Skip to main content

Posts

Ucapan Maaf yang Semu di Hari yang Fitri

  Setiap Lebaran ada satu ritual yang selalu muncul: saling meminta maaf. Kalimatnya juga hampir selalu sama. “Mohon maaf lahir dan batin.” Diucapkan saat sungkeman, saat salaman setelah salat Ied, di grup WhatsApp keluarga, bahkan di broadcast message yang jelas-jelas copy–paste. The phrase travels everywhere. From living rooms to timelines. Masalahnya bukan di kalimatnya. Masalahnya di maknanya. Karena kalau kita jujur sedikit saja, sebagian besar ucapan maaf saat Lebaran itu tidak pernah benar-benar menyentuh masalah yang sebenarnya ada di antara orang-orang yang saling mengucapkannya. It’s more like a social script. Semacam template tahunan yang harus dijalankan supaya suasana Lebaran terasa lengkap. Kalau tidak ada sesi saling memaafkan, rasanya ada yang kurang. Tidak afdhol. Jadi ritual itu tetap dijalankan. Orang salaman. Orang sungkeman. Orang mengucapkan maaf. Lalu selesai. The problem is: konflik yang ada sebelumnya tidak ikut selesai. Orang yang sebelumnya salin...
Recent posts

Lebaran, Opor, dan Negara yang Tidak Pernah Sepakat Soal Besok

  Setiap tahun kita akan disuguhi drama ini. Padahal ini bukan kejadian langka, ini annual episode yang literally bisa dijadwalkan. Bedanya cuma tanggalnya doang, konfliknya sama: “jadi besok lebaran nggak?” Di satu sisi ada Muhammadiyah, very confident, very calculated, vibes-nya kayak orang yang sudah booking tiket dari 3 bulan lalu. Hisab, angka, data, selesai. Mereka sudah sampai tahap, “see you di 1 Syawal hari Jumat ya guys,” sementara yang lain masih, “hmm kita lihat nanti.” Di sisi lain ada Pemerintah dan NU, yang approach-nya lebih… situasional. Rukyat, observasi, nunggu hilal muncul kayak nunggu chat dibalas. Bisa cepat, bisa lama, bisa juga nggak muncul sama sekali. Jadi ya, keputusan diambil last minute lewat sidang isbat yang somehow selalu terasa kayak season finale. Dan di antara dua kubu yang very intellectually sound ini, ada kelompok yang paling tidak siap secara emosional: ibu-ibu yang pegang santan. Ini serius. Karena semua teori falak runtuh di depan satu perta...

Video “Lempar Cadar” di Masjid Itu: Feels Powerful, Tapi Datanya… Kosong

  Beredar di media sosial, video tentang jamaah perempuan di Masjid Fatih yang melemparkan cadar ke arah jamaah laki-laki di bawahnya. Narasinya langsung intense: ini bentuk protes karena Masjid Al-Aqsa “ditutup”, lalu dibungkus dengan pesan yang quite aggressive, soal kehormatan laki-laki, tanggung jawab, dan semacam moral pressure yang hard to ignore. At first glance, it works. Dramatic, symbolic, emotionally loaded. Very shareable. Namun, begitu dicoba dipikir sedikit, baru mulai terasa ada yang off. Karena anehnya, tidak ada satu pun media kredibel yang cover. No Turkish media, no international coverage, nothing. Padahal ini bukan kejadian kecil. Ini masjid besar, public space, Ramadan, dan aksinya cukup confrontational. Kalau ini real, it should be everywhere. Tapi kenyataannya? Cuma muter di sosmed, dari satu akun ke akun lain, dengan caption yang… suspiciously mirip semua. It’s giving template, bukan reporting. Terus videonya sendiri juga agak too perfect. Aksinya kol...

Ketika Foto Pelaku Viral, Tapi Kita Tidak Lagi Tahu Mana yang Nyata

  Foto dua orang yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus tiba-tiba viral di TikTok. View-nya tembus 22 juta. Like lebih dari satu juta. Narasinya simpel, bahkan sedikit provokatif: satu Indonesia sedang mencari dua pelaku, dan wajah mereka sudah kelihatan jelas. At that point, internet langsung melakukan apa yang internet selalu lakukan: investigasi sendiri. Ada yang langsung percaya. Ada juga yang langsung skeptis. Komentarnya predictable. “Kalau udah se-HD ini kok belum ketangkap?” Di sisi lain, muncul juga kubu yang bilang foto itu jelas AI. Terlalu jernih. Terlalu detail. Terlalu “perfect” dibanding rekaman CCTV Indonesia yang biasanya lebih dekat ke kualitas 144p daripada 1080p. Perdebatan ini sebenarnya bukan soal foto semata. Ini soal sesuatu yang lebih fundamental: di era AI, publik makin sulit membedakan mana bukti visual yang autentik dan mana yang sudah dimodifikasi. Dan kasus ini jadi contoh textbook. Polisi kemudian memberikan klar...

Teror Lama dengan Metode Lama: Kasus Andrie Yunus dan Pesan yang Ingin Dikirim

  Kamis malam, 12 Maret 2026. Sekitar pukul 23.37 WIB. Jalan Salemba I, Jakarta Pusat. Andrie Yunus sedang mengendarai motor setelah pulang dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia . Beberapa menit sebelumnya, dia baru saja selesai rekaman podcast dengan tema yang clearly not exactly comfortable for certain people: “Remiliterisme dan Judicial Review UU TNI.” Lalu datang dua orang dengan motor matic dari arah berlawanan. Penumpang di belakang menyiramkan cairan kimia ke wajah dan tubuh Andrie. Air keras. Result? Luka bakar serius sekitar 24 persen . Wajah, dada, kedua tangan, dan mata terdampak. Bajunya bahkan sempat meleleh karena zat korosif tersebut. Korban jatuh dari motor dan berteriak kesakitan sampai warga sekitar berdatangan. Pelaku kabur ke arah Salemba Raya. Kalau cerita ini terasa familiar, yes, you're not imagining things. Karena Indonesia sudah pernah melihat film yang sama sebelumnya. Deja Vu: Publik Langsung Ingat Kasus Novel Begitu berita ini mun...

APBN Lagi Tipis. Harga Minyak Memutuskan Ikut Naik

Per Februari, defisit APBN sudah Rp135,7 triliun . Tahun lalu di periode yang sama cuma sekitar Rp30 triliun . Artinya dalam setahun naik hampir 4,5 kali lipat . Secara hukum, pemerintah masih technically safe. Indonesia punya aturan defisit maksimal 3% dari PDB dalam setahun. Posisi sekarang sekitar 0,5% PDB . Jadi kalau lihat angka mentahnya saja, masih kelihatan aman. Namun, fiskal negara itu bukan soal snapshot satu bulan. Yang dilihat selalu momentum . Dan momentum awal tahun ini jelas: belanja naik cepat, ruang fiskal mulai kepakai lebih awal . Sekarang masuk variabel kedua yang bikin situasinya jadi lebih tricky: harga minyak dunia . APBN disusun dengan asumsi harga minyak Indonesia (ICP) sekitar $70 per barel . Semua hitungan subsidi energi basically berdiri di angka ini. Problemnya, situasi geopolitik lagi messy. Konflik di Timur Tengah bikin harga minyak bergerak jauh di atas asumsi itu. Banyak proyeksi sekarang menaruhnya di sekitar $90–$92 . Kalau ini bertahan, APBN l...

Transisi Energi, Tapi Logistiknya Masih Nongkrong di Dunia Minyak

  Beberapa tahun terakhir pemerintah punya satu storyline besar yang terus diputar: hilirisasi nikel . Narasinya keren. Indonesia berhenti jadi penjual bahan mentah, mulai naik kelas, bangun smelter, masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia. Dari tambang di Sulawesi sampai mobil listrik yang nanti dipakai orang di Los Angeles atau Berlin. Kalau didengar sekilas, ini terdengar seperti plot film ekonomi yang perfect. Dunia lagi sibuk ngomongin transisi energi. Negara-negara berlomba meninggalkan bahan bakar fosil. Mobil listrik diposisikan sebagai masa depan transportasi. Dan Indonesia, yang kebetulan duduk di atas cadangan nikel besar, tiba-tiba punya tiket masuk ke permainan global itu. Sounds like a jackpot. Tapi seperti banyak cerita industrial policy, bagian yang terlihat di panggung biasanya bukan seluruh cerita. Karena di balik semua talk tentang baterai, EV, dan green economy, ada satu bahan kimia yang hampir tidak pernah muncul di diskusi publik: sulfur . ...