Bayangkan sebuah negara yang dipimpin oleh seseorang yang emosinya seperti roller coaster—kadang meledak-ledak, kadang menangis, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak tanpa alasan yang jelas. Di suatu rapat penting, ia bisa saja mendadak membanting meja atau melontarkan kata-kata kasar hanya karena berbeda pendapat. Mungkin hari ini ia memuji seseorang sebagai pahlawan, tapi besoknya malah menganggap orang yang sama sebagai pengkhianat. Seorang pemimpin dengan ketidakstabilan emosi bukan sekadar karakter unik, tetapi ancaman yang nyata bagi negara dan rakyatnya.
Ketidakstabilan Emosi: Masalah Serius, Bukan Cuma 'Sifat Keras'
Dalam psikologi, ada beberapa istilah yang bisa menggambarkan pemimpin dengan emosi yang tidak stabil. Salah satunya adalah impulsivity, yakni kecenderungan untuk bertindak tanpa berpikir panjang akibat dorongan emosi sesaat. Impulsivitas ini berbahaya, terutama ketika orang yang mengalaminya memegang kekuasaan besar. Keputusan yang dibuat dalam keadaan emosi yang tidak terkontrol bisa berujung pada kekacauan sosial, konflik, bahkan perang.
Selain itu, ada narcissistic personality disorder (NPD) yang sering kali melekat pada pemimpin yang merasa dirinya selalu benar dan tidak mau dikritik. Pemimpin dengan kecenderungan narsistik sering kali marah besar ketika dikoreksi, menganggap perbedaan pendapat sebagai serangan pribadi, dan lebih mementingkan pencitraan daripada kepentingan rakyat.
Ada juga paranoia, yaitu rasa curiga berlebihan yang membuat seorang pemimpin melihat ancaman di mana-mana, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Akibatnya, ia bisa melakukan pembersihan besar-besaran, mencopot atau bahkan menghilangkan siapa saja yang dianggap berpotensi mengkhianatinya. Bukannya fokus membangun negara, ia justru sibuk menyingkirkan musuh yang mungkin hanya ada dalam pikirannya sendiri.
Ledakan Emosi = Kebijakan yang Berantakan
Sejarah mencatat bahwa beberapa pemimpin dengan ketidakstabilan emosi telah menyebabkan kehancuran bagi negara mereka sendiri. Ada yang terkenal karena sering membentak bawahannya di depan publik, melemparkan barang saat marah, atau menggebrak meja hanya karena tidak setuju dengan opini orang lain. Hal seperti ini bukan hanya mencerminkan kurangnya kontrol diri, tetapi juga menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika emosi yang tidak terkendali ini sampai memengaruhi kebijakan negara. Bayangkan jika seorang pemimpin membuat keputusan ekonomi hanya karena sedang bad mood atau memutuskan hubungan diplomatik karena tersinggung oleh pernyataan seorang pejabat asing. Dalam kondisi seperti ini, negara bisa terjebak dalam situasi yang berbahaya hanya karena pemimpinnya tidak bisa mengontrol emosinya.
Di beberapa kasus, pemimpin seperti ini juga punya kebiasaan menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahannya sendiri. Misalnya, ketika negara mengalami krisis, ia tidak akan mengakui kebijakannya yang salah, tetapi justru menuding oposisi, media, atau bahkan negara asing sebagai biang keladinya. Sikap defensif semacam ini membuatnya sulit untuk menerima masukan yang konstruktif.
Dampak pada Rakyat: Dari Ketakutan hingga Kebingungan Massal
Ketika pemimpin memiliki ketidakstabilan emosi, rakyatlah yang paling merasakan dampaknya. Ada pemimpin yang pernah begitu marah hingga memerintahkan eksekusi massal, ada pula yang mengubah kebijakan setiap kali emosinya berubah. Hari ini bisa saja ia berbicara tentang perdamaian, tapi besoknya menyerukan perang karena tersinggung oleh kritik di media sosial.
Fenomena seperti ini bisa menyebabkan anxiety disorder di kalangan rakyat. Ketidakpastian yang terus-menerus membuat masyarakat hidup dalam ketakutan, tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ekonomi bisa lumpuh karena investor takut dengan kebijakan yang tidak stabil, hukum menjadi tidak jelas karena peraturan sering berubah-ubah sesuai dengan mood sang pemimpin.
Lebih buruk lagi, pemimpin dengan emosi yang tidak stabil sering kali dikelilingi oleh orang-orang yang hanya berani berkata ‘ya’. Mereka yang mencoba memberikan masukan jujur justru dianggap sebagai musuh dan disingkirkan. Akibatnya, negara dijalankan oleh orang-orang yang hanya berusaha menyenangkan pemimpin, bukan yang benar-benar kompeten.
Ketika Pemimpin Tidak Bisa Mengendalikan Diri, Negara yang Akan Kacau
Seorang pemimpin harus memiliki emotional intelligence (EQ) yang tinggi, yakni kemampuan untuk mengenali, mengontrol, dan menyalurkan emosinya dengan cara yang sehat. Jika seorang pemimpin tidak bisa mengontrol emosinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa mengelola negara yang jauh lebih kompleks?
Salah satu tanda bahaya terbesar adalah ketika pemimpin sering merespons kritik dengan kemarahan berlebihan. Seorang pemimpin yang bijak akan menerima kritik sebagai masukan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, pemimpin yang emosinya tidak stabil akan langsung menyerang balik, entah dengan kata-kata kasar, ancaman, atau bahkan tindakan represif. Ini menunjukkan ketidakmampuannya dalam menghadapi tekanan—sesuatu yang seharusnya menjadi syarat utama bagi seorang pemimpin.
Diktator Emosional: Senjata yang Bisa Meledak Kapan Saja
Seorang pemimpin yang emosinya tidak stabil ibarat bom waktu. Kita tidak pernah tahu kapan ia akan meledak, dan ketika itu terjadi, dampaknya bisa menghancurkan banyak hal. Ketika pemimpin bertindak berdasarkan dorongan hati yang tidak terkendali, negara kehilangan arah. Semua keputusan menjadi tidak rasional, penuh dengan unsur balas dendam, dan sering kali dibuat hanya untuk memuaskan ego pribadi.
Dalam sejarah, sudah terlalu banyak contoh tentang bagaimana pemimpin yang tidak bisa mengendalikan emosinya telah menyebabkan perang, kehancuran ekonomi, bahkan genosida. Jika sebuah negara dipimpin oleh seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, maka siapa yang akan menjamin kestabilan bangsa itu?
Pada akhirnya, memilih pemimpin bukan hanya soal popularitas atau citra di media. Yang lebih penting adalah apakah ia memiliki stabilitas emosi dan mampu berpikir jernih dalam kondisi apa pun. Jika seorang pemimpin mudah tersulut emosi, sulit menerima kritik, dan selalu mencari kambing hitam, maka tinggal menunggu waktu sebelum kekacauan terjadi.
Karena ketika seorang pemimpin tidak bisa mengontrol emosinya, seluruh rakyatlah yang harus membayar harga dari ketidakmampuannya itu.

Comments
Post a Comment