Skip to main content

Hubungan antara Loneliness, Fear of Missing Out, dan Social Media Addiction pada Gen Z


Pendahuluan

Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan internet dan media sosial di ujung jari mereka. Dari Snapchat sampai Instagram, hidup mereka selalu terhubung dengan dunia digital. Meski teknologi memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan komunikasi dan akses informasi, ada sisi gelap yang harus kita cermati: kesepian (loneliness), Fear of Missing Out (FOMO), dan kecanduan media sosial (social media addiction). Di artikel ini, kita akan ngobrol tentang bagaimana ketiga hal ini saling berkaitan dan mempengaruhi hidup Gen Z.

Kesepian di Era Digital

Aneh, ya? Meski selalu terkoneksi, banyak Gen Z yang merasa kesepian. Sebuah survei oleh Cigna pada tahun 2018 menunjukkan bahwa hampir setengah dari Gen Z merasa kesepian hampir sepanjang waktu. Dr. Vivek Murthy, mantan Surgeon General Amerika Serikat, pernah bilang, "Kesepian bukan tentang berapa banyak orang di sekitar kita, tetapi tentang kualitas hubungan yang kita miliki." Media sosial memang memungkinkan kita terhubung dengan banyak orang, tapi seringkali hubungan ini kurang mendalam dan bermakna.

Bayangkan, kamu melihat teman-temanmu memposting foto-foto mereka bersenang-senang tanpa kamu. Meski kamu berinteraksi dengan mereka secara online, rasa kesepian bisa tetap ada karena interaksi tersebut tidak menggantikan pertemuan tatap muka yang sebenarnya.

Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO adalah perasaan cemas bahwa kamu sedang melewatkan pengalaman berharga yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO menjadi lebih parah karena kita bisa melihat apa yang dilakukan orang lain setiap saat. Penelitian oleh Przybylski et al. (2013) menunjukkan bahwa FOMO berkaitan erat dengan penggunaan media sosial yang berlebihan dan bisa menyebabkan kecemasan serta ketidakpuasan hidup.

Dr. Dan Ariely, seorang profesor psikologi dan ekonomi perilaku di Duke University, bilang, "FOMO membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih baik di luar sana, sehingga kita sulit merasa puas dengan apa yang kita miliki saat ini." FOMO mendorong Gen Z untuk terus memeriksa media sosial mereka, takut ketinggalan momen penting, yang justru memperparah kecemasan dan perasaan tidak bahagia.

Kecanduan Media Sosial

Kecanduan media sosial adalah kondisi di mana kamu merasa perlu untuk selalu terhubung dengan media sosial hingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan kesehatan mentalmu. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Addictions menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

Tristan Harris, mantan desainer etika di Google, mengatakan, "Media sosial dirancang untuk membuat kita terus kembali, dengan pemberitahuan dan algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan waktu layar kita." Algoritma ini sengaja dibuat agar kita terus terlibat, sehingga tidak mengherankan jika banyak orang, khususnya Gen Z, sulit melepaskan diri dari media sosial.

Siklus Berbahaya: Loneliness, FOMO, dan Kecanduan Media Sosial

Ketiga fenomena ini saling terkait dalam siklus yang sulit diputus. Ketika Gen Z merasa kesepian, mereka cenderung mencari koneksi melalui media sosial. Namun, melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia memperburuk FOMO, yang mendorong mereka untuk semakin terlibat dalam media sosial, hingga akhirnya bisa menjadi kecanduan. Siklus ini menciptakan lingkaran setan yang memperburuk kesehatan mental.

Studi oleh Dhir et al. (2018) menemukan bahwa FOMO memediasi hubungan antara penggunaan media sosial dan kesepian. Artinya, semakin tinggi FOMO seseorang, semakin besar kemungkinan mereka merasa kesepian meskipun mereka aktif di media sosial.

Mengatasi Tantangan Ini

Mengatasi masalah kesepian, FOMO, dan kecanduan media sosial pada Gen Z memerlukan pendekatan yang holistik. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Meningkatkan Kesadaran dan Pendidikan: Penting untuk menyadarkan Gen Z tentang dampak negatif penggunaan media sosial yang berlebihan. Pendidikan mengenai manajemen waktu dan strategi untuk mengurangi FOMO dapat membantu mereka menggunakan media sosial dengan lebih bijak.

  2. Mendorong Koneksi Sosial yang Bermakna: Meskipun media sosial dapat menjadi alat untuk tetap terhubung, hubungan tatap muka tetap penting. Mengajak Gen Z terlibat dalam kegiatan sosial di dunia nyata, seperti berpartisipasi dalam komunitas lokal atau mengikuti hobi yang melibatkan interaksi langsung, dapat membantu mengurangi kesepian.

  3. Mengembangkan Kebiasaan Digital yang Sehat: Mengatur waktu layar dan menetapkan batasan untuk penggunaan media sosial dapat membantu mengurangi risiko kecanduan. Aplikasi yang memantau dan membatasi waktu di media sosial bisa sangat membantu.

  4. Mendukung Kesehatan Mental: Memberikan akses mudah ke layanan kesehatan mental dan dukungan psikologis sangat penting. Program seperti konseling online dan terapi kelompok bisa memberikan dukungan yang diperlukan.

  5. Meningkatkan Keterlibatan di Dunia Nyata: Mengajak Gen Z lebih terlibat dalam aktivitas di dunia nyata, seperti olahraga, seni, dan kegiatan komunitas, bisa membantu mereka menemukan makna dan kebahagiaan di luar dunia digital.

Kesimpulan

Gen Z menghadapi tantangan unik di era digital. Kesepian, FOMO, dan kecanduan media sosial adalah masalah yang saling terkait dan memerlukan perhatian serius. Dengan pendekatan yang tepat, Gen Z dapat mengatasi tantangan ini dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan memuaskan. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Vivek Murthy, "Hubungan sosial yang bermakna adalah penangkal terbaik terhadap kesepian." Menemukan keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata adalah kunci bagi kesejahteraan generasi ini.

Daftar Pustaka

  1. Cigna. (2018). U.S. Loneliness Index.
  2. Murthy, V. (2017). Together: The Healing Power of Human Connection in a Sometimes Lonely World.
  3. Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841-1848.
  4. Ariely, D. (2016). The (Honest) Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone--Especially Ourselves.
  5. Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(3), 311.
  6. Harris, T. (2018). The Social Dilemma.
  7. Dhir, A., et al. (2018). Online Social Media Fatigue and Psychological Wellbeing—A Study of Compulsive Use, Fear of Missing Out, Fatigue, Anxiety and Depression. International Journal of Information Management, 40, 141-152.
  8. Murthy, V. (2020). Together: The Healing Power of Human Connection in a Sometimes Lonely World.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...