Kalian pernah nggak, nonton film atau acara TV, terus lihat di akhir tayangan, ada daftar panjang nama-nama orang yang terlibat dalam produksi? Mulai dari sutradara, produser, sampai penata cahaya dan editor. Tapi kalau diperhatikan, nggak ada tuh yang mencantumkan gelar akademis di sebelah nama mereka. Padahal, bukannya buat kerja di bidang itu perlu sekolah tinggi, ya? Kok nggak ada yang mencantumkan S.Sn., M.Sn., atau bahkan gelar-gelar internasional seperti MFA atau BFA di situ?
1. Gelar Bukan Segalanya, yang Penting Karya!
Dalam dunia perfilman dan penyiaran, yang paling utama adalah karya. Kalian mau tahu kru yang bagus? Lihat hasil kerjanya, bukan gelarnya. Di industri ini, kredensial itu bukan diukur dari titel di belakang nama, melainkan dari karya yang boom! bikin penonton terpukau. Kalau ada seorang penata kamera yang bisa bikin sinematografi secantik matahari terbenam di Bali, ya sudah, itu lebih berarti daripada sekadar tulisan S.Sn. di belakang namanya.
Jadi, meskipun mereka bisa aja punya gelar keren yang susah dibaca, para kru film memilih menunjukkan siapa mereka lewat layar, bukan lewat titel.
2. Pengalaman di Lapangan > Kelas
Di sekolah film, banyak teori dan praktik yang diajarkan, mulai dari cara ngatur angle kamera sampai mengatur lighting biar nggak kayak lampu tetangga yang kedip-kedip. Tapi, percaya atau nggak, dalam dunia film, pengalaman di lapangan itu lebih berbicara. Industri ini cepat, dinamis, dan sering kali penuh kejutan. Jadi, kemampuan untuk tetap tenang pas ada aktor yang lupa dialog atau peralatan yang ngadat itu nggak bisa didapat dari gelar akademis.
Sutradara ternama kayak Christopher Nolan atau Quentin Tarantino nggak punya gelar akademis di bidang perfilman, lho! Tapi apa film mereka bisa dibilang kurang keren? Ya nggak, kan? Mereka belajar dari pengalaman, bukan dari menjejali kepala dengan teori-teori yang kadang malah bikin pusing.
3. Kredensial Tersembunyi: Nama Mereka Sudah Terkenal!
Gimana cara kalian tahu seorang kru itu ahli di bidangnya? Jawabannya gampang: lihat aja nama proyek yang pernah mereka kerjakan. Nama mereka mungkin nggak ada embel-embel akademis, tapi “reputasi” mereka adalah kredensial tersendiri. Misalnya, kalau ada seorang editor yang pernah menangani film dengan anggaran besar atau acara TV populer, itu sudah jadi semacam gelar kehormatan buat mereka.
Bahkan, beberapa orang bercanda, “Kalau sudah kerja di film Marvel, gelar akademis apa pun sudah lewat, yang penting fans bisa kenal namamu di post-credit!”
4. Praktis dan Hemat Ruang di Layar
Bayangin kalau kredit film punya embel-embel gelar akademis di setiap nama. Bisa-bisa credit title lebih panjang daripada filmnya sendiri! Industri perfilman itu efisien, dan mereka nggak mau memakan waktu penonton dengan tambahan yang nggak relevan.
Jadi, daripada ngasih kredit dengan nama penuh gelar kayak “Jane Doe, M.Sn., Editor Ternama Lulusan Kampus Prestisius,” mereka cukup tulis “Jane Doe” aja. To the point, singkat, dan pas buat di layar besar.
5. Industri Ini “No Judging by Titles”
Mungkin di dunia kerja lain, seperti perkantoran atau dunia hukum, gelar di belakang nama itu penting buat menunjukkan keahlian. Tapi di dunia film? Selama bisa menyelesaikan pekerjaannya, nggak ada yang peduli gelar akademisnya. Karena itulah, dunia film dikenal lebih “demokratis.” Nggak ada aturan baku soal harus lulusan mana buat bisa jadi kru di sini.
Jadi, siapapun yang punya bakat, niat belajar, dan kemampuan buat beradaptasi di lapangan, bisa masuk ke industri ini tanpa perlu dipusingkan oleh gelar.
6. Sedikit Beda, tapi Jadi Daya Tarik
Nah, yang terakhir, nggak adanya gelar akademis ini jadi ciri khas tersendiri. Industri perfilman selalu dianggap sebagai tempat buat orang-orang kreatif yang berani beda, berani berinovasi, dan… berani tampil tanpa titel akademis.
Buat yang beranggapan kalau kru film atau TV itu “nggak sekolah,” mereka salah besar. Banyak dari kru ini punya latar belakang pendidikan yang kuat, hanya saja mereka lebih suka menunjukkan kemampuan daripada mencantumkan gelar. Jadi kalau suatu saat ada yang bilang, “Eh, editor film ini kayaknya nggak sekolah, deh, lihat namanya nggak ada gelarnya,” kasih tahu mereka, bahwa kemampuan dan pengalaman di lapangan jauh lebih berharga di industri ini.
Kesimpulannya
Jadi, kenapa kru film dan TV nggak pakai gelar akademis di nama mereka? Karena di dunia mereka, yang terpenting adalah hasil kerja, kreativitas, dan pengalaman lapangan. Gelar akademis mungkin penting, tapi bukan satu-satunya cara buat menunjukkan keahlian. Karya yang keren, film yang menyentuh, dan sinematografi yang memukau adalah bukti paling nyata dari kemampuan mereka.
Jadi, jangan terkecoh sama kredit yang tanpa gelar akademis ya. Kalian lagi nonton karya orang-orang berbakat yang udah belajar dari lapangan, bukan cuma dari buku. Biar nggak panjang-panjang, cukup lihat saja hasil kerja mereka di layar, karena itu adalah gelar kehormatan yang mereka butuhkan.

Comments
Post a Comment