Skip to main content

PSSI dan Seni Membuat Keputusan Aneh: Shin Tae-yong Out, Patrick Kluivert In?


Ada satu hal yang konsisten di dunia sepak bola Indonesia: drama yang tidak pernah habis. Setelah sekian lama penonton bola harus menghadapi penderitaan dengan timnas yang lebih sering jadi lawakan internasional, Shin Tae-yong (STY) datang membawa secercah harapan. Eh, baru juga kita ngerasain timnas mulai "nggigit," PSSI malah bikin kejutan baru: kabarnya, Shin Tae-yong akan digantikan Patrick Kluivert.

Iya, Kluivert, legenda Belanda yang lebih dikenal karena aksinya di lapangan saat masih jadi pemain. Tapi pelatih? Ya... rekam jejaknya lumayan kalau cuma di atas kertas. Tapi jujur, ketika bicara pengalaman melatih tim nasional, apalagi tim se-unik Indonesia, Kluivert masih hijau. Dan, kalau mau jujur lagi, mengganti pelatih yang sudah terbukti berhasil dengan pelatih yang “belum jelas bakal ngapain” itu rasanya seperti ganti motor matik yang masih prima dengan odong-odong. Bukan meremehkan, tapi kan... ya Anda paham lah.

STY: Sang Pembawa Harapan

Mari kita bahas dulu jasa Shin Tae-yong, biar jelas siapa yang sedang dibicarakan. Di bawah asuhan STY, timnas kita, yang dulunya lebih sering dapat julukan "juru kunci," mulai berani tampil dengan percaya diri. Dari peringkat FIFA yang berada di dasar jurang, pelan-pelan timnas naik ke posisi yang lebih terhormat. Bahkan, timnas sukses menembus babak ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia—pencapaian yang sebelumnya hanya bisa kita mimpikan sambil tidur siang.

Belum lagi kemenangan melawan Arab Saudi yang bikin kita semua melongo. Bayangkan, melawan tim yang biasa tampil di Piala Dunia itu bukan lagi angan-angan. Eh, ini bukan laga persahabatan atau turnamen antar-RT, lho. Ini kualifikasi Piala Dunia, Bung! Dan STY lah otak di balik semua strategi brilian itu. Tapi ternyata, di mata PSSI, prestasi semacam ini kurang greget. Apa maunya? Juara Liga Champions sekalian?

Patrick Kluivert: Pilihan yang Aneh

Nah, sekarang soal Patrick Kluivert. Nama besarnya memang tidak diragukan. Tapi jadi pelatih timnas? Mari kita lihat track record-nya. Sebagai pelatih, Kluivert memang pernah jadi asisten di tim besar seperti Barcelona dan melatih tim junior. Tapi di tim nasional? Pengalamannya minim, bahkan nyaris nol. Apakah dia sudah pernah melatih di Asia Tenggara, apalagi Indonesia? Belum. Dan mari jujur saja, sepak bola Indonesia itu bukan cuma soal taktik. Ada juga tantangan seperti infrastruktur yang seadanya, pemain yang butuh pendekatan khusus, sampai tekanan dari suporter yang emosi jiwa setiap timnas kalah. Apakah Kluivert siap menghadapi semua itu? Atau nanti baru dua bulan sudah stres karena kalah lawan Laos?

PSSI dan Transparansi yang (Tidak) Ada

Yang bikin gemas adalah bagaimana keputusan semacam ini diambil. Kalau kita lihat, sepertinya PSSI sering lupa bahwa mereka harusnya melibatkan publik. Transparansi? Apa itu? Semua keputusan terasa seperti diambil di ruangan tertutup dengan segelintir orang, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi sepak bola nasional. Padahal, sepak bola adalah olahraga rakyat. Suara rakyat itu seharusnya menjadi bahan pertimbangan utama.

Bayangkan, bagaimana jika masyarakat bersatu dan memboikot pertandingan timnas? Tidak ada yang datang ke stadion, tidak ada yang nonton di televisi. PSSI bakal rugi besar karena sponsor kabur, pemasukan tiket nol besar, dan rating televisi anjlok. Percaya deh, tidak sampai setahun mereka akan berpikir dua kali untuk semena-mena membuat keputusan. Suara rakyat adalah kekuatan nyata, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai penggemar sepak bola, kita ini bukan cuma penonton yang bayar tiket, beli jersey, dan teriak di tribun—kita adalah bagian dari ekosistem sepak bola itu sendiri. Jadi, wajar dong kalau kita peduli dan nanya, "Hei, PSSI, yakin keputusan ini sehat buat timnas?" Bukannya sok tahu, tapi kita cuma pengen tahu, keputusan ini dasarnya apa? Karena kalau alasannya cuma sekadar ingin 'coba gaya baru,' timnas ini kan bukan tempat magang ide-ide eksperimen, ya.

Kalau ada yang bilang, "Ah, protes nggak bakal ngaruh," coba pikir lagi. Lihat saja apa yang terjadi kalau masyarakat mulai lebih vokal—bukan buat rusuh, tapi buat ngingetin, "PSSI, sepak bola ini milik semua orang, bukan cuma milik kalian di ruang rapat AC dingin." Misalnya, kita bikin hashtag kreatif atau petisi online, pasti langsung ramai. Siapa tahu trending nomor satu dan jadi tamparan halus buat yang di atas sana.

Tapi, ini lucu juga kalau kita bayangkan langkah ekstrem (meski nggak perlu benar-benar dilakukan, sih). Bayangin semua orang sepakat boikot pertandingan timnas, nggak ada yang beli tiket, stadion kosong melompong, TV rating jeblok. Wah, setahun aja, PSSI pasti bakal mendadak rajin introspeksi sambil berkata, "Oh, ternyata rakyat itu benar-benar peduli, ya!"

Dan buat PSSI, kami cuma mau kasih pesan singkat. Sepak bola ini bukan sekadar lari-lari ngejar bola terus cetak gol. Di dalamnya ada mimpi, ada kebanggaan, ada harapan yang kita gantungkan tinggi. Jadi, kalau mau bikin keputusan besar, ya pikirin juga dampaknya ke mimpi kita bersama. Kalau nggak, nanti jangan heran kalau rakyat bilang, "Ah, udah, mending nonton liga luar negeri aja."


Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...