Di bawah langit hijau lapangan,
dua raja berdiri, tidak sebagai musuh,
tetapi sebagai penjaga harapan bangsanya.
Casillas, Sang Santo, dengan ketenangan
yang menenangkan badai,
dan Buffon, Sang Maestro,
kokoh seperti benteng waktu.
Mereka bukan sekadar penjaga gawang;
mereka adalah pelukis takdir,
membingkai setiap penyelamatan sebagai karya seni.
Casillas, dengan tangannya,
menggapai bola seperti memeluk cahaya terakhir
dari matahari yang hampir tenggelam.
Buffon, dengan keberanian yang tidak pernah layu,
melompat seperti seekor elang,
melindungi tanah air dari kehancuran.
Mereka bertemu di medan perang,
bukan untuk membenci, tetapi untuk mencipta keabadian.
Perempat final Euro 2008,
dua simbol berbeda,
satu warna merah darah,
satu biru langit Italia.
Tendangan demi tendangan,
mereka bukan hanya bertarung;
mereka membangun mimpi.
Namun, tidak ada kemenangan tanpa luka.
Casillas mengangkat trofi,
sementara Buffon berdiri di bayangannya,
menunggu waktu berikutnya
untuk menulis ceritanya sendiri.
Mereka mengajari kita arti keunggulan:
bahwa kemuliaan bukan hanya tentang menang,
tetapi bagaimana berdiri dengan kepala tegak,
bahkan saat takdir mencabut kemenangan dari genggaman.
Kini, waktu telah menjemput mereka
dari lapangan yang pernah mereka jaga.
Namun bayangan mereka tetap hidup,
dalam hati para penggemar,
dalam mimpi para pemuda
yang berlari mengejar bola di sore hari.
Dua penjaga, dua takdir,
satu cerita abadi.
Di bawah langit sepak bola,
mereka adalah mitos yang takkan pernah pudar
Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Comments
Post a Comment