(a tribute to Milan, 1994)
Malam itu di Athena, bintang-bintang seolah bersiap menari untuk satu nama: Barcelona. Di udara, aroma keangkuhan menggantung lembut, dibalut jubah prediksi dan angka-angka. Mereka menyebut ini pertarungan yang tak setara. Di satu sisi: Dream Team. Di sisi lain: tim yang katanya cacat, pincang, dan kehilangan napas.
Media menulis dengan tinta kepastian—"Barcelona akan menang."
Mereka berbicara seolah sepak bola hanyalah statistik, dan kemenangan bisa disusun dengan algoritma.
Mereka lupa satu hal: sepak bola bukan hanya soal nama di atas kertas. Sepak bola adalah 90 menit kenyataan. Dan kenyataan, kadang tidak membaca koran pagi.
Di ruang ganti AC Milan malam itu, tak ada suara keras. Hanya tatapan tajam dan napas berat. Fabio Capello berdiri, bukan dengan rencana besar yang megah, tapi dengan satu pesan sederhana:
"Biarkan mereka bicara. Biarkan mereka menulis. Malam ini... kita buat mereka menghapusnya."
Tanpa Franco Baresi. Tanpa Alessandro Costacurta. Tanpa Marco van Basten.
Tapi siapa bilang jiwa tim diukur dari siapa yang tidak bermain?
Dan ketika peluit ditiup, mereka tak hanya bermain—mereka menyerbu.
Daniele Massaro mencetak bukan hanya satu, tapi dua gol yang mengoyak layar bioskop Barcelona.
Lalu Dejan Savićević, sang seniman Balkan, menggambar lengkungan indah ke gawang yang tak percaya.
Kemudian Desailly, mantan dari Prancis, mengunci malam itu dengan gol yang menggema:
"Ini bukan sekadar kemenangan. Ini deklarasi."
Empat gol. Nol balasan.
Empat kali lebih baik dari yang diprediksi siapa pun.
Peter Drury, seandainya ia menyuarakan malam itu, mungkin akan berkata:
"Di hadapan mata dunia yang bias, Milan datang sebagai bayangan. Tapi kini, lihatlah siapa yang bersinar di bawah cahaya Athena!"
"Barcelona, yang digadang sebagai para dewa, tenggelam dalam kerendahan bumi. Dan Milan... Milan menari di altar sepak bola, diiringi simfoni dari para pendusta yang kini terdiam."
Mereka bilang Milan sudah usang.
Mereka bilang Capello terlalu defensif.
Mereka bilang ini akhir dari era dominasi.
Tapi malam itu, Milan tidak sekadar menang. Mereka membungkam. Mereka memberi pelajaran:
Bahwa sepak bola adalah drama yang dimainkan dengan hati, bukan hanya angka.
Bahwa kerendahan hati adalah kekuatan.
Dan bahwa kadang, kesombongan datang sebelum kejatuhan paling menyakitkan.
Saat peluit panjang dibunyikan, Barcelona tertunduk. Kamera mencari wajah Cruyff, dan di sana hanya ada tatapan kosong.
Sementara di sisi lain, Milan—yang tak diunggulkan, yang dikasihani oleh berita pagi—mengangkat trofi seperti dewa-dewa yang turun ke bumi hanya untuk satu malam: untuk menunjukkan bahwa keindahan sepak bola bukan milik satu tim saja. Tapi milik mereka yang percaya... ketika tak seorang pun percaya.
Itu bukan sekadar final.
Itu adalah malam ketika AC Milan melukis pelajaran di dinding sejarah:
Bahwa Anda bisa meremehkan pemain. Anda bisa mencemooh pelatih. Anda bisa meragukan taktik.
Tapi satu hal yang tak bisa Anda kontrol… adalah jiwa tim yang bermain untuk harga diri.
Dan pada malam Mei 1994 itu, jiwa itu memakai merah dan hitam.
Dan dunia, terpaksa berdiri—untuk bertepuk tangan.

Comments
Post a Comment