Skip to main content

Posts

Ngabuburit, Gorengan, dan Ekonomi Minyak Jelantah Musiman

Ada satu hal yang selalu berubah setiap Ramadhan, tapi jarang disadari sampai kita benar-benar keluar rumah menjelang Maghrib. Lingkungan. Jalan yang biasanya sore-sore sepi, yang paling cuma dilewati tukang galon atau anak kecil main sepeda, tiba-tiba berubah jadi jalur lalu lintas manusia dengan tujuan yang hampir sama. Trotoar yang biasanya kosong mendadak penuh. Bahu jalan yang biasanya dipakai parkir motor, sekarang dipakai meja lipat. Dan di atas meja lipat itu, biasanya sudah berjejer: bakwan tahu isi pisang goreng risol tempe mendoan yang baru diangkat dari minyak beberapa menit lalu. Ngabuburit di Indonesia tuh jarang benar-benar tentang jalan santai. Pada praktiknya, itu lebih mirip ritual scouting lokasi takjil. Orang keluar rumah dengan niat awal cuma mau “lihat-lihat dulu”, tapi langkahnya pelan-pelan melambat begitu mulai tercium aroma tepung yang lagi ketemu minyak panas. Yang menarik, Ramadhan bukan cuma bikin orang lapar. Ramadhan juga bikin orang berani am...
Recent posts

Controlled Awakening: Kita Dikasih Spill, Tapi Tetep Nggak Bisa Nge-Do Anything

  Di dunia intel tuh ada satu rule yang sebenernya simple banget: Kalau infonya udah dilempar ke publik secara gratis… ya berarti itu bukan barang inti. Itu cuma potongan yang aman. Safe to consume. Safe to outrage. Yang bener-bener bisa bikin kursi kekuasaan goyang? Please. Itu nggak mungkin nongol di HP kita sambil kita scroll sebelum tidur. Kalau filenya bisa kamu download, baca, share ke story sambil bilang “gila sih ini”, itu artinya menurut mereka itu udah nggak dangerous. Dan lucunya, filenya dibikin tebel banget. Ribuan halaman. Nama artis, politisi, sosialita. Kita sibuk ngecek, “Eh dia ada nggak? Eh kok dia nggak ada?” Padahal pertanyaan paling basic cuma satu: Siapa yang actually fund semuanya? Kalau nama yang bayar nggak muncul, ya itu cuma drama panjang. Bukan real accountability. Terus ada yang bilang, “Ini kan udah dibongkar, berarti transparan dong?” No babe. Bisa jadi bukan karena transparan. Tapi karena mereka tau kita nggak bisa ngapa-ngapain juga. Pa...

Traveloka: Karya Anak Bangsa yang Pelan-Pelan Ditinggalkan

  Dulu tuh ya… Traveloka bukan cuma sekadar aplikasi buat nge-book tiket pesawat pas lagi war tiket promo jam 12 malam sambil deg-degan kayak nunggu doi bales chat. Dia tuh lahir dari mimpi yang simpel, tapi dalem: Gimana caranya biar orang Indonesia bisa terbang dengan lebih gampang. Gimana caranya kursi pesawat yang tadinya kosong bisa keisi. Gimana caranya hotel-hotel di daerah nggak cuma rame pas libur Lebaran doang. Gimana caranya UMKM sekitar tempat wisata bisa ikut kecipratan rezeki. Dan somehow… it worked. Pariwisata yang dulu eksklusif jadi lebih inklusif. Orang yang tadinya mikir dua kali buat liburan, jadi: “Gas aja lah ya, mumpung ada promo.” Bandara jadi rame. Hotel jadi hidup. Destinasi lokal naik daun. Dan yang paling penting: Ribuan anak muda Indonesia ikut ngebangun semua itu dari nol, nulis code, debugging sampe subuh, deploy fitur sambil ditemenin kopi sachet dan existential crisis ringan. Itu bukan cuma produk. Itu kebanggaan. Tapi hari ini? Ceritanya...

Dari Fancam ke Front Bersama: ASEAN Lagi Masuk Arc Persatuan

  Internet Asia Tenggara minggu lalu itu kayak nonton Avengers: Endgame, tapi yang assemble bukan superhero, melainkan netizen + fandom K-pop. Dan seperti semua konflik besar di abad ke-21, semuanya dimulai dari sesuatu yang sangat mulia: Seseorang pengin menikmati konser. Masalahnya, orang di depan dia pengin menikmati konser itu lewat lensa Canon 400mm yang panjangnya kayak harapan mantan. Tanggal 31 Januari 2026, band Korea Selatan DAY6 konser di Kuala Lumpur. Venue sudah bilang dari awal: “No professional camera allowed.” Simple. Jelas. Tidak ambigu. Tapi beberapa fansite asal Korea Selatan tetap masuk dengan DSLR + lensa tele yang kalau dijatuhin bisa unlock side quest. Fans Malaysia yang view-nya ketutup akhirnya komplain di internet. Nothing dramatic. Nothing violent. Just: “Please respect the rules.” Fansite-nya bahkan sempat minta maaf. Harusnya selesai di situ. Tapi internet bilang: “Nah, we can make this worse.” Beberapa netizen Korea kemudian ngebela den...

Negara Lagi Burnout, Tapi Solusinya: ‘Kekuatan Asing’ (Again, Literally Again)”

Honestly ya, at this point, kalau Presiden Prabowo bilang “kekuatan asing” sekali lagi, itu udah bukan narasi politik, itu catchphrase . Kayak: “Ulah kekuatan asing.” “Antek-antek asing.” “Bangsa-bangsa asing, kekuatan-kekuatan asing.” Which is… okay Pak, we get it. Tapi pertanyaannya: asing yang mana dan salah kita di mana? So basically, setiap kali ada problem, ekonomi nggak make sense, kritik makin rame, publik makin questioning, jawabannya selalu sama. Bukan evaluasi kebijakan. Bukan minta maaf. Tapi: “ini ulah kekuatan asing.” Red flag? Honestly, yes. Now plot thickens. Setelah berkali-kali Presiden ngomong soal “kekuatan asing yang mengusik kedaulatan”, tiba-tiba muncul naskah akademik RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing . Timing-nya? Suspicious banget. Kayak abis debat terus langsung bikin aturan biar debatnya nggak kejadian lagi. Menko Kumham Imipas, Yusril Ihza Mahendra, bilang ini memang atas permintaan Presiden. Tapi tenang, katanya Presiden c...

Rupiah Lagi Mental Breakdown, Negara Masih Sok “We’re Fine”

  Masuk 2026 harusnya hidup menjadi glow up. New year, new me, new money. Tapi rupiah literally bangun pagi terus bilang, “Bestie, I’m tired.” Tanggal 20 Januari 2026 , kurs nyentuh Rp16.988 per dolar AS . Rekor terlemah sepanjang sejarah. Not “salah satu yang terlemah”.  Yang paling lemah. Ever. Dan jangan mulai dengan, “Ini karena global” . Because plot twist-nya,  dolar AS lagi melemah secara global . So, kalau rupiah tetap jatuh? Yes bestie, this is a local issue . Sepanjang 2025, rupiah udah turun 3,5% dan jadi runner-up paling ambyar di Asia . Di situ harusnya negara udah pasang alarm. Tapi vibes-nya lebih ke, “Tenang, nanti juga stabil sendiri.” Problem-nya, negara belanja kayak lagi healing phase: impulsif, emosional, dan nggak ngecek rekening. Defisit anggaran 2025 tembus Rp697,1 triliun . Hampir 3% PDB . Terlebar dalam 20 tahun kalau pandemi kita skip. Pemasukan seret. Pajak nggak nyampe target. Tapi belanja? Gas terus. Program jumbo tetap masih jalan, sa...

Ketika Negara Ikut Masak di Dapur Orang

Ada satu jenis kebijakan yang tidak langsung membuat marah. Ia tidak meledak. Tidak ribut. Tidak provokatif. Ia hanya membuat orang terdiam sebentar, lalu bertanya pelan dalam hati: “Ini sebenarnya negara lagi ngapain?” Pengangkatan ribuan pegawai dapur MBG menjadi PPPK termasuk jenis itu. PPPK, sejauh yang dipahami publik, adalah pegawai pemerintah. Digaji oleh negara. Didesain untuk memperkuat layanan publik. Bekerja di institusi negara, atau setidaknya dalam fungsi yang jelas-jelas milik negara. Masalahnya, dapur MBG bukan milik negara. Ia bukan aset publik. Ia bukan kantor pemerintahan. Ia adalah dapur privat—entah milik perorangan, entah badan usaha. Dan di titik ini, logika mulai retak. Negara menggaji pegawai untuk bekerja di ruang yang bukan miliknya. Bukan sekadar kerja sama. Bukan sekadar subsidi. Tapi pengangkatan formal sebagai pegawai pemerintah. Kalau ini benar, maka negara sedang menciptakan satu preseden yang sunyi tapi berbahaya: APBN tidak lagi sekadar membiay...