Skip to main content

Posts

Transisi Energi, Tapi Logistiknya Masih Nongkrong di Dunia Minyak

  Beberapa tahun terakhir pemerintah punya satu storyline besar yang terus diputar: hilirisasi nikel . Narasinya keren. Indonesia berhenti jadi penjual bahan mentah, mulai naik kelas, bangun smelter, masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dari tambang di Sulawesi sampai mobil listrik yang nanti dipakai orang di Los Angeles atau Berlin. Kalau didengar sekilas, ini terdengar seperti plot film ekonomi yang perfect. Dunia lagi sibuk ngomongin transisi energi. Negara-negara berlomba meninggalkan bahan bakar fosil. Mobil listrik diposisikan sebagai masa depan transportasi. Dan Indonesia, yang kebetulan duduk di atas cadangan nikel besar, tiba-tiba punya tiket masuk ke permainan global itu. Sounds like a jackpot. Tapi seperti banyak cerita industrial policy, bagian yang terlihat di panggung biasanya bukan seluruh cerita. Karena di balik semua talk tentang baterai, EV, dan green economy, ada satu bahan kimia yang hampir tidak pernah muncul di diskusi publik: sulfur . ...
Recent posts

Bahlil Bilang Cadangan Minyak Aman 20 Hari. Okay… Terus Habis Itu?

  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang cadangan minyak Indonesia aman. Aman sampai 20 hari . Kalau kamu dengar kalimat itu sekilas, kedengarannya menenangkan. Kayak, ya udah, masih ada buffer. Hidup masih jalan. SPBU masih buka. Mobil masih bisa jalan. No big deal. Tapi kalau dipikir sedikit lebih lama… 20 hari itu sebenarnya sebentar banget . Apalagi kalau kita ingat satu hal kecil yang sering terlupakan, Indonesia sekarang itu negara pengimpor minyak . Kebutuhan minyak kita sekitar satu juta barel per hari, dan sebagian besar harus datang dari luar negeri. Jadi sistem energi kita basically bergantung pada satu hal yang sangat simpel, kapal tanker terus datang, minyak terus mengalir. Selama rantai itu lancar, semuanya kelihatan normal. Tapi kalau ada gangguan di jalurnya, situasinya bisa cepat berubah. Dan kebetulan, dunia lagi ngomongin satu jalur yang sangat sensitif, Selat Hormuz . Sekitar 20% perdagangan minyak dunia lewat situ . Kalau jalur itu sampai terganggu, apalag...

Ketika Dunia Dipimpin Aki-Aki Baperan

Katanya si Terompah lagi ngambek karena Spanyol allegedly nggak kasih wilayahnya dipakai buat kepentingan serangan ke Iran. Dramanya sih belum tentu se-epik timeline Twitter, tapi vibe-nya kebaca: geopolitik sekarang makin terasa kayak group chat keluarga yang admin-nya sudah sepuh semua dan sensiannya minta ampun. Well. Kalau kamu zoom out sedikit dan lihat panggung dunia hari ini, line-up-nya memang senior-senior semua. Raja Salman sudah 90. Mahmoud Abbas juga 90. Khamenei 86. Terompah 79. Anwar Ibrahim 78. Raja Charles 77. Netanyahu 76. Modi 75. Prabowo dan Shehbaz Sharif 74. Putin 73. Xi Jinping dan Erdogan 72. Al-Sisi 71. Ini bukan daftar tamu resepsi emas pernikahan. Ini adalah orang-orang yang literally menentukan arah perang, ekonomi global, sampai harga beras di dapur kamu. Dan saya nggak sedang age-shaming. Pengalaman itu valuable. Wisdom itu mahal. Tapi ada satu pertanyaan yang uncomfortable namun perlu diajukan: ketika usia sudah di ujung karier, bahkan di ujung hidup, ...

Anak di Bawah 16 Mau Diblokir dari Medsos. Kedengarannya Baik. Sampai Kamu Tahu Realitanya.

  Pemerintah Indonesia lagi punya ide baru: anak di bawah 16 tahun mau dibatasi aksesnya ke media sosial. Nggak setengah-setengah, platform seperti Instagram , TikTok , YouTube , sampai Roblox nantinya diwajibkan menerapkan verifikasi usia. Kalau akun pengguna terdeteksi milik anak di bawah 16 tahun, aksesnya bisa dibatasi. Bahkan ada rencana menonaktifkan akun-akun tersebut mulai 28 Maret 2026 . Alasannya? Perlindungan anak. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid , mengatakan ancaman di ruang digital makin nyata. “Anak-anak kita menghadapi ancaman yang semakin nyata.” Kalimat ini sulit dibantah. Internet hari ini memang bukan playground yang polos lagi. Ada cyberbullying, konten ekstrem, predator online, sampai algoritma yang bikin anak scroll tanpa henti. So yes, niatnya kedengarannya sangat baik. Namun, masalahnya adalah,  kebijakan digital biasanya cuma keren di niat, dan selalu gagal di implementasi.  Rencana pembatasan ini akan diatur lewat Peraturan Menter...

“Orang Kami Ada di Sekitarmu” — Thriller Geopolitik atau Script AI yang Kebablasan?

  Timeline lagi rame. Ada satu postingan yang views-nya udah tembus jutaan. Narasinya dramatis banget. Katanya ada Mayor Jenderal Israel bernama Jacoob Ariel Ashaabi, Komandan Umum Batalyon Infiltrasi Serangan Senyap Global, yang ngasih warning ke Indonesia: jangan ikut campur urusan mereka dengan Iran. Kalau nekat, “kami bisa menghentikan jantung ibukota Anda.” Excuse me? Kalimatnya tuh berasa kayak villain monolog sebelum final battle. Kurang background music aja. Masalahnya gini. Begitu kamu coba sedikit aja switch dari mode panik ke mode mikir, ceritanya langsung goyah. Nama jenderalnya terdengar meyakinkan. Ada Ariel, ada vibe Timur Tengah, ada pangkat tinggi. Sounds legit. Tapi pas ditelusuri ke struktur resmi Israel Defense Forces , gak ada unit bernama “Batalyon Infiltrasi Serangan Senyap Global”. Let’s be real. Militer itu naming convention-nya kaku. Mereka gak pakai nama yang kedengarannya kayak judul webtoon conspiracy edition. Kalau ada unit resmi, pasti ada arsipnya. A...

Timur Tengah Lagi Mau “Rebranding”?

  Ada satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan netizen + analis wannabe kalau ngomongin Timur Tengah. Mereka ngira konflik di sana itu kayak film Marvel. Ada villain, ada hero, terus kalau villain-nya kalah… ya berarti happy ending dong? No. That’s not how geopolitics works, dude. Di dunia nyata, kadang villain kamu itu literally adalah satu-satunya alasan kenapa villain lain belum takeover seluruh map. Beberapa waktu terakhir, kawasan lagi panas banget setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran . Bukan cuma “warning shot”, ini literally udah masuk fase,  “Let’s see if regime change is possible”. Iran is about to get a full political makeover—forced edition. Masalahnya Gini… Selama ini Timur Tengah itu ibarat group chat yang toxic tapi somehow masih balance. Di satu sisi ada Israel, yang semua orang tahu punya nuklir walaupun gak pernah bilang secara resmi ( strategic ambiguity is such a mood ). Di sisi lain ada Iran, ya...

Selat Hormuz Ditutup: Perang di Timur Tengah, Kenapa Dompet Kita yang Deg-Degan?

  Beberapa hari lalu, setelah rudal dari Israel nyasar ke target-target di Iran , respons Tehran tuh nggak langsung dalam bentuk “balas rudal now-now juga” . Mereka justru pull a move yang jauh lebih strategic, and honestly, jauh lebih nyusahin buat seluruh dunia: Selat Hormuz ditutup. At least, secara operasional dibikin too risky to pass . Dan di geopolitik energi, kamu nggak harus literally pasang gembok buat bikin jalur laut berhenti fungsi. Cukup bikin shipping company mikir,  “Is this route still worth the risk?”  Karena once risiko naik,  entah itu ancaman rudal, drone, ranjau laut, atau sekadar radio warning dari IRGC, premi asuransi kapal langsung spike. Dan begitu war-risk insurance naik, banyak tanker bakal choose untuk delay, reroute, atau straight up nunggu situasi agak chill dulu. Masalahnya, Selat Hormuz itu bukan jalur random yang bisa diganti kayak kamu ganti rute Google Maps karena macet di Kuningan. Sekitar 20% minyak dunia yang diperdagangka...