Skip to main content

Surga Para Koruptor: Sebuah Negeri di Mana Maling Dipeluk, Rakyat Diperas


Di sebuah negeri nan indah dengan gunung yang megah, pantai yang menawan, dan penduduk yang ramah, ada satu kebiasaan unik yang membuat dunia geleng-geleng kepala. Bukan karena inovasi teknologi, bukan pula karena pencapaian luar biasa dalam ilmu pengetahuan, tapi karena satu hal yang sudah mendarah daging: korupsi kelas kakap yang malah bikin pelakunya hidup lebih enak.

Ya, di negeri ini, maling uang rakyat bukan sekadar kejahatan, melainkan sebuah life hack. Jika di tempat lain maling dipenjara dan dihukum berat, di sini maling duit negara bisa naik jabatan, dihormati, bahkan dijadikan panutan. Asal pintar berbicara dan punya jaringan kuat, uang rakyat bisa jadi ATM pribadi. Uniknya lagi, jika sampai tertangkap, bukan hukuman berat yang didapat, tapi fasilitas mewah yang bikin penjara lebih mirip resort.

Penjara Rasa Hotel Bintang Lima

Bayangkan seorang koruptor kelas atas tertangkap. Awalnya, rakyat bersorak, mengira keadilan akan ditegakkan. Tapi eits, tunggu dulu! Begitu masuk bui, bukan lantai dingin dan kasur keras yang menyambut, melainkan kamar luas ber-AC dengan TV layar datar, kasur empuk, bahkan layanan katering makanan lezat. Jika bosan? Ada izin keluar, entah untuk ‘berobat’ atau sekadar ‘menyegarkan pikiran’. Bahkan, beberapa yang beruntung masih bisa mengurus bisnis dari dalam penjara. Enak betul hidup ini!

Sementara itu, rakyat jelata yang ketahuan mencuri sandal jepit bisa langsung dibui bertahun-tahun dengan fasilitas yang lebih mengenaskan daripada kandang ayam. Ah, betapa adilnya negeri ini!

Dari Janji Manis ke Kenyataan Pahit

Tentu saja, saat musim kampanye, para petinggi negeri ini selalu berkoar-koar tentang betapa mereka akan menghabisi koruptor. “Korupsi adalah musuh utama kita!” kata mereka dengan penuh semangat. Kamera berputar, media meliput, rakyat terharu. Tapi begitu mereka duduk di kursi empuk kekuasaan, janji-janji tadi lenyap seperti embun pagi diterpa matahari siang.

Bahkan ada pemimpin baru yang awalnya garang soal korupsi, bilang akan menindak tegas, akan membersihkan negeri ini dari maling uang rakyat. Eh, baru sebentar duduk di atas, tiba-tiba sikapnya berubah. “Kalau para koruptor mengembalikan uangnya, kita maafkan saja,” katanya dengan penuh welas asih.

Luar biasa! Jadi, di negeri ini, maling uang negara bukan dosa, tapi lebih seperti pinjaman tanpa bunga. Ketahuan? Tenang, cukup kembalikan sebagian uang yang diambil, lalu bisa hidup tenang lagi. Bahkan mungkin dapat jabatan baru. Sementara itu, rakyat yang telat bayar pajak sepeser dua peser bisa langsung diuber dengan ancaman denda dan sanksi. Indahnya dunia!

Pemimpin Idaman Dunia… atau Dunia Lain?

Yang lebih kocak, mantan pemimpin negeri ini baru saja masuk nominasi dalam daftar pemimpin terkorup. Biasanya, kalau ada prestasi buruk begini, seorang pemimpin akan merasa malu, akan introspeksi, akan membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Tapi tidak, bukan begitu cara kerja di negeri ajaib ini. Alih-alih malu, para pejabatnya justru tetap bangga dan menganggap itu sebagai angin lalu.

“Ah, itu hanya tuduhan politik,” kata mereka sambil tersenyum. Ya tentu, semuanya adalah konspirasi, semuanya ada agenda tersembunyi. Bahkan kalau rakyat protes, yang dipermasalahkan justru rakyatnya. “Jangan terlalu negatif, mari kita bangun negeri bersama!” katanya. Maksudnya: diam dan terima saja.

Rakyat: Sabar Tak Berujung

Sementara para penguasa sibuk bermain monopoli dengan uang rakyat, mereka yang seharusnya mendapat manfaat justru terus dipalak. Pajak naik, harga kebutuhan pokok melambung, tapi upah tetap segitu-gitu saja. Di negeri ini, hanya rakyat yang harus berhemat. Pejabat? Boleh foya-foya!

Setiap hari, rakyat dihibur dengan sinetron politik, drama pemilu, serta janji-janji yang tak akan pernah ditepati. Saat pemilu tiba, mereka diiming-imingi bantuan, tapi setelah pesta demokrasi selesai, yang dapat bantuan malah orang-orang kaya. Kalau ada rakyat yang berani mengkritik? Bisa-bisa dianggap ‘mengganggu stabilitas negara’. Memangnya siapa yang paling mengancam kestabilan, sih? Rakyat atau para koruptor?

Akankah Ada Harapan?

Di tengah semua kekacauan ini, harapan masih ada. Bukan dari pejabat yang suka obral janji, tapi dari rakyat yang semakin cerdas. Rakyat yang tahu bahwa mereka hanya dianggap sebagai sapi perah yang harus diam dan tetap bekerja, sementara yang di atas pesta pora tanpa malu.

Pertanyaannya, sampai kapan rakyat mau diam? Sampai kapan mau terus tertipu dengan sandiwara yang sama? Kalau terus begini, negeri ini akan tetap jadi surga bagi koruptor, tapi neraka bagi orang jujur.

Atau… mungkin kita harus mulai berpikir ulang. Kalau maling uang negara hanya perlu ‘mengembalikan’ hasil jarahannya untuk bebas, mungkin sudah waktunya rakyat ikut-ikutan? Biar sekalian saja, semua maling dimuliakan!

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...