Skip to main content

"No Contact": Fenomena Memutus Hubungan Keluarga yang Mulai Masuk Radar Anak Muda

Fenomena "no contact" atau memutus hubungan dengan orang tua makin ramai dibicarakan, terutama di luar negeri. Kalau di Amerika Serikat, tren ini udah bukan hal asing, tapi di Indonesia? Masih jadi pertanyaan. Namun, dengan makin banyaknya paparan budaya luar, fenomena ini bisa saja pelan-pelan merayap ke kehidupan anak muda Indonesia.

Majalah The New Yorker bahkan menjadikan artikel "Why So Many People Are Going 'No Contact' with Their Parents" karya Anna Russell sebagai artikel terbaik 2024. Artikel tersebut membahas bagaimana individu di Amerika Serikat makin banyak yang memutus hubungan dengan orang tua mereka. Ini bukan karena masalah sepele, tapi karena dinamika keluarga yang dianggap beracun alias toxic.

Kalau dipikir-pikir, fenomena ini agak bikin merinding. Bayangkan, memutus hubungan dengan orang tua yang udah membesarkan kita. Tapi ternyata, banyak yang merasa ini adalah cara terbaik buat menjaga kesehatan mental. Beberapa orang memilih langkah ini untuk melindungi diri dari tekanan batin yang tak kunjung usai.

Kenapa "No Contact" Jadi Pilihan?

Keputusan buat memutus hubungan dengan orang tua bukan diambil secara impulsif. Banyak yang mempertimbangkan dengan matang, bahkan setelah bertahun-tahun mencoba memperbaiki keadaan. Dalam banyak kasus, hubungan yang nggak sehat ini bisa berupa sikap orang tua yang manipulatif, kasar secara verbal atau fisik, atau nggak memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan anak.

Orang-orang yang memilih "no contact" sering kali mengalami dilema besar. Di satu sisi, ada rasa lega karena bisa keluar dari hubungan yang bikin stres, tapi di sisi lain, ada rasa kehilangan. Apalagi di negara yang sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan seperti Indonesia.

Namun, di tengah dilema tersebut, banyak individu merasa bahwa memutus hubungan adalah bentuk perlindungan diri. Mereka ingin fokus pada kesehatan mental, sesuatu yang makin dianggap penting di era sekarang.

Peran Media Sosial dalam Normalisasi "No Contact"

Media sosial punya andil besar dalam menyebarkan fenomena ini. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter penuh dengan cerita-cerita pribadi tentang bagaimana seseorang akhirnya memilih untuk memutus hubungan dengan orang tua. Bahkan, ada istilah-istilah khusus yang muncul buat menjelaskan fenomena ini, seperti "generational trauma" dan "breaking the cycle."

Komunitas online jadi tempat aman untuk berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain. Banyak yang merasa nggak sendirian karena menemukan orang-orang dengan pengalaman serupa. Namun, nggak semua orang setuju dengan tren ini. Ada yang menganggap bahwa beberapa komunitas terlalu cepat mendorong keputusan "no contact" tanpa mencoba menyelesaikan masalah terlebih dahulu.

Apakah Fenomena Ini Akan Sampai ke Indonesia?

Indonesia memang terkenal dengan budaya kekeluargaan yang kuat. Ada istilah "keluarga adalah segalanya," dan tradisi seperti mudik tiap Lebaran jadi bukti nyata betapa eratnya hubungan keluarga di sini. Namun, bukan berarti fenomena "no contact" nggak bisa terjadi.

Generasi muda Indonesia tumbuh di era globalisasi dan digitalisasi. Nilai-nilai individualisme makin meresap, dan kesehatan mental jadi prioritas yang nggak bisa diabaikan. Kalau dulu anak muda memilih diam saat ada konflik keluarga, sekarang banyak yang berani bicara atau bahkan mencari jarak.

Di kalangan teman-teman saya sendiri, ada beberapa yang mulai merasa "capek" dengan ekspektasi keluarga yang tinggi. Tuntutan buat selalu sukses, jadi anak kebanggaan, atau terus mengikuti nasihat orang tua, kadang bikin mereka merasa tertekan. Meskipun belum sampai ke tahap memutus hubungan, banyak yang mulai membatasi interaksi atau sekadar mengambil jarak.

Contoh Kasus: Ketika Jarak Jadi Solusi

Saya punya teman yang dulunya sangat dekat dengan keluarganya. Namun, setelah memasuki dunia kerja, tuntutan orang tuanya semakin menjadi. Teman saya ini merasa semua keputusan yang diambil selalu dipertanyakan, dan nggak jarang dibandingkan dengan saudara atau tetangga. Akhirnya, dia memutuskan untuk pindah ke luar kota dan jarang pulang.

Bisa dibilang, ini adalah bentuk "no contact" versi soft. Dia masih berkomunikasi, tapi hanya sebatas keperluan penting. Bagi teman saya, jarak ini adalah cara menjaga hubungan tetap sehat. Ini menunjukkan bahwa fenomena "no contact" nggak selalu berarti benar-benar memutus hubungan. Kadang, hanya sekadar mengambil jarak juga bisa jadi solusi.

Tantangan di Indonesia: Kolektivisme vs. Individualisme

Salah satu alasan kenapa "no contact" belum begitu populer di Indonesia adalah karena kuatnya nilai kolektivisme. Dalam banyak keluarga, konflik cenderung diselesaikan secara bersama-sama. Ada peran keluarga besar yang sering kali ikut campur dalam penyelesaian masalah.

Namun, perubahan sosial berjalan cepat. Generasi muda mulai mengadopsi nilai individualisme, di mana kebahagiaan dan kesehatan mental pribadi jadi prioritas utama. Inilah yang bisa memicu munculnya fenomena "no contact" di masa depan.

Menghindari "No Contact": Apa yang Bisa Dilakukan?

Meski "no contact" bisa jadi pilihan terakhir, bukan berarti ini adalah satu-satunya solusi. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak sangat penting. Mendengarkan tanpa menghakimi dan mencoba memahami sudut pandang masing-masing bisa membantu mencegah konflik yang berujung pada putusnya hubungan.

Pendidikan tentang kesehatan mental juga perlu diperluas. Orang tua perlu memahami bahwa anak-anak mereka bukan robot yang bisa terus mengikuti ekspektasi tanpa mengalami burnout. Begitu juga sebaliknya, anak-anak perlu memahami bahwa orang tua mereka tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, dengan nilai-nilai yang berbeda pula.

Kesimpulan

Fenomena "no contact" mungkin belum jadi tren besar di Indonesia, tapi angin perubahan mulai terasa. Dengan semakin banyaknya anak muda yang berani bersuara dan memprioritaskan kesehatan mental, fenomena ini bisa saja menjadi bagian dari dinamika sosial di masa depan.

Namun, selama budaya kekeluargaan di Indonesia tetap kuat dan komunikasi terus dijaga, fenomena ini mungkin bisa dicegah. Pada akhirnya, keluarga adalah tempat kita kembali. Jadi, sebelum memilih memutus hubungan, ada baiknya mencari cara untuk memperbaiki dan mempererat hubungan yang sudah ada. Karena menjaga hubungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tapi semua orang di dalamnya.


Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...