Skip to main content

Good Job Satan!


Kata pak ustadz di tempat saya mengaji dulu sewaktu saya masih kecil, "Di bulan Ramadhan semua setan dibelenggu.... diikat." Tapi pas siangnya saya lihat di jalan, kok masih banyak yang makan, minum dan merokok di jalan? Setan itu tugasnya menggoda manusia untuk mengerjakan larangan Allah dan menjauhi perintah-Nya kan? Berarti setan masih tetap berkeliaran dong?" Itu pertanyaan pertama saya pada waktu itu. 

Saat SMA saya salah bergaul. Di saat kawan-kawan saya bergaul dengan seumuran mereka, saya malah sering berkumpul dengan mahasiswa IAIN fakultas Ushuluddin. Obrolan kami nggak pernah jauh dari filsafat agama. Plus buku bacaan di rumah yang lebih banyak bertema filsafat dan politik daripada komik, alhasil saya menjadi anak aneh. Pertanyaan kedua muncul setelah salah seorang kawan mengungkit tentang pernyataan bahwa setan dibelenggu di bulan Ramadhan. Dia bilang, "Bukankah Allah sudah membuat kesepakatan dengan iblis untuk membiarkan dia dan keturunannya menggoda manusia hingga hari kiamat? Pernyataan bahwa setan dibelenggu di suatu bulan tertentu bukannya melanggar perjanjian tersebut?"

Hingga pada suatu hari saya menemukan jawabannya melalui ketidaksengajaan. Saat itu saya menjadi mentor untuk editor junior yang masih on the job training. Mereka belajar bagaimana menjadi video editor dengan melihat cara kerja senior yang ditunjuk sebagai mentor, sambil sesekali diberikan pekerjaan ringan di luar jam sibuk. Saya biasanya mengulang-ulang SOP kerja agar mereka ingat. Jika saya tidak lagi dalam posisi dikejar deadline, saya sering memberi mereka kesempatan untuk roughcut, capture materi atau print to tape. Jika saya rasa dia sudah semakin mahir, saya akan membiarkan trainee itu untuk mengedit satu segmen utuh. 

Dari yang awalnya saya bimbing terus akhirnya bisa saya lepas. Bukankah itu yang dilakukan setan selama 11 bulan sebelum bulan Ramadhan? Selama 11 bulan di luar Ramadhan, manusia dibimbing, diarahkan hingga akhirnya nggak lagi membutuhkan setan untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhannya. Maka nggak perlu heran jika masih banyak manusia yang mencuri, tawuran atau korupsi di bulan yang suci ini. Mereka sudah lulus training para setan.

Comments

Popular posts from this blog

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Strategi Teh Pucuk Harum Menggeser Teh Botol Sosro: Dari “Pucuk-pucuk” ke Puncak Pasar

Di dunia minuman teh dalam kemasan, satu nama pernah begitu sakral: Teh Botol Sosro . Tagline legendarisnya— “Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro” —menjadi mantra yang menggema di ruang makan, restoran, hingga warung-warung. Produk ini tak cuma minuman, tapi bagian dari budaya populer. Tapi cerita berubah. Menurut Top Brand Index fase 1 tahun 2022 , posisi puncak tak lagi dipegang Teh Botol Sosro, melainkan Teh Pucuk Harum , pemain yang terhitung baru tapi agresif dan taktis. Bagaimana bisa pemain yang baru diluncurkan pada tahun 2011 ini berhasil menggeser “raja” yang sudah bertakhta sejak 1970-an? Jawabannya adalah kombinasi cerdas antara diferensiasi, konsistensi branding, agresivitas pemasaran, serta kemampuan membaca perubahan perilaku pasar. Mari kita uraikan satu per satu. 1. Diferensiasi: Pucuk Daun, Pucuk Ingatan Teh Pucuk Harum tak datang dengan tangan kosong. Mereka datang dengan satu pesan sederhana tapi kuat: “Teh terbaik ada di pucuknya.” Kalimat ini bukan b...