Ada momen aneh yang sekarang makin sering kejadian: orang berhenti di tempat berbahaya… cuma buat foto. Dan makin aneh lagi kalau yang melakukan itu bukan orang random, tapi rombongan pejabat. Kasus yang lagi ramai, rombongan yang diduga dari PT Pupuk Sriwidjaja Palembang , sebenarnya simpel. Mereka berhenti di tikungan tajam di jalur Sumatera Barat, turun dari mobil, lalu foto-foto. Tidak ada konteks heroik. Enggak ada urgensi. Cuma… berhenti dan ambil gambar. Yang bikin ini jadi problem bukan karena “pejabat kok foto-foto”. Itu mah semua orang juga lakukan. Yang jadi masalah itu lokasinya. Tikungan tajam, visibilitas terbatas, jalur aktif. Tempat di mana orang lain berharap semua kendaraan tetap jalan normal, bukan tiba-tiba ada yang parkir dadakan. Dan di situ mulai terasa ada disconnect. Seolah-olah ada dua realitas berjalan paralel. Di satu sisi, jalan itu ruang bersama, semua orang punya ekspektasi yang sama soal perilaku dasar: jangan berhenti sembarangan, jangan bikin bli...
Narasi “peran aktif Indonesia dalam perdamaian dunia” adalah sebuah narasi lama yang nyaman, tapi makin sulit dipertahankan tanpa terlihat… selective. Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan. Bukan dalam konteks perang terbuka Indonesia, tapi saat menjalankan mandat perdamaian. Secara teknis, ini bagian dari kontribusi global. Secara politis, ini mulai terasa seperti posisi yang ambigu, bahkan kontradiktif. Indonesia selama ini cukup konsisten: pro-Palestina, anti-agresi, dan selalu positioning diri sebagai negara yang berdiri di sisi hukum internasional. Namun, sekarang muncul satu pertanyaan yang uncomfortable, kalau dua aktor utama dalam Board of Peace justru adalah pihak yang dianggap agresor oleh sebagian besar publik Indonesia, sebenarnya Indonesia sedang duduk di meja yang mana? Ini bukan soal moral outrage semata. Ini soal coherence. Karena begini, kamu tidak bisa secara konsisten mengecam tindakan militer Israel di satu forum, lalu di saat yang sama tetap berada ...