Skip to main content

Ternyata Aku Tak Sepenting Itu


Dulu, setiap kali aku berbicara, ada telinga yang mendengar. Setiap kali aku menulis, ada mata yang membaca. Setiap kali aku membagikan sesuatu, ada hati yang merespons. Rasanya, aku berarti. Aku punya tempat. Aku punya peran.

Tapi waktu, seperti biasa, tak pernah bisa diajak berkompromi. Lima tahun berlalu begitu saja. Orang-orang yang dulu begitu dekat kini terasa seperti bayangan samar di kejauhan. Grup yang pernah riuh dengan diskusi kini hanya sekadar notifikasi sunyi yang jarang kubuka. Status yang dulu mengundang tawa dan percakapan kini hanya menjadi sekadar cerita yang mungkin mereka lihat, tapi tak lagi menarik untuk dibahas. Aku tak lagi sepenting itu.

Aku tak lagi sepenting itu.

Kalimat itu menyelinap masuk ke dalam hatiku, membebani pikiranku dengan kesedihan yang tak kukira akan terasa begitu nyata. Bukan karena aku ingin terus diperhatikan, bukan karena aku haus akan validasi. Tapi karena aku baru sadar bahwa dunia bisa berputar dengan atau tanpa aku. Kehadiran yang dulu terasa begitu berpengaruh ternyata hanya sekilas, hanya sementara. Aku bukan bagian dari orbit mereka lagi.

Aku duduk dalam diam, mencoba memahami perasaan ini. Mencoba mencari alasan mengapa kenyataan ini terasa begitu menyakitkan. Dan saat aku melihat ke belakang, aku tahu jawabannya: karena aku pernah ada di sana. Aku pernah menjadi bagian dari cerita mereka. Aku pernah diingat. Aku pernah dibutuhkan. Aku pernah mengisi ruang di dalam kehidupan mereka, walau hanya sebentar.

Tapi hidup terus berjalan, kan? Kita semua tumbuh. Kita semua berubah. Kita semua terpisah oleh waktu dan keadaan. Dan mungkin, ini bukan soal aku tak lagi penting. Mungkin ini hanya soal kehidupan yang menuntun kita ke arah yang berbeda. Aku pun begitu. Aku pun pernah meninggalkan orang-orang yang dulu dekat denganku. Bukan karena aku tak peduli, tapi karena hidup memang memaksa kita untuk terus bergerak.

Aku belajar satu hal: makna kita dalam hidup seseorang tak diukur dari seberapa sering mereka masih mengingat kita, tapi dari seberapa besar kita pernah hadir dalam perjalanan mereka. Aku mungkin bukan siapa-siapa lagi bagi mereka sekarang, tapi aku pernah ada. Aku pernah berarti. Dan meskipun mereka tak lagi merespons dengan cara yang sama, aku tahu, di satu titik dalam hidup mereka, aku adalah bagian dari cerita yang pernah mereka jalani.

Jadi, meskipun aku tak sepenting itu lagi, aku akan tetap ada. Bukan untuk terus meminta perhatian, bukan untuk terus berharap diingat, tapi untuk menerima bahwa tak semua kehadiran harus selalu dikenang untuk tetap memiliki makna.

Karena bagaimanapun juga, aku pernah ada. Dan itu sudah cukup.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...