Skip to main content

Teman Kok Begitu?

 

Dua minggu lalu, teman lama saya menghubungi lewat WhatsApp. Kami satu batch saat pendidikan di Trans TV. Delapan bulan sebelumnya, dia juga sempat mengontak saya untuk pekerjaan, tapi kemudian hilang tanpa kabar. Kali ini, dia membuka percakapan dengan basa-basi, menanyakan kabar, lalu menawarkan pekerjaan di kantor barunya, sebuah perusahaan travel umroh milik seorang ustadz.

Dia meminta saya mempelajari gaya editing sebuah channel YouTube, sebut saja Channel M. Katanya, dia ingin konsep video di kantornya menyerupai channel tersebut. Dia juga meminta saya mengirim CV, yang segera saya turuti. Tidak lama setelah itu, dia mulai mengirimkan materi shooting untuk diedit.

Semua pekerjaan tersebut saya kerjakan di rumah. Hasilnya saya unggah ke Google Drive, lalu link-nya saya kirim ke grup WhatsApp. Karena dia bilang saya belum jadi karyawan, saya langsung bertanya status saya. Ternyata, saya dipekerjakan sebagai freelancer. Saya juga menanyakan honor untuk pekerjaan ini, karena bagi freelancer, kejelasan soal bayaran itu sangat penting.

Untuk konteks, ini bukan pertama kalinya kami bekerja sama. Sebelumnya, saya pernah membantu timnya mengerjakan sebuah program TV. Salah satu episode yang saya edit bahkan mendapatkan penghargaan, tetapi kreditnya diambil olehnya. Pengalaman itu membuat saya lebih berhati-hati.

Ketika dia bertanya tentang tarif saya, saya menyebutkan Rp1 juta per shift (8 jam). Dia keberatan dan menjelaskan bahwa pekerjaannya hanya permainan keying greenscreen untuk video berdurasi 10–15 menit. Saya akhirnya bertanya kemampuan bayarannya, dan dia menyebut Rp500 ribu. Karena masih menganggapnya teman, saya setuju.

Setelah itu, saya dimasukkan ke grup WhatsApp bersama calon karyawan lain. Sebagai freelancer, saya lebih banyak diam, tetapi dia meminta saya lebih aktif di grup, memberi masukan, bahkan menjadi semacam advisor. Jadi selain mengerjakan video editing, saya juga diminta memberikan saran produksi. Semua itu masih dengan honor Rp500 ribu.

Setelah dua jam bekerja, saya kirim hasil edit ke grup. Tidak lama, revisi pertama datang. Dia meminta mengganti background yang dia pilih sendiri. Saya menghabiskan satu jam mencari background baru yang sesuai, tapi tidak menemukan yang pas. Akhirnya, saya menyerah dan memintanya memilih sendiri agar revisi berikutnya bisa diminimalkan. Dia tetap bersikeras agar saya yang mencari.

Dengan sabar, saya lanjutkan pekerjaan. Setelah menemukan background yang dia mau, saya mengedit ulang. Namun, revisi kedua datang: headroom narasumber terlalu lebar, dan ada flicker di pakaian narasumber. Saya jelaskan bahwa flicker terjadi karena pakaian terlalu terang dan menyarankan agar mereka menggunakan pakaian gelap di pengambilan berikutnya. Tim studio setuju.

Saya kembali merevisi dan mengirim hasilnya lagi. Saya pikir pekerjaan selesai. Namun, dia meminta tambahan elemen: grafis, teks, lower third, insert gambar, hingga efek suara. Dalam kata lain, dia meminta satu paket materi video utuh. Padahal, sejak awal, kesepakatannya hanya keying greenscreen.

Saya mulai kehilangan kesabaran, tetapi tetap mencoba mengingatkan kesepakatan awal. Dia malah menjawab, "Sejak awal memang di kepala aku, memang nggak cuma keying greenscreen saja. Nanti bentukannya juga seperti M***********." Saya jadi merasa tugas saya bertambah—sekaligus cenayang yang harus menebak apa yang ada di kepalanya.

Meskipun kesal, saya tetap melanjutkan revisi tambahan dengan syarat pembayaran DP. Dia mengeluh karena uang untuk membayar saya harus keluar dari kantong pribadinya. Akhirnya, dia setuju membayar DP, dan saya selesaikan revisi dengan mood yang sudah tidak maksimal.

Setelah revisi selesai, saya kirim ulang hasilnya ke grup. Tetapi dia masih meminta revisi lagi, kali ini dengan menambahkan referensi editing seperti channel lain di YouTube yang menurutnya lebih dinamis. Dia juga meminta elemen grafis tambahan dengan ukuran font lebih besar, tetapi tetap “serius” agar tidak mengganggu khidmatnya Ustadz.

Saya menjawab dengan tegas, "Berarti nggak kayak M********* ya? Dicobanya nanti setelah jadi karyawan?" Tetapi dia malah menjawab, "Ini masih lanjutan fee 500k kemarin." Di titik ini, saya menolak untuk melanjutkan revisi. Saya juga mengingatkan bahwa revisi terakhir adalah bonus dari saya. Dia terlihat kecewa, tapi saya tidak peduli.

Dua hari kemudian, saya menagih sisa pembayaran. Dia akhirnya melunasi, tapi sesuai dugaan, saya tidak diterima kerja di kantornya. Dia mengirim pesan, "Terima kasih ya. Izin jelaskan kalau ini semua masih volunteer. Belum ada yang dibayar karena ini program barokah. Mohon maaf."

Saya hanya menjawab, "Iya, nggak apa-apa. Semoga sukses." Dalam hati, saya bersyukur tidak terjebak lebih jauh. Kalau sejak awal dia jujur bahwa ini kerja sukarela, mungkin saya akan tetap membantu, tetapi dengan revisi tanpa akhir seperti itu? Tidak, terima kasih.

 

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...