Skip to main content

Sinetron oh Sinetron


Dulu waktu saya masih bekerja sebagai awak televisi, saya sering iseng lihat laporan rating dan share dari AC Nielsen. Awalnya sih ingin melihat perkembangan program acara saya. Siapa kompetitornya, bagaimana by minute-nya. Sampai keterusan membaca data penonton di tiap program acaranya. Dan keisengan saya ini akhirnya sampai pada program acara sinetron.
Ternyata yang paling banyak menjadi penontonnya adalah dari kalangan perempuan, tamatan SMA, kelas ekonomi menengah ke bawah dan dengan pekerjaannya sebagai IRT dan ART. Apa artinya?
Artinya memang sinetron itu dibuat dengan alur cerita sederhana, yang tidak akan membuat penontonnya berpikir. Murni sebagai hiburan belaka. Kalau kata seorang kawan saya di bagian programming, "Penonton sinetron sudah pusing memikirkan hari-hari mereka. Memikirkan harga barang-barang yang terus naik, memikirkan anak-anak mereka, sekolah mereka, pekerjaan, hingga rumah tangganya. Ditambah tingkat pendidikan yang nggak tinggi yang berarti mereka menjauhi tontonan yang meminta mereka untuk menganalisa dengan berat. " Sadis banget analisa kawan saya ini. Tapi saya harus amini ini.
Selain ceritanya yang sederhana, mayoritas produksinya pun juga tidak yang benar-benar memperhatikan keindahan seni. Seperti lighting yang terang benderang. Tidak peduli apakah itu scene pagi, siang, sore atau malam. Bright all the way! Atau backsound yang diputar dari awal sampai akhir. Tidak peduli apakah cocok dengan mood di scene. Bahkan ada beberapa kali saya menangkap di sebuah sinetron berjudul LS di S***, terdengar seperti memakai backsound film Avengers. Tipis dan dicampur dengan musik lain.
Jadi jangan pernah berharap ada graduasi warna dan cahaya ala Hometown Cha Cha Cha. Atau backsound yang khusus dibuat untuk Jdrama, Pretty Proofreader. Apalagi sampai dipaksa berpikir seperti saat menonton SPEC (Keizoku). Karena dari pengakuan salah seorang mantan penulis sinetronnya saja, dia tidak pernah sempat untuk mendalami tokoh dan ceritanya. Karena selain faktor di atas, kejar tayang juga menjadi penyebabnya.
Lalu apakah salah jika ada yang menikmati menonton sinetron? Itu kembali ke pribadi masing-masing pemirsanya. Jika memang cukup puas dengan tontonan seperti itu, silahkan saja. Saya tidak akan menghakimi.
-C-
Semua tanggapa

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu

Selamat Hari Buruh, kata mereka. Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja. Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup. Yang satu lagi tak mau kalah: update status. “Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya. Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, d...