Di sudut jalan yang berdebu,
Dua tubuh kecil terikat pilu.
Di mata mereka, terbentang luka,
Tak bertepi, tak berujung, tanpa asa.
Dulu, ada hangat di antara desau angin,
Ada bisik lembut yang menenangkan dingin.
Namun kini, hanya bayang kelam tersisa,
Sang ibu pergi, tak lagi bersama.
Langit mendung menjadi saksi bisu,
Bahwa cinta tetap hidup dalam rindu.
Satu pelukan menggantikan dunia,
Menguatkan langkah di tengah gulita.
Jalanan kasar melukai tapak kecil,
Lapar dan takut mengepung tanpa henti.
Namun mereka bertahan dalam senyap,
Seperti daun yang gigih melawan badai yang kerap.
Pelukan itu adalah rumah,
Di dunia yang lupa memberi arah.
Di tengah derai debu dan ancaman malam,
Ada cinta yang bertahan dalam diam.
Tak ada tempat yang menjanjikan hangat,
Hanya dingin batu yang kian pekat.
Namun, pelukan mereka tetap utuh,
Tak goyah oleh angin, tak roboh oleh waktu.
Meski dunia tak peduli,
Dan hidup tak menawarkan arti,
Dua jiwa kecil itu tetap berpelukan,
Melawan kesendirian, melawan ketiadaan.
Di jalan sepi yang tak berpihak,
Tumbuhlah cinta yang paling tabah.
Bukan untuk dikenang, bukan untuk dimengerti,
Tapi untuk bertahan, hingga takdir berhenti.


Comments
Post a Comment