(untuk Ahmed Mansour)
Di pagi yang sunyi tapi bergemuruh,
Khan Younis menyaksikan sejarah ditulis tanpa pena—
melainkan dengan tubuh yang menyala.
Ahmed Mansour, namamu kini lebih nyaring dari sirene,
lebih lantang dari peluru,
lebih abadi dari arsip berita yang kau tinggalkan.
Kau tidak mati, Ahmed.
Kau menjemput syahidmu,
dengan langkah gagah menuju langit,
dari tenda kecil bertuliskan “PRESS”
yang mereka bakar tanpa ampun—
tepat di jantung rumah sakit yang seharusnya jadi perlindungan.
Ketika langit penuh drone dan kebohongan,
kau tetap menyalakan suara di antara reruntuhan.
Sementara tangan-tangan pengecut bersembunyi di balik layar negosiasi,
kau berdiri di garis depan
bukan untuk menyerang,
tapi untuk menyaksikan dan menceritakan,
tentang Gaza yang berdarah,
tentang anak-anak yang tak pernah bangun dari tidur panjang mereka,
tentang bumi yang terus digerogoti roket dan kebisuan dunia.
Namun pagi itu,
senyap berubah menjadi jeritan.
Api menjilat kain, kayu, dan nyawa.
Video tubuhmu yang terbakar menyebar ke seluruh dunia,
tapi bukan hanya tubuh yang terbakar—
kesadaran kami pun ikut terbakar.
Mereka bilang tak ada peringatan.
Tidak ada peringatan untuk kebenaran.
Tidak ada peringatan untuk kemuliaan seorang wartawan
yang memilih mati dalam tugas
daripada hidup dalam tunduk dan kompromi.
Dan lihatlah para pemimpin Arab,
yang tetap duduk nyaman di singgasana emas,
menghindari luka demi kontrak dagang,
berjabat tangan dengan penjajah yang membakar rakyat mereka sendiri.
Mereka, yang bahkan tak sanggup mengecam lantang
serangan atas tenda tempat kalian berteduh.
Mereka lebih sibuk merias wajah diplomasi
daripada membela jiwa-jiwa yang dimusnahkan secara sistematis.
Ahmed, kau terbakar
tapi mereka yang lebih dulu hangus—oleh ketakutan, oleh kehinaan, oleh kelumpuhan hati.
Kau sendirian, namun lebih gagah dari seluruh blok Arab
yang memilih diam atas 61 ribu jiwa yang telah jadi abu.
Kau adalah wartawan ke-211 yang gugur—
tapi kau adalah puncak dari seluruh luka itu.
Karena jasadmu yang hangus adalah simbol,
bahwa jurnalisme di Gaza bukan sekadar profesi,
tapi bentuk ibadah tertinggi dalam menyuarakan penderitaan umat.
Hari ini kami tak membaca beritamu, Ahmed.
Kami membaca syairmu.
Syair yang kau tulis dengan luka,
dengan kulit yang menghitam namun jiwa yang memutih,
dengan suara yang kini tak bersuara,
namun menggema di seluruh hati yang masih waras.
Engkau bukan korban.
Engkau adalah panji terakhir bagi yang masih percaya bahwa pena
lebih tajam dari misil,
dan kebenaran
tak bisa dibungkam oleh apapun selain kematian—
yang kini justru jadi pembebasmu.
Tidurlah, Ahmed.
Dengan helm yang kini jadi mahkota cahaya.
Dengan kamera yang kini jadi saksi di Mahkamah Akhirat.
Dengan tubuh yang pernah terbakar,
tapi jiwamu akan terus menyalakan dunia.
Dan bagi mereka yang masih hidup,
yang masih punya lidah tapi memilih diam,
yang masih punya kekuasaan tapi memilih tunduk:
ketahuilah—
seorang jurnalis telah gugur,
tapi keberaniannya kini telah berpindah ke dalam dada kami.
Dan apimu, Ahmed—
telah menjadi milik seluruh manusia
yang masih punya keberanian untuk melawan.

Comments
Post a Comment