Skip to main content

Balada Si Editor: Final_Final_V27_FIX_BeneranTerakhir.mp4


Di sebuah kamar sempit berbau kopi basi dan sisa deadline yang tak pernah usai, hiduplah seorang makhluk malam bernama Arnest. Ia bukan vampir, bukan juga hantu penasaran. Ia lebih menakutkan dari keduanya—seorang video editor freelance.

Pekerjaannya? Menyulap footage gelap, audio bocor, dan permintaan klien absurd menjadi karya visual yang "wow" di mata netizen, meski seringkali "meh" di matanya sendiri.

Arnest punya satu musuh bebuyutan yang tak pernah bisa ia kalahkan: Permintaan edit kecil.


BAB 1: “Cuma Potong Dikit, Mas... 10 Menit Aja Kok!”

Hari itu, matahari bersinar terang, burung-burung berkicau... tapi Arnest tidak tahu. Ia baru saja tidur pukul 5 pagi setelah merender video ulang karena typo satu huruf: “Selamat Datang di Bapakku” harusnya “Selamat Datang di Bappeda.”

Pukul 10 pagi, HP-nya bergetar. Klien: Mas Iwan, pemilik akun YouTube "Iwan Review Segala" yang kontennya campur sari dari unboxing galon hingga review tempat wudhu.

“Mas Arnest, videonya udah oke bangeeet... Cuma potong dikit bagian aku ngupil, ya? Nggak lama kok, 10 menit paling!”

Arnest, yang masih setengah sadar, menjawab: “Siap, Mas!”

Ternyata potongan “ngupil” itu muncul 8 kali di seluruh footage. Satu di antaranya berdurasi 2 menit karena Iwan sambil ngobrol filosofi kehidupan. Di tengah proses itu, Arnest juga menemukan audio tiba-tiba hilang, footage nge-lag, dan ada logo klien yang tiba-tiba berubah font dari Arial ke Comic Sans entah kenapa.

Sepuluh menit edit? Bohong. Ini bukan edit, ini operasi plastik digital.


BAB 2: Timeline Neraka dan Teh Tawar Bertubi-tubi

Proyek kecil yang dijanjikan klien sebagai “cuma motong dikit” berubah jadi 9 track audio, 15 lapisan video, dan 3 jam teriak dalam hati.

Arnest mulai bicara pada dirinya sendiri:

“Kenapa aku ambil kerjaan ini? Kenapa aku nggak jadi tukang parkir aja? Hidup damai, nggak ada revisi.”

Sambil menyeruput teh tawar (karena kopi sudah terlalu banyak dan hatinya sudah terlalu pahit), ia menatap layar. Adobe Premiere Pro terbuka seperti kapal Titanic yang baru nabrak es. Lambat, berat, dan siap tenggelam.

Tiba-tiba... crash.

“Aplikasi tidak merespon.”

Ia menatap notifikasi itu dengan tatapan kosong, lalu tertawa kecil seperti orang yang baru kehilangan arah hidup.


BAB 3: “Mas, Ini Udah Final ya... Eh, Tapi…”

Setelah dua hari tidak tidur, makan mie 4 kali sehari, dan hidup dengan harapan palsu, akhirnya video selesai.

Namanya? Final_FINAL_FIX_OK_PakaiIniAja.mp4

Arnest kirim ke klien, lalu rebahan sambil memainkan lagu kemenangan.

Sepuluh menit kemudian...

“Mas... sorry ya, baru liat. Tapi bisa nggak kalau bagian aku ketawa dibikin slowmo? Terus tambahin transisi ledakan kayak di film Fast & Furious. Sama tambahin backsound dangdut remix dikit... Biar pecah!”

Arnest menarik napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Ia tak tahu apakah ini penderitaan atau ujian spiritual.


BAB 4: Balada Versi Ke-27

Folder kerja Arnest sudah seperti museum arkeologi: penuh artefak versi editan yang tak pernah dihapus karena “siapa tahu perlu balik ke versi sebelumnya.”

  • FINAL.mp4

  • FINAL_FINAL.mp4

  • FINAL_FIX.mp4

  • FINAL_FIX_Beneran.mp4

  • FINAL_FIX_Beneran_Terakhir.mp4

  • FINAL_FINAL_v27_BeneranFinal_KaliIniYakin.mp4

Dan entah kenapa, klien selalu minta balik ke versi ke-3, padahal sudah versi ke-27.

Arnest mulai mencurigai bahwa klien sebenarnya adalah makhluk dari dimensi lain yang makanannya adalah energi mental editor yang tersiksa.


BAB 5: Revisi, Render, Repeat

Revisi demi revisi datang seperti utang negara—tak kunjung lunas. Setiap render adalah pertaruhan hidup. Kadang 98% tiba-tiba crash. Kadang hasil render blank. Kadang... muncul watermark “Made with Trial Version” padahal sudah bayar lisensi.

Arnest menyalahkan segalanya: cuaca, kabel HDMI, bahkan posisi duduknya.

Tapi yang paling ia benci?

“Mas, bisa ga resolusinya jadi 4K? Biar tajam. Tapi ukuran file tetep kecil ya, maksimal 10MB.”

Arnest ingin membalas: “Mau bikin film Marvel pake kuota WhatsApp?”

Tapi dia hanya menjawab: “Siap, Mas. Saya coba akali ya.”


BAB 6: Penderitaan yang Dibayar Minim

Setelah tiga minggu mengedit, revisi 12 kali, dan kehilangan 40% rambut, Arnest akhirnya mengirim versi FINAL_FINAL_FINAL_YANG_INI_AJA_PLS.mp4 dengan doa dan air mata.

Klien menjawab:

“Waaah... keren banget Mas! Thanks ya. BTW bisa nggak bantu edit satu video lagi? Cuma kecil-kecil juga, paling 5 menit…”

Arnest tersenyum. Tangannya gemetar. Matanya sudah tidak merah, tapi abu-abu.

Ia balas:

“Bisa, Mas. Kirim aja bahannya.”


Epilog: Karena Cinta

Arnest tahu ini melelahkan. Ia tahu penderitaan ini mungkin tak berujung. Tapi ketika melihat hasil editannya tayang, ditonton orang, dikomen “KEREN BANGET,” hatinya hangat.

Ia tersenyum kecil.

“Ini yang bikin gue tetep ngedit... walau tiap hari pengen resign.”

Dan ia pun lanjut mengedit.

Dengan satu tangan di mouse, dan satu tangan memijat pelipis.


Akhir cerita? Masih ditulis... di file bernama FINAL_FINAL_2025_YangIniSeriusFinal.mp4

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...