Ah, 90-an. Masa-masa ketika hidup lebih mudah, lebih lambat, dan jauh lebih menyenangkan. Sebelum kita terjebak dalam gulungan notifikasi ponsel pintar, algoritma media sosial, dan pesan-pesan yang tak terhitung jumlahnya, kita punya dunia sendiri—dunia yang sekarang kita kenang dengan penuh haru. Kalau kamu tumbuh di era 90-an, kamu pasti mengingat barang-barang dan tren yang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita dulu. Yuk, kita mulai nostalgia bersama dengan senyum lebar dan sedikit rasa rindu!
1. Walkman dan Discman: Musik yang Tak Bisa Skip
Sebelum Spotify mengizinkan kita melewati lagu yang tak cocok dengan suasana hati dalam sekali geser, ada Walkman dan Discman yang mengajarkan kita kesabaran. Mau ganti lagu? Cukup balik kaset atau pencet ‘next’ di Discman—itu pun kalau nggak ngacak-ngacak piringan CD saat kamu jalan. Masih ingat betapa kerennya kamu saat jalan ke sekolah sambil mendengarkan lagu di Walkman, lengkap dengan headphone busa tipis yang entah kenapa nyaman banget?
Dan kalau kaset tiba-tiba kusut? Ah, di situlah ujian cinta sejati dimulai. Siapkan pensil untuk mengurai pita kaset yang tersangkut, putar pelan-pelan, dan voila! Kaset kembali pulih, siap memutar lagu-lagu kesukaanmu lagi. Coba deh, di era sekarang, ada yang bisa bertahan sekuat kaset?
2. Telepon Putar: Sensasi Telepon yang Bikin Jari Pegal
Zaman sekarang, kita tinggal pencet layar sentuh untuk menelepon siapa saja, kapan saja. Tapi di 90-an, telepon putar yang besar dan kokoh adalah bintang utama di rumah. Untuk menelepon teman, kamu harus memasukkan nomor satu per satu sambil memutar angka—dan kalau kamu salah putar? Oops, ulang dari awal!
Bahkan, proses menelepon sendiri bisa menjadi drama kecil. "Tunggu, aku salah ! Ah, gila... dari awal lagi deh." Tapi saat akhirnya terhubung, ada rasa kepuasan tersendiri. Kamu pasti ingat juga saat menunggu dengan sabar untuk telepon berganti nada dari ‘tutut tutut’ ke suara temanmu di ujung sana. Sensasi yang nggak bisa dirasakan generasi ponsel.
3. Pager: Pesan Singkat dan Buru-Buru Cari Telepon Umum
Sebelum WhatsApp dengan ribuan emoji dan stiker, ada pager yang sederhana tapi seru. Setiap kali pager kamu berbunyi, itu tandanya ada pesan singkat masuk—dan saat itulah misi dimulai. Kamu harus cepat-cepat cari telepon umum untuk membalasnya. Bayangkan betapa menegangkannya berlari mencari telepon umum terdekat sambil berharap tidak ada antrian panjang.
Pager ini bikin kamu terbiasa menyusun kata dengan singkat dan padat, hampir mirip pesan telegram. Jika pesan terlalu panjang, bisa-bisa kamu harus mengirimnya dua kali. Dan jika kamu harus menyampaikan kata dalam bahasa asing? Wah, siap-siap mengeja setiap huruf ke operator biar pesan terkirim dengan benar.
Telepon umumpun jadi teman setia si pager. Dengan koin di tangan, kamu memasukkan nomor tujuan dan berharap tidak ada yang menunggu di belakangmu. Dan kalau telepon rumah digembok ortu pas malam minggu? Solusinya adalah bertualang mencari wartel, meskipun harus bersaing dengan orang-orang yang juga ingin menelepon pacar mereka. Inilah seni berkomunikasi yang penuh usaha—tidak seperti sekarang, di mana semua bisa dilakukan dari ujung jari. Ah, betapa petualangan kecil seperti itu dulu terasa begitu seru dan berarti!
4. Tamagotchi: Hewan Peliharaan Virtual yang Butuh Perhatian Penuh
Sebelum ada game simulator hewan di ponsel, ada Tamagotchi yang mengajarkan kita arti dari tanggung jawab (atau setidaknya membuat kita berpikir begitu). Kamu harus memberi makan, membersihkan, dan menghibur hewan peliharaan digital mungil ini, atau dia akan mati dan meninggalkanmu dengan rasa bersalah.
Tamagotchi yang "meninggal" di kelas karena kamu lupa kasih makan? Rasa bersalahnya sama seperti lupa kasih makan kucing di rumah. Tapi hey, jangan khawatir, kamu bisa ‘restart’ kapan saja. Ada yang sampai bawa dua atau tiga Tamagotchi di tas sekolah, jadi tangan sibuk ngurusin banyak hewan peliharaan virtual. Multi-tasking sebelum zamannya, bukan?
5. Game & Watch: Kesederhanaan yang Tak Tergantikan
Sebelum PlayStation dan Xbox merajai dunia game, ada Game & Watch yang cuma berisi satu permainan sederhana. Tidak ada grafik 3D, tidak ada update, tidak ada DLC—hanya layar hitam-putih dan tombol sederhana. Dan kamu tahu apa? Itu sudah lebih dari cukup. Game ini adalah penghilang bosan terbaik, dan kesederhanaannya justru membuatnya legendaris.
Bayangkan, hanya dengan satu permainan (seperti memindahkan telur di ‘Egg’ atau menyelamatkan Mario di ‘Mario's Cement Factory’), kamu bisa tenggelam dalam keseruan selama berjam-jam. Tidak perlu grafik super realistis—hanya butuh imajinasi yang liar!
6. Floppy Disk: Teknologi yang Bikin Kita Terasa Seperti Hacker
Bagi yang tumbuh di era 90-an, floppy disk adalah simbol teknologi masa depan. Meskipun kapasitasnya tidak lebih dari beberapa MB, kamu merasa seperti seorang hacker setiap kali memasukkan disket itu ke komputer dan menyimpan dokumen atau permainan sederhana. File 10 MB? Nggak mungkin masuk. Tapi, kita berjuang bersama floppy disk seperti tentara yang setia pada perang teknologi.
Dan coba pikirkan betapa kerennya kamu saat membawa tumpukan floppy disk di tas, siap untuk berbagi data dengan teman-teman. Canggih banget, deh!
7. Majalah dan Poster Idola: Sebelum Ada Media Sosial
Sebelum ada Instagram dan TikTok yang bisa memperlihatkan kehidupan para idola dalam hitungan detik, generasi 90-an punya ritual khusus untuk mengikuti kabar terbaru dari artis favorit mereka—yaitu lewat majalah remaja! Membeli majalah seperti Hai, Aneka, atau Gadis adalah momen yang paling dinantikan setiap bulan. Setiap edisinya selalu berisi poster idola yang langsung ditempel di dinding kamar, serta gosip-gosip artis yang bikin penasaran.
Mengumpulkan poster dari majalah bukan sekadar tren, tapi juga semacam kebanggaan tersendiri. Siapa yang nggak ingat menempel poster band-band terkenal seperti Backstreet Boys, Spice Girls, atau bintang film seperti Leonardo DiCapriodi dinding kamar? Kalau sudah terpajang, rasanya seperti membawa idola favorit lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.
Bagi pecinta olahraga, terutama sepak bola dan basket, Tabloid BOLA juga menjadi ‘jalan ninja’ mereka. Sama antusiasnya dengan para penggemar majalah remaja, para penggemar olahraga menunggu-nunggu hadirnya tabloid ini setiap Senin dan Kamis sore. Mereka akan segera membuka halaman untuk membaca berita pertandingan, gosip transfer pemain, atau mengoleksi poster pemain idola.
Dan jangan lupakan bagian "surat pembaca" yang selalu penuh dengan curahan hati para remaja 90-an, mulai dari cerita cinta pertama hingga masalah persahabatan. Membaca pengalaman orang lain di majalah-majalah ini sering kali menjadi pelarian yang menyenangkan, sekaligus memberikan rasa kebersamaan dengan sesama pembaca.
8. Acara TV Favorit: Ketika Nonton TV adalah Momen Bersama
Sebelum streaming dan binge-watching, menonton TV di era 90-an adalah momen yang sangat dinantikan, terutama karena kita harus menyesuaikan diri dengan jadwal tayang. Tidak ada tombol "pause" atau "rewind"—kamu harus siap duduk di depan TV tepat waktu jika tidak mau ketinggalan episode favorit.
Dari sinetron lokal hingga serial luar negeri seperti Power Rangers, MacGyver, Knight Rider, atau Beverly Hills 90210, kita semua punya daftar acara yang ditunggu-tunggu. Bahkan, menonton TV sering kali jadi acara keluarga atau momen seru bersama teman-teman. Ketika jam tayang tiba, semua berkumpul di ruang tamu, memesan cemilan, dan tertawa bersama menonton acara yang sama.
Jangan lupakan pula acara Sabtu pagi yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak 90-an, penuh dengan kartun-kartun seperti Doraemon, Dragon Ball, atau Crayon Shin-chan. Beranjak dari tempat tidur dan langsung duduk di depan TV sambil makan sarapan adalah rutinitas wajib.
Kalau kamu melewatkan satu episode? Bisa dipastikan kamu harus menunggu seminggu lagi, atau bergantung pada cerita teman yang sudah menonton. Tidak ada streaming, tidak ada spoiler di media sosial, hanya keseruan menunggu dengan sabar. Itulah serunya nonton TV di masa 90-an—menjadi momen bersama yang selalu ditunggu-tunggu!
9. MIRC dan ICQ: Tempat Curhat dengan Anonim
Sebelum ada Facebook, Instagram, dan Twitter, dunia chatting online dikuasai oleh MIRCdan ICQ. Dengan username aneh yang kadang memalukan (mengaku saja!), kamu bisa ngobrol dengan orang asing dari seluruh dunia tanpa peduli identitas. Ngetik cepat di keyboard sambil mencoba mengikuti percakapan grup—dan ketika kamu akhirnya berani bertemu dengan seseorang dari MIRC? Itu adalah salah satu momen yang bikin jantung deg-degan.
Kode-kode seperti ‘A/S/L?’ (Age, Sex, Location) menjadi pintu pembuka untuk mengenal seseorang dari belahan dunia lain. Seru, rahasia, dan pastinya bikin ketagihan!
10. Janjian Ketemuan Tanpa HP: Insting yang Terasah
Satu hal lagi yang tak kalah seru dari era 90-an adalah seni janjian tanpa HP. Percaya atau tidak, kita dulu bisa ketemuan dengan teman hanya dengan berbekal telepon rumah sebelum berangkat. Nggak ada share location, nggak ada GPS—semua bergantung pada insting dan kesepakatan. Ketika kita sampai di tempat janjian, kita harus mengandalkan kepekaan untuk mencari tahu di mana teman kita nongkrong. Dan hebatnya, kita selalu berhasil menemukan mereka!
Nongkrong di masa itu juga punya makna lebih. Semua orang benar-benar hadir—nggak hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Tidak ada yang sibuk scroll media sosial atau balas pesan sambil ngopi. Semua perhatian tertuju pada obrolan dan tawa bersama. Beda banget dengan sekarang, di mana nongkrong terasa lebih sepi meskipun ramai, karena kebanyakan dari kita tenggelam dalam layar gadget masing-masing. Ah, betapa kita rindu masa ketika nongkrong benar-benar soal kebersamaan yang murni, tanpa gangguan digital.
11. Kamera Analog: Sabar Menunggu Hasil Jepretan
Kalau sekarang kita bisa langsung melihat hasil foto setelah jepret di ponsel, di era 90-an kita harus belajar sabar menunggu hingga beberapa hari hanya untuk melihat bagaimana hasil foto kita. Kamera analog dan film roll adalah teknologi yang membuat kita bersemangat sekaligus sedikit tegang—karena kamu tidak akan tahu apakah hasil fotonya bagus atau tidak sampai film dicuci di studio foto.
Momen ketika akhirnya kamu menerima hasil cetakan adalah momen yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Tak jarang kita kecewa karena ternyata ada beberapa foto yang blur atau terkena cahaya, tapi justru itulah yang membuat setiap jepretan terasa lebih berharga. Foto-foto dari kamera analog lebih spontan dan penuh kejutan, tidak seperti sekarang yang serba instan dan bisa diulang berkali-kali.
12. Permainan Tradisional: Serunya Bermain di Luar
Anak-anak 90-an lebih sering menghabiskan waktu bermain di luar rumah dibandingkan duduk di depan layar. Permainan tradisional seperti tak jongkok, bentengan, galasin, petak umpet, dan lompat tali adalah permainan yang hampir setiap hari dimainkan bersama teman-teman di halaman rumah atau lapangan. Tidak ada game online atau aplikasi permainan—hanya kegembiraan sederhana yang datang dari tawa dan kejar-kejaran.
Saat senja mulai tiba, suara orang tua memanggil pulang dari rumah masing-masing adalah tanda bahwa permainan harus dihentikan sementara, meski dalam hati masih ingin bermain lebih lama. Namun, momen-momen ini justru menjadi kenangan yang melekat erat—kebersamaan tanpa gangguan teknologi, hanya fokus pada permainan dan tawa yang tulus.
Tahun 90-an sudah lewat, tapi kenangannya tak pernah hilang. Setiap barang yang pernah menjadi bagian hidup kita saat itu—Walkman, pager, Tamagotchi, Game & Watch—adalah simbol dari masa-masa sederhana yang begitu seru. Dunia berubah cepat, tapi tak ada salahnya sesekali berhenti, menengok ke belakang, dan tersenyum pada kenangan lama. Siapa tahu, dengan sedikit keberuntungan, kita bisa menemukan Walkman lama di lemari, masukkan kaset favorit, dan kembali merasakan keajaiban 90-an.
Dan kalau kamu merasa rindu, ingatlah satu hal: 90-an bukan hanya tentang barang-barang itu, tapi tentang perasaan yang mereka ciptakan. Betapa asiknya hidup saat semua terasa sederhana, sedikit lebih lambat, tapi jauh lebih seru.
.jpg)
Comments
Post a Comment