Skip to main content

Posts

Negara +62 dan Penyakit Paling Kronis: Anti Dikoreksi

  Ada momen lucu di Indonesia yang terus berulang sampai saya curiga ini bukan masalah oknum lagi, tapi already jadi operating system nasional. Ketika ada kesalahan, fokus utamanya bukan mencari apakah memang salah, tapi mencari cara supaya yang salah tetap terlihat paling benar. Dan anehnya, pola beginian muncul di mana-mana. Dari ruang rapat kementerian sampai lomba anak sekolah. Scale-nya beda. Mentalitasnya sama. Kasus LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026 kemarin misalnya. Orang-orang sibuk debat soal minus lima, soal siapa benar siapa salah, soal video viral, soal keputusan juri. Namun, semakin saya lihat, semakin terasa kalau isu sebenarnya bukan itu. Yang menarik justru reaksi setelah dikritik. Karena di Indonesia, kritik sering dianggap bukan sebagai proses koreksi, tapi sebagai ancaman harga diri. Makanya begitu ada yang mempertanyakan keputusan, respons pertama kita hampir selalu defensif. Bukan, “coba kita cek lagi” tapi, “siapa kamu berani mempertanyakan?” Very +62 ...
Recent posts

Cara Baru Mengontrol Media: Bukan Dibredel, Tapi Diajak Kolaborasi

  Dulu pemerintah kalau mau “mengelola” opini publik biasanya mainnya lewat TV, koran, radio, atau minimal konferensi pers yang isinya bapak-bapak ngomong sambil baca kertas A4. Sekarang? Yang ditarik justru homeless media. Yes. Media-media yang lahir dari internet chaos. Media yang formatnya kadang lebih mirip meme account daripada newsroom. Media yang tumbuh bukan karena izin negara, tapi karena algoritma dan attention span publik yang makin pendek. Makanya waktu Badan Komunikasi Pemerintah alias Bakom bilang mereka sudah menjalin “kemitraan” dengan media seperti Narasi , Folkative , Creativox , Indozone , Volix Media , dan puluhan lainnya, reaksinya bukan “wah keren”. Reaksinya malah: “Wait… kemitraan yang mana?” Karena beberapa media yang disebut langsung membantah. Ada yang bilang tidak pernah merasa bermitra. Ada yang mengaku bahkan tidak tahu namanya masuk daftar. Dan tiba-tiba publik menyadari satu hal: Di republik ini, apparently bahkan definisi “partnership” aja bisa mult...

Ketika Kamu Jadi Sponsor Negara

Ada sesuatu yang agak dark comedy tentang hidup di Indonesia. Negara ini suka sekali ngomong soal “kekayaan alam melimpah”. Nikel, batu bara, sawit, migas, bonus demografi, Indonesia emas, hilirisasi, Ai, dan semua jargon ekonomi yang terdengar keren dan sophisticated, yang biasanya diucapkan dengan ekspresi sangat optimistis di ballroom hotel bintang lima. Namun, lucunya… begitu buka APBN, ternyata yang paling banyak membiayai negara bukan tambang, tapi manusia yang tiap pagi ngeluh di commuter line sambil buka mobile banking dan berharap saldonya masih punya harga diri. Iya. Kamu. Kamu yang slip gajinya dipotong. Kamu yang beli kopi kena pajak. Kamu yang belanja online kena pajak. Kamu yang hidupnya already exhausting tapi tetap diwajibkan kontribusi demi “pembangunan nasional”. Dan APBN 2026 basically bilang itu secara terang-terangan. Sekitar 85% target pendapatan negara datang dari perpajakan. Which is honestly lumayan brutal kalau dipikir lama-lama. Karena artinya negara ini sebe...

Ketika Jabatan Strategis Diisi Orang “Bukan Bidangnya”, Kenapa Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan?

  Ada satu kalimat yang belakangan makin sering terdengar di Indonesia: “Ah, background itu enggak penting. Yang penting leadership.” Secara teori? Ya, valid. Memang enggak semua posisi harus diisi orang yang textbook banget. Banyak pemimpin hebat lahir dari lintas disiplin. Orang teknik bisa jago bisnis. Orang militer bisa bagus di birokrasi. Orang non-olahraga bisa sukses memimpin federasi olahraga. Itu bukan hal mustahil. Masalahnya, publik Indonesia sekarang sudah terlalu sering disuruh percaya pada eksperimen, sementara hasil akhirnya malah makin absurd. Dan lucunya, setiap hasilnya jelek, narasinya selalu sama: “Jangan salahkan satu orang.” “Masalahnya kompleks.” “Ada faktor global.” Yang bikin capek bukan penjelasannya, tapi polanya. Karena aneh aja gitu. Kalau hasilnya bagus, jabatan tinggi cepat-cepat dijadikan bahan pencitraan personal. Namun, kalau hasilnya mulai berantakan, tiba-tiba semuanya berubah jadi “kesalahan sistem.” Convenient sekali. Kasus yang paling fresh...

Statement yang Terlalu Rapi, Terlalu Dingin dan Terlalu Cepat Lupa Kalau Ini Tragedi

  Malam itu, 27 April 2026, chaos terjadi di Bekasi Timur. Dua kereta tabrakan. Bukan tabrakan kecil. Ini violent, sampai gerbong KRL ditembus. Ada orang meninggal. Puluhan luka. Ada yang harus mecahin kaca buat keluar. Ada yang kejebak di logam berjam-jam. Dan di tengah semua itu, muncul dua jenis suara. Yang pertama datang dari PT Kereta Api Indonesia . Straightforward. Mereka bilang maaf. Mereka acknowledge kepanikan penumpang. Mereka ngomong soal evakuasi, keselamatan, koordinasi. Basic, yes. Tapi at least, grounded. Yang kedua datang dari Green SM Indonesia . Dan ini yang bikin saya pause sebentar. Karena kalau kamu baca pelan-pelan, statement mereka itu… technically fine. Bahkan bisa dibilang “rapi”. Tapi juga, weirdly empty. “menaruh perhatian penuh…” “mendukung proses investigasi…” “menyampaikan informasi kepada pihak berwenang…” Kalimat-kalimat yang aman. Terlalu aman, malah. Dan di situ masalahnya mulai keliatan. Secara kronologi awal, armada taksi mereka k...

Indonesia Terang Katanya, Tapi Kok Kayak Lampu Disko?

Di sebuah timeline yang penuh dengan overthinking, cicilan, dan harga ayam yang tiba-tiba jadi emotional damage, muncul satu narasi yang diulang-ulang kayak lagu yang diputer di kafe tapi bukan yang enak, lebih ke yang bikin pengen bilang, “ini seriusan?” Dari Prabowo Subianto, kita dengar: “Indonesia gelap? Matanya burem.” “Mau kabur? Kabur aja. Mungkin ke Yaman.” “Buka berita. Kita negara paling aman di dunia.” Kalimat-kalimat ini tuh kalau dibaca sepintas, vibes-nya kayak bapak-bapak di grup WhatsApp yang lagi kesel sama status anak muda. Tapi ini bukan grup WA. Ini realitas politik. Dan yang ngomong bukan random om-om—ini kepala negara. Narasi yang Diulang: Bukan Kebetulan, Ini Strategi Kalau satu kali ngomong, mungkin kita bisa bilang “keceplosan”. Dua kali? “Ya udah lah.” Tapi kalau berkali-kali dengan tone yang sama, ini bukan slip of the tongue. Ini deliberate. Dalam komunikasi politik, pengulangan itu bukan bug. Itu fitur. Kenapa? Karena semakin sering sesuatu diulang, semakin...