Skip to main content

Aku Si Pembunuh


Aku buka jendela kamarku, membiarkan udara pagi menerobos masuk. Namun, bukannya damai yang menyambutku, aku malah mendapati pemandangan yang membuat darahku mendidih untuk kesekian kalinya. Mobil itu. Mobil tetangga sebelahku, terparkir tepat di depan pagar rumahku, menghalangi jalan seperti raja tanpa tahta yang mengklaim wilayah orang lain.

Mereka? Oh, mereka tak pernah merasa bersalah. Berkali-kali aku harus menegur, dengan nada yang semakin lama semakin kehilangan kesantunannya. Mulai dari sekadar sapaan tersirat, hingga pesan singkat yang dihiasi tiga tanda seru. Tapi apa gunanya? Musik keras yang pernah mereka ledakkan hingga malam, sampah yang berserakan kala mereka merenovasi rumah tanpa peduli tetangga—semua itu tak lebih dari bukti kekacauan yang mereka bawa ke hidupku.

Benci?
Iya, tentu saja. Namun, benci ini adalah jenis yang lain. Ini bukan sekadar ketidaksukaan sederhana. Ini adalah racun yang menyusup ke pikiranku, perlahan-lahan merajut jaring di setiap sudut batinku. Pernahkah kau membenci seseorang begitu rupa hingga kau menjadi pembunuh... di dalam pikiranmu?

Kebencian ini adalah monolog tanpa penonton. Tidak ada pertarungan, tidak ada konfrontasi, hanya aku dan pikiranku sendiri. Dan yang paling menyakitkan? Mereka tidak pernah sadar. Mereka tidak merasa bersalah, tidak terganggu, bahkan tidak tahu bahwa ada badai amarah yang terus menggerutu di dalam diriku. Mereka tetap hidup dengan senyum lebar, melangkah ringan, seolah dunia ini adalah panggung mereka, dan aku hanyalah figuran yang tak penting.

Jika ada istilah "Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan," maka yang kurasakan ini adalah "Benci yang Bertepuk Sebelah Tangan."

Pagi itu, imajinasiku liar. Aku berubah menjadi seorang pembunuh. Bukan pembunuh biasa, melainkan seorang profesional dalam seni balas dendam yang spektakuler. Dalam kepalaku, aku menjelma menjadi Deadpool yang tak terkalahkan, Deadshot yang tak meleset, Hitman dengan presisi sempurna, atau bahkan John Wick dengan dendam yang dingin. Targetku jelas: tetangga sebelah yang tak tahu diri itu.

Aku cekik dia dengan tali tak kasat mata dari frustrasi yang telah menumpuk selama berbulan-bulan. Aku tebas dia dengan pedang amarah yang tajam hingga tak bersisa. Aku tusuk dia dengan pisau khayalan, berkali-kali, seperti adegan brutal dalam film horor. Aku tembak dia dari jauh, memastikan tak ada tempat baginya untuk lari. Semuanya terasa sangat memuaskan... di dalam kepalaku.

Tapi pembunuhan ini bukan hanya sekali. Tidak, itu terlalu sederhana. Aku membunuhnya lagi dan lagi, dalam ratusan versi berbeda. Skenarionya bervariasi: kecelakaan yang tampak alami, racun yang tak terdeteksi, hingga pertarungan epik di tengah hujan deras. Aku menciptakan dunia penuh darah dan kehancuran, hanya untuk melampiaskan dendamku yang tak terbalas.

Namun, di ujung tiap adegan itu, hanya ada aku. Terengah-engah. Sendiri. Semua kekerasan imajiner itu tak lebih dari kilasan sia-sia yang meninggalkan jejak kelam di pikiranku.

Apa yang kudapat? Tidak ada. Tetanggaku tetap tak tahu apa-apa. Mereka tetap menjalani hari seperti biasa, sementara aku hanya menumpuk beban di pundakku sendiri. Kebencianku adalah perang yang hanya aku yang bertempur, melawan musuh yang bahkan tidak sadar bahwa mereka sedang berada di medan perang.

Lalu, sinar matahari pagi menyentuh kulitku, seperti tangan lembut yang membangunkanku dari mimpi buruk. Aku kembali ke dunia nyata. Kamarku, dinding-dindingnya yang tenang, dan daftar panjang tanggung jawab yang menunggu. Masih ada video yang harus kuunggah untuk tayang siang ini. Masih ada janji hidup yang harus kupenuhi.

Di luar sana, burung-burung bernyanyi. Udara segar menyelinap masuk, membawa aroma bunga yang sedang mekar. Mungkin, pikirku, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kebencian. Ada terlalu banyak hal baik yang bisa kunikmati, hal-hal kecil yang memberi makna.

Aku menutup jendela. Tetangga sebelah masih saja menjadi duri dalam daging, tapi aku memilih untuk tidak memikirkan mereka. Mereka hanyalah latar belakang dari panggung kehidupanku. Karena hari ini, aku ingin menjadi pemeran utama dalam cerita yang lain—cerita tentang damai dan kebahagiaan, bukan dendam dan kemarahan.

 

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...