Februari tuh biasanya identik sama hal-hal yang soft. Orang ribut soal Valentine, cokelat diskon, atau debat receh “love language lo apa sih?” Timeline harusnya pink, bukan penuh kabar duka. Namun, di Februari ini, yang lewat di feed justru berita seorang remaja di Tual, Maluku, meninggal dunia setelah dipukul helm taktis oleh oknum aparat dalam operasi pembubaran konvoi motor. Dan yang bikin uneasy itu bukan cuma karena ada yang meninggal. Namun, karena rasanya kita pernah nonton episode ini sebelumnya. Different city. Different name. Same ending. And honestly? Itu bukan plot twist. Itu pattern. Kasus terbaru ini soal AT. Seorang remaja yang, kata keluarga dan saksi, literally bukan bagian dari konvoi motor yang lagi dibubarin. Dia bukan peserta. Nggak ikut-ikutan. Nggak lagi revving mesin sambil cosplay Fast & Furious. He was just… there. Namun, dalam operasi pembubaran, AT kena pukul helm taktis milik oknum Brimob sampai akhirnya meninggal dunia. Versi aparat? Ko...
Pernah gak sih kamu beli air galon… minum setengah… terus pas tanggal tertentu, sisa airnya tiba-tiba disedot balik sama tukang galonnya? Bukan karena basi, rusak. Tapi karena: “Masa aktif minumnya sudah habis.” Aneh, kan? Namun, itu persis yang setiap bulan kejadian sama kuota internet kita. Kamu beli 25GB. Niatnya buat kerja, Zoom call, kirim e-mail, buka spreadsheet, sesekali nonton Netflix biar tetap waras (karena terapi mahal). Terus hidup berjalan seperti biasa. Deadline lewat, meeting lewat, weekend lewat tanpa sempat healing. Tiba-tiba dapat SMS: “Masa aktif paket Anda telah berakhir.” Dan sisa kuota kamu? Auto-vanish. Soft deleted by the system. Padahal… kamu sudah bayar full price. Bukan trial, freemium atau free sample di supermarket. Internet sekarang itu bukan lifestyle lagi. Ini bukan luxury item yang cuma dipakai buat scrolling timeline tengah malam sambil overthinking. Ini sudah jadi kebutuhan basic. Buat kerja? Internet. Sekolah? Internet. Jualan? Inte...