Skip to main content

Jendela Harapan


 

Di sebuah rumah sakit tua, terdapat dua pasien yang tinggal di satu kamar yang luas. Kamar itu sebenarnya bisa menampung enam orang pasien, namun saat itu hanya dihuni oleh dua orang. Mereka adalah Budi dan Anton. Budi, yang telah lama dirawat karena penyakitnya yang berat, menempati tempat tidur yang berada tepat di samping jendela. Sementara itu, Anton, yang baru saja masuk ke rumah sakit, menempati tempat tidur yang berada dekat pintu. Pada awalnya, mereka tidak terlalu banyak berbicara, tapi seiring berjalannya waktu, keakraban mulai tumbuh di antara mereka.

Anton merasa hidupnya sangat suram. Tak ada yang datang menjenguk, dan kesehariannya hanya dipenuhi rasa sakit dan kesepian. Namun, setiap pagi, Budi mulai berbicara padanya, menceritakan apa yang dilihatnya dari jendela. "Di luar sana ada sebuah taman indah," kata Budi dengan suara lembutnya. "Pagi ini, aku melihat anak-anak berlarian, tertawa sambil bermain bola. Ada seorang ibu yang menggelar tikar dan duduk sambil menyuapi anak kecilnya, daun-daun berjatuhan, burung-burung berkicau, dan sinar matahari pagi tampak begitu hangat, menyinari seluruh taman itu."

Setiap hari, Budi akan menceritakan pemandangan indah di luar jendela. Kadang-kadang dia berbicara tentang seorang pemuda yang membawa bunga untuk kekasihnya atau sekelompok anak-anak sekolah yang berjalan melewati taman. Ada juga hari di mana dia menggambarkan hujan yang turun dengan lembut, menciptakan genangan air di mana anak-anak melompat-lompat dengan gembira.

Anton mendengarkan cerita-cerita Budi dengan penuh perhatian, dan seiring waktu, imajinasi tentang dunia luar itu mulai menghangatkan hatinya. Meski ia tidak bisa melihatnya sendiri, ia merasa seolah-olah ia berada di sana, menikmati setiap momen yang Budi ceritakan. Sedikit demi sedikit, rasa kesepian dan sakit yang dirasakan Anton mulai berkurang, digantikan oleh rasa harapan dan kebahagiaan yang datang dari cerita Budi.

Namun, di balik senyum Anton, timbul perasaan iri. “Mengapa aku tidak bisa berada di sana? Mengapa hanya Budi yang bisa melihat pemandangan indah itu?” pikir Anton dalam diam. Seiring waktu, keinginan untuk berada di tempat tidur dekat jendela semakin besar. Dan suatu malam, ketika seluruh rumah sakit tenggelam dalam kesunyian, Anton mendengar Budi terbatuk-batuk keras. Nafasnya terdengar berat, seolah-olah ia sedang berjuang untuk bernapas.

Anton tahu bahwa Budi mengalami serangan yang serius. Ia bisa saja menekan tombol panggilan perawat di samping tempat tidurnya, tetapi dia tetap diam. Dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik, “Jika dia pergi, tempat itu akan menjadi milikku.”

Pagi harinya, suasana di kamar itu menjadi sunyi dan dingin. Para perawat masuk, dan dengan wajah muram mereka memberi tahu Anton bahwa Budi telah tiada. Dengan rasa gembira yang tertahan, Anton kemudian meminta kepada perawat, “Bisakah saya dipindahkan ke tempat tidur di samping jendela?” Perawat itu mengangguk, dan tanpa menunggu waktu lama, Anton dipindahkan ke tempat yang telah lama diinginkannya.

Dengan jantung berdegup kencang, Anton mengangkat tubuhnya dan menatap keluar jendela untuk pertama kalinya. Namun, yang ia lihat hanyalah tembok kusam dan tua yang berdiri kokoh di hadapannya. Tidak ada taman, tidak ada anak-anak bermain, tidak ada bunga, tidak ada apapun yang pernah diceritakan Budi kepadanya. Hanya tembok yang sepi dan tak bernyawa.

Kebingungan, Anton bertanya kepada perawat, “Bagaimana mungkin? Budi selalu menceritakan pemandangan indah yang ada di luar sana.”

Perawat itu menatap Anton dengan tatapan penuh belas kasih dan berkata, "Budi buta. Dia tidak pernah bisa melihat apa yang ada di luar jendela."

Anton terkejut dan terdiam sejenak. Kata-kata perawat itu menggema di benaknya, menghantamnya dengan kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Perlahan-lahan, Anton mulai menyadari bahwa setiap cerita tentang taman, anak-anak, dan dunia indah di luar jendela adalah hasil imajinasi Budi. Budi yang selama ini tak pernah melihat apapun, ternyata telah menciptakan dunia yang penuh harapan hanya untuk dirinya. Air mata pun mengalir di pipi Anton, menyadari betapa besar hati Budi, yang dalam kegelapan hidupnya tetap berusaha menerangi hidup orang lain.

Pesan Moral:

Kita sering kali terjebak dalam keinginan dan ambisi kita sendiri sehingga melupakan arti sebenarnya dari berbagi dan memberi. Budi, meskipun dalam kegelapan, memilih untuk menerangi hidup orang lain dengan cahaya imajinasinya. Hidup ini bukan hanya tentang apa yang bisa kita lihat atau dapatkan, tapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan harapan dan kebahagiaan bagi orang lain, bahkan di saat kita sendiri sedang berada dalam kegelapan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...