Ada satu hal yang selalu berubah setiap Ramadhan, tapi jarang disadari sampai kita benar-benar keluar rumah menjelang Maghrib. Lingkungan. Jalan yang biasanya sore-sore sepi, yang paling cuma dilewati tukang galon atau anak kecil main sepeda, tiba-tiba berubah jadi jalur lalu lintas manusia dengan tujuan yang hampir sama. Trotoar yang biasanya kosong mendadak penuh. Bahu jalan yang biasanya dipakai parkir motor, sekarang dipakai meja lipat. Dan di atas meja lipat itu, biasanya sudah berjejer: bakwan tahu isi pisang goreng risol tempe mendoan yang baru diangkat dari minyak beberapa menit lalu. Ngabuburit di Indonesia tuh jarang benar-benar tentang jalan santai. Pada praktiknya, itu lebih mirip ritual scouting lokasi takjil. Orang keluar rumah dengan niat awal cuma mau “lihat-lihat dulu”, tapi langkahnya pelan-pelan melambat begitu mulai tercium aroma tepung yang lagi ketemu minyak panas. Yang menarik, Ramadhan bukan cuma bikin orang lapar. Ramadhan juga bikin orang berani am...
Di dunia intel tuh ada satu rule yang sebenernya simple banget: Kalau infonya udah dilempar ke publik secara gratis… ya berarti itu bukan barang inti. Itu cuma potongan yang aman. Safe to consume. Safe to outrage. Yang bener-bener bisa bikin kursi kekuasaan goyang? Please. Itu nggak mungkin nongol di HP kita sambil kita scroll sebelum tidur. Kalau filenya bisa kamu download, baca, share ke story sambil bilang “gila sih ini”, itu artinya menurut mereka itu udah nggak dangerous. Dan lucunya, filenya dibikin tebel banget. Ribuan halaman. Nama artis, politisi, sosialita. Kita sibuk ngecek, “Eh dia ada nggak? Eh kok dia nggak ada?” Padahal pertanyaan paling basic cuma satu: Siapa yang actually fund semuanya? Kalau nama yang bayar nggak muncul, ya itu cuma drama panjang. Bukan real accountability. Terus ada yang bilang, “Ini kan udah dibongkar, berarti transparan dong?” No babe. Bisa jadi bukan karena transparan. Tapi karena mereka tau kita nggak bisa ngapa-ngapain juga. Pa...