Ada sesuatu yang extremely funny dari kenyataan bahwa Prabowo Subianto sekarang lebih sering muncul di airport luar negeri daripada di tengah problem domestik negaranya sendiri. And internet, as always, menangkap itu jauh lebih cepat daripada panel diskusi politik di TV. “The Eras Tour ❌” “The Errors Tour ✅✅✅” Saya enggak tahu siapa pertama kali bikin jokes itu. But honestly? Peak Indonesian political satire. Karena memang makin lama, timeline berita tentang Prabowo mulai terasa seperti jadwal konser dunia. Hari ini di Timur Tengah. Besok di Eropa. Minggu depan summit lagi. Habis itu bilateral meeting lagi. Lalu military expo lagi. Foto turun pesawat lagi. Salaman lagi. Gala dinner lagi. Jet lagi. Carpet merah lagi. Dan yang bikin semuanya makin absurd adalah: ini terjadi ketika pemerintah sendiri sibuk preaching soal efisiensi anggaran. Efisiensi. Kata yang sekarang dipakai terus kayak corporate buzzword habis ikut leadership seminar. Pejabat diminta hemat, kurangi seremo...
Indonesia itu negara hukum. Katanya. Kalimat itu diulang terus sejak kita SD sampai rasanya sudah kayak backsound lift kantor pemerintahan. Sangat familiar, sangat formal, dan sangat enggak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Karena makin ke sini, publik malah merasa Indonesia punya genre hukum sendiri. Semacam cinematic universe yang isinya bukan cuma polisi, jaksa, dan pengadilan, tapi juga: ormas, backing, massa, kedekatan politik, dan aura “kami kenal orang pusat”. Which is honestly very exhausting. Belakangan publik lagi ramai ngomongin satu organisasi masyarakat yang logonya lebih sering muncul daripada logo program bantuan sosial. Namanya enggak usah disebut lah ya. Nanti juga pembaca langsung kebayang organisasi mana yang kalau masuk berita selalu vibes-nya antara “pengamanan” dan “situasi memanas”. Yang bikin disturbing bukan sekadar mereka ramai, karena Indonesia sudah terlalu terbiasa dengan ormas performative masculinity yang hobinya berdiri ramai-ramai sambil p...