Di sebuah kamar sempit berbau kopi basi dan sisa deadline yang tak pernah usai, hiduplah seorang makhluk malam bernama Arnest. Ia bukan vampir, bukan juga hantu penasaran. Ia lebih menakutkan dari keduanya—seorang video editor freelance.
Pekerjaannya? Menyulap footage gelap, audio bocor, dan permintaan klien absurd menjadi karya visual yang "wow" di mata netizen, meski seringkali "meh" di matanya sendiri.
Arnest punya satu musuh bebuyutan yang tak pernah bisa ia kalahkan: Permintaan edit kecil.
BAB 1: “Cuma Potong Dikit, Mas... 10 Menit Aja Kok!”
Hari itu, matahari bersinar terang, burung-burung berkicau... tapi Arnest tidak tahu. Ia baru saja tidur pukul 5 pagi setelah merender video ulang karena typo satu huruf: “Selamat Datang di Bapakku” harusnya “Selamat Datang di Bappeda.”
Pukul 10 pagi, HP-nya bergetar. Klien: Mas Iwan, pemilik akun YouTube "Iwan Review Segala" yang kontennya campur sari dari unboxing galon hingga review tempat wudhu.
“Mas Arnest, videonya udah oke bangeeet... Cuma potong dikit bagian aku ngupil, ya? Nggak lama kok, 10 menit paling!”
Arnest, yang masih setengah sadar, menjawab: “Siap, Mas!”
Ternyata potongan “ngupil” itu muncul 8 kali di seluruh footage. Satu di antaranya berdurasi 2 menit karena Iwan sambil ngobrol filosofi kehidupan. Di tengah proses itu, Arnest juga menemukan audio tiba-tiba hilang, footage nge-lag, dan ada logo klien yang tiba-tiba berubah font dari Arial ke Comic Sans entah kenapa.
Sepuluh menit edit? Bohong. Ini bukan edit, ini operasi plastik digital.
BAB 2: Timeline Neraka dan Teh Tawar Bertubi-tubi
Proyek kecil yang dijanjikan klien sebagai “cuma motong dikit” berubah jadi 9 track audio, 15 lapisan video, dan 3 jam teriak dalam hati.
Arnest mulai bicara pada dirinya sendiri:
“Kenapa aku ambil kerjaan ini? Kenapa aku nggak jadi tukang parkir aja? Hidup damai, nggak ada revisi.”
Sambil menyeruput teh tawar (karena kopi sudah terlalu banyak dan hatinya sudah terlalu pahit), ia menatap layar. Adobe Premiere Pro terbuka seperti kapal Titanic yang baru nabrak es. Lambat, berat, dan siap tenggelam.
Tiba-tiba... crash.
“Aplikasi tidak merespon.”
Ia menatap notifikasi itu dengan tatapan kosong, lalu tertawa kecil seperti orang yang baru kehilangan arah hidup.
BAB 3: “Mas, Ini Udah Final ya... Eh, Tapi…”
Setelah dua hari tidak tidur, makan mie 4 kali sehari, dan hidup dengan harapan palsu, akhirnya video selesai.
Namanya? Final_FINAL_FIX_OK_PakaiIniAja.mp4
Arnest kirim ke klien, lalu rebahan sambil memainkan lagu kemenangan.
Sepuluh menit kemudian...
“Mas... sorry ya, baru liat. Tapi bisa nggak kalau bagian aku ketawa dibikin slowmo? Terus tambahin transisi ledakan kayak di film Fast & Furious. Sama tambahin backsound dangdut remix dikit... Biar pecah!”
Arnest menarik napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu apakah ini penderitaan atau ujian spiritual.
BAB 4: Balada Versi Ke-27
Folder kerja Arnest sudah seperti museum arkeologi: penuh artefak versi editan yang tak pernah dihapus karena “siapa tahu perlu balik ke versi sebelumnya.”
-
FINAL.mp4
-
FINAL_FINAL.mp4
-
FINAL_FIX.mp4
-
FINAL_FIX_Beneran.mp4
-
FINAL_FIX_Beneran_Terakhir.mp4
-
FINAL_FINAL_v27_BeneranFinal_KaliIniYakin.mp4
Dan entah kenapa, klien selalu minta balik ke versi ke-3, padahal sudah versi ke-27.
Arnest mulai mencurigai bahwa klien sebenarnya adalah makhluk dari dimensi lain yang makanannya adalah energi mental editor yang tersiksa.
BAB 5: Revisi, Render, Repeat
Revisi demi revisi datang seperti utang negara—tak kunjung lunas. Setiap render adalah pertaruhan hidup. Kadang 98% tiba-tiba crash. Kadang hasil render blank. Kadang... muncul watermark “Made with Trial Version” padahal sudah bayar lisensi.
Arnest menyalahkan segalanya: cuaca, kabel HDMI, bahkan posisi duduknya.
Tapi yang paling ia benci?
“Mas, bisa ga resolusinya jadi 4K? Biar tajam. Tapi ukuran file tetep kecil ya, maksimal 10MB.”
Arnest ingin membalas: “Mau bikin film Marvel pake kuota WhatsApp?”
Tapi dia hanya menjawab: “Siap, Mas. Saya coba akali ya.”
BAB 6: Penderitaan yang Dibayar Minim
Setelah tiga minggu mengedit, revisi 12 kali, dan kehilangan 40% rambut, Arnest akhirnya mengirim versi FINAL_FINAL_FINAL_YANG_INI_AJA_PLS.mp4 dengan doa dan air mata.
Klien menjawab:
“Waaah... keren banget Mas! Thanks ya. BTW bisa nggak bantu edit satu video lagi? Cuma kecil-kecil juga, paling 5 menit…”
Arnest tersenyum. Tangannya gemetar. Matanya sudah tidak merah, tapi abu-abu.
Ia balas:
“Bisa, Mas. Kirim aja bahannya.”
Epilog: Karena Cinta
Arnest tahu ini melelahkan. Ia tahu penderitaan ini mungkin tak berujung. Tapi ketika melihat hasil editannya tayang, ditonton orang, dikomen “KEREN BANGET,” hatinya hangat.
Ia tersenyum kecil.
“Ini yang bikin gue tetep ngedit... walau tiap hari pengen resign.”
Dan ia pun lanjut mengedit.
Dengan satu tangan di mouse, dan satu tangan memijat pelipis.
Akhir cerita? Masih ditulis... di file bernama FINAL_FINAL_2025_YangIniSeriusFinal.mp4

Comments
Post a Comment