Skip to main content

Posts

Timur Tengah Lagi Mau “Rebranding”?

  Ada satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan netizen + analis wannabe kalau ngomongin Timur Tengah. Mereka ngira konflik di sana itu kayak film Marvel. Ada villain, ada hero, terus kalau villain-nya kalah… ya berarti happy ending dong? No. That’s not how geopolitics works, dude. Di dunia nyata, kadang villain kamu itu literally adalah satu-satunya alasan kenapa villain lain belum takeover seluruh map. Beberapa waktu terakhir, kawasan lagi panas banget setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran . Bukan cuma “warning shot”, ini literally udah masuk fase,  “Let’s see if regime change is possible”. Iran is about to get a full political makeover—forced edition. Masalahnya Gini… Selama ini Timur Tengah itu ibarat group chat yang toxic tapi somehow masih balance. Di satu sisi ada Israel, yang semua orang tahu punya nuklir walaupun gak pernah bilang secara resmi ( strategic ambiguity is such a mood ). Di sisi lain ada Iran, ya...
Recent posts

Selat Hormuz Ditutup: Perang di Timur Tengah, Kenapa Dompet Kita yang Deg-Degan?

  Beberapa hari lalu, setelah rudal dari Israel nyasar ke target-target di Iran , respons Tehran tuh nggak langsung dalam bentuk “balas rudal now-now juga” . Mereka justru pull a move yang jauh lebih strategic, and honestly, jauh lebih nyusahin buat seluruh dunia: Selat Hormuz ditutup. At least, secara operasional dibikin too risky to pass . Dan di geopolitik energi, kamu nggak harus literally pasang gembok buat bikin jalur laut berhenti fungsi. Cukup bikin shipping company mikir,  “Is this route still worth the risk?”  Karena once risiko naik,  entah itu ancaman rudal, drone, ranjau laut, atau sekadar radio warning dari IRGC, premi asuransi kapal langsung spike. Dan begitu war-risk insurance naik, banyak tanker bakal choose untuk delay, reroute, atau straight up nunggu situasi agak chill dulu. Masalahnya, Selat Hormuz itu bukan jalur random yang bisa diganti kayak kamu ganti rute Google Maps karena macet di Kuningan. Sekitar 20% minyak dunia yang diperdagangka...

Catatan Kematian Warga Sipil di Tangan Aparat: When “We’re Just Doing Our Job” Doesn’t Make Sense Anymore

  Februari tuh biasanya identik sama hal-hal yang soft. Orang ribut soal Valentine, cokelat diskon, atau debat receh “love language lo apa sih?” Timeline harusnya pink, bukan penuh kabar duka. Namun, di Februari ini, yang lewat di feed justru berita seorang remaja di Tual, Maluku, meninggal dunia setelah dipukul helm taktis oleh oknum aparat dalam operasi pembubaran konvoi motor. Dan yang bikin uneasy itu bukan cuma karena ada yang meninggal. Namun, karena rasanya kita pernah nonton episode ini sebelumnya. Different city. Different name. Same ending. And honestly? Itu bukan plot twist. Itu pattern. Kasus terbaru ini soal AT. Seorang remaja yang, kata keluarga dan saksi,  literally bukan bagian dari konvoi motor yang lagi dibubarin. Dia bukan peserta. Nggak ikut-ikutan. Nggak lagi revving mesin sambil cosplay Fast & Furious. He was just… there. Namun, dalam operasi pembubaran, AT kena pukul helm taktis milik oknum Brimob sampai akhirnya meninggal dunia. Versi aparat? Ko...

Kuota Internet Hangus Tanpa Sadar: Uang Rakyat yang Diam-Diam “Auto-Checkout”?

Pernah gak sih kamu beli air galon… minum setengah… terus pas tanggal tertentu, sisa airnya tiba-tiba disedot balik sama tukang galonnya? Bukan karena basi, rusak. Tapi karena: “Masa aktif minumnya sudah habis.” Aneh, kan? Namun, itu persis yang setiap bulan kejadian sama kuota internet kita. Kamu beli 25GB. Niatnya buat kerja, Zoom call, kirim e-mail, buka spreadsheet, sesekali nonton Netflix biar tetap waras (karena terapi mahal). Terus hidup berjalan seperti biasa. Deadline lewat, meeting lewat, weekend lewat tanpa sempat healing. Tiba-tiba dapat SMS: “Masa aktif paket Anda telah berakhir.” Dan sisa kuota kamu? Auto-vanish. Soft deleted by the system. Padahal… kamu sudah bayar full price. Bukan trial, freemium atau free sample di supermarket. Internet sekarang itu bukan lifestyle lagi. Ini bukan luxury item yang cuma dipakai buat scrolling timeline tengah malam sambil overthinking. Ini sudah jadi kebutuhan basic. Buat kerja? Internet. Sekolah? Internet. Jualan? Inte...

Tarif Trump Dibatalkan, Deal Indonesia–AS Jadi Plot Twist? 🤨📦

  Jadi gini. Di saat Indonesia lagi ngerasa, “Oke, finally… this is it. Deal dagang sama Amerika Serikat udah di tangan. Ekspor bisa gaspol,” tiba-tiba dari Washington DC muncul kabar yang vibes-nya kurang lebih kayak: “Eh, btw… kebijakan tarif global-nya Donald Trump dibatalin sama Mahkamah Agung Amerika Serikat ya.” Loh? Bukannya itu tarif yang kemarin jadi salah satu basis negosiasi dagang antara Indonesia dan AS? Bukannya itu yang bikin produk Indonesia, dari sawit sampai kopi, bisa masuk ke pasar AS dengan napas agak lega, karena tarifnya katanya mau diturunin dari 32% ke sekitar 19%? Ya… selamat datang di geopolitik. Tempat di mana MoU bisa berubah jadi FYI dalam semalam. Tarif Itu Apaan Sih? Kenapa Semua Tiba-Tiba Panik? Simplenya gini. Tarif itu pajak yang dikenakan pemerintah AS ke barang impor. Jadi kalau Indonesia ekspor produk ke sana, entah itu minyak sawit, kopi Gayo, kakao Sulawesi, sampai pala dan cengkeh, tarif ini bakal nentuin: ➡️ Produk kita masuk...

Revisi di 2019, Setuju Dibalikin di 2026: Ini Klarifikasi atau Redemption Arc?

  Ramadan itu idealnya momen buat nahan diri. Nahan lapar, nahan haus, nahan emosi, nahan buat nggak ngegas di Twitter. Namun, entah kenapa, tiap kita lagi disuruh menahan , politik di negeri ini justru hobi melepas . Kali ini yang dilepas adalah… tanggung jawab. Jadi ceritanya gini. Beberapa hari lalu, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo , ngomong soal revisi UU KPK tahun 2019. Revisi yang dulu sempat bikin mahasiswa turun ke jalan, dosen ikut demo, dan netizen mendadak ngerti fungsi legislasi lebih dalam dari biasanya. Dan menurut beliau, revisi itu dulu adalah inisiatif DPR . Bahkan beliau sampai bilang: “Jangan keliru ya, itu inisiatif DPR.” Kalimat yang secara emosional setara dengan: “Eh itu bukan ide aku ya waktu kita putus.” Padahal kita semua tahu, bikin undang-undang itu bukan kayak bikin Spotify playlist. Nggak bisa satu pihak tiba-tiba compile lagu, terus besoknya udah rilis di Apple Music. Ada proses. Ada pembahasan. Ada persetujuan. Dan yang paling penting:...

Ngabuburit, Gorengan, dan Ekonomi Minyak Jelantah Musiman

Ada satu hal yang selalu berubah setiap Ramadhan, tapi jarang disadari sampai kita benar-benar keluar rumah menjelang Maghrib. Lingkungan. Jalan yang biasanya sore-sore sepi, yang paling cuma dilewati tukang galon atau anak kecil main sepeda, tiba-tiba berubah jadi jalur lalu lintas manusia dengan tujuan yang hampir sama. Trotoar yang biasanya kosong mendadak penuh. Bahu jalan yang biasanya dipakai parkir motor, sekarang dipakai meja lipat. Dan di atas meja lipat itu, biasanya sudah berjejer: bakwan tahu isi pisang goreng risol tempe mendoan yang baru diangkat dari minyak beberapa menit lalu. Ngabuburit di Indonesia tuh jarang benar-benar tentang jalan santai. Pada praktiknya, itu lebih mirip ritual scouting lokasi takjil. Orang keluar rumah dengan niat awal cuma mau “lihat-lihat dulu”, tapi langkahnya pelan-pelan melambat begitu mulai tercium aroma tepung yang lagi ketemu minyak panas. Yang menarik, Ramadhan bukan cuma bikin orang lapar. Ramadhan juga bikin orang berani am...