Kenap semakin serius masalah ekonominya, malah semakin santai kalimat yang keluar dari mulut pejabat di republik ini? Rupiah melemah? “Tenang.” Dollar naik? “Fundamental kuat.” Pasar mulai panik? “Rakyat desa juga nggak pakai dollar kok.” Jujuuuur, kalimat terakhir itu sounds familiar banget. Bukan karena netizen Indonesia kreatif bikin meme. Namun, karena secara historical, pola kalimat seperti ini juga muncul di negara lain yang sedang mengalami krisis kepercayaan ekonomi. Salah satu contohnya di Zimbabwe era Robert Mugabe. Kalau diperhatikan, narasinya literally sama vibes-nya. Mugabe dulu juga berkali-kali meremehkan pelemahan mata uang Zimbabwe dengan logika sederhana: rakyat kecil enggak hidup memakai dollar AS, jadi mereka supposedly enggak perlu khawatir. Kelihatannya masuk akal. Masalahnya, ekonomi modern bukan grup WhatsApp RT yang hidup terisolasi dari dunia luar. Dari situ problemnya mulai kelihatan. Orang Desa Memang Enggak Pegang Dollar. Namun, Harga Hidup Mereka Te...
Ada momen lucu di Indonesia yang terus berulang sampai saya curiga ini bukan masalah oknum lagi, tapi already jadi operating system nasional. Ketika ada kesalahan, fokus utamanya bukan mencari apakah memang salah, tapi mencari cara supaya yang salah tetap terlihat paling benar. Dan anehnya, pola beginian muncul di mana-mana. Dari ruang rapat kementerian sampai lomba anak sekolah. Scale-nya beda. Mentalitasnya sama. Kasus LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026 kemarin misalnya. Orang-orang sibuk debat soal minus lima, soal siapa benar siapa salah, soal video viral, soal keputusan juri. Namun, semakin saya lihat, semakin terasa kalau isu sebenarnya bukan itu. Yang menarik justru reaksi setelah dikritik. Karena di Indonesia, kritik sering dianggap bukan sebagai proses koreksi, tapi sebagai ancaman harga diri. Makanya begitu ada yang mempertanyakan keputusan, respons pertama kita hampir selalu defensif. Bukan, “coba kita cek lagi” tapi, “siapa kamu berani mempertanyakan?” Very +62 ...