yang langsung percaya. Ada juga yang langsung skeptis. Komentarnya predictable. “Kalau udah se-HD ini kok belum ketangkap?” Di sisi lain, muncul juga kubu yang bilang foto itu jelas AI. Terlalu jernih. Terlalu detail. Terlalu “perfect” dibanding rekaman CCTV Indonesia yang biasanya lebih dekat ke kualitas 144p daripada 1080p. Perdebatan ini sebenarnya bukan soal foto semata. Ini soal sesuatu yang lebih fundamental: di era AI, publik makin sulit membedakan mana bukti visual yang autentik dan mana yang sudah dimodifikasi. Dan kasus ini jadi contoh textbook. Polisi kemudian memberikan klar...
Kamis malam, 12 Maret 2026. Sekitar pukul 23.37 WIB. Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Andrie Yunus sedang mengendarai motor setelah pulang dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia . Beberapa menit sebelumnya, dia baru saja selesai rekaman podcast dengan tema yang clearly not exactly comfortable for certain people: “Remiliterisme dan Judicial Review UU TNI.” Lalu datang dua orang dengan motor matic dari arah berlawanan. Penumpang di belakang menyiramkan cairan kimia ke wajah dan tubuh Andrie. Air keras. Result? Luka bakar serius sekitar 24 persen . Wajah, dada, kedua tangan, dan mata terdampak. Bajunya bahkan sempat meleleh karena zat korosif tersebut. Korban jatuh dari motor dan berteriak kesakitan sampai warga sekitar berdatangan. Pelaku kabur ke arah Salemba Raya. Kalau cerita ini terasa familiar, yes, you're not imagining things. Karena Indonesia sudah pernah melihat film yang sama sebelumnya. Deja Vu: Publik Langsung Ingat Kasus Novel Begitu berita ini mun...