Skip to main content

Hari Buruh dan Parade Kepedulian Palsu


Selamat Hari Buruh, kata mereka.

Tanggal 1 Mei, tiba-tiba semua mendadak pro-buruh. Elite politik, pejabat negara, pemilik modal, bahkan para pesohor digital yang biasanya lebih sibuk endorse skincare, kini berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Buruh” seolah-olah itu mantera pembebasan kelas pekerja.

Ada yang menggelar rapat membahas nasib buruh di ruangan rapat ber-AC polar, mengenakan jas seharga lima kali upah minimum, sepatu enam kali UMP, dan jam tangan yang kalau dijual, bisa buat menggaji satu keluarga buruh selama sepuluh tahun penuh. Mereka berdiskusi penuh keprihatinan tentang upah layak sambil menyeruput kopi yang harganya setara kebutuhan dapur satu rumah kontrakan selama seminggu. Ironis? Belum cukup.

Yang satu lagi tak mau kalah: update status.
“Buruh adalah tulang punggung bangsa!” katanya.
Diketik dari dalam mobil seharga 1.000 bulan gaji pembantunya. Sambil duduk nyaman di jok kulit sambil ditemani aroma mobil baru dan asisten pribadi di kursi sebelah. Buruh, dalam semesta ini, tak lebih dari latar belakang estetik untuk konten sosial.

Tak ketinggalan orator panggung. Penuh semangat, pidatonya membahana:
“SEJAHTERAAAA! BURUH HARUS SEJAHTERAAAA!”
Sorak sorai pun pecah.
Kemudian ia pulang—bukan ke rumah, tapi ke villa pribadinya. Yang toiletnya saja lebih luas dari rumah tipe 36 tempat para buruh kontrak mengasuh tiga anak dan satu motor kreditan.

Yang agak menyentuh adalah mereka yang duduk berdiskusi soal masa depan buruh. Mereka serius, tegang, bahkan sedikit emosional. Tapi diam-diam membuka HP, mengecek portofolio saham dan nilai tanah di BSD, Bali, dan Melbourne. Sebab meski buruh masih ribut soal THR, mereka sibuk memilih villa untuk liburan Idulfitri nanti.

Lalu ada satu tokoh yang benar-benar menohok:
Ia dielu-elukan buruh.
Disambut bak pahlawan, dibela, diangkat, dipuja.
Padahal tanah konsesinya ratusan ribu hektar.
Perusahaannya disebut-sebut membayar buruh di bawah standar.
Dan rumah-rumah buruh yang menyambutnya?
Masih petak sempit, atap bocor, sewa naik tiap tahun.

Buruh itu sabar.
Buruh itu kuat.
Dan yang paling ajaib: buruh itu pemaaf.
Saking pemaafnya, mereka tetap memilih orang-orang yang berdiri di seberang mereka—sepanjang hidupnya.

Kepedulian Musiman, Lupa Struktural

Semua ini bukan sekadar ironi kecil di Hari Buruh.
Ini adalah teater tahunan kepedulian palsu.
Pertunjukan manis yang menutupi sistem eksploitatif yang sudah berjalan puluhan tahun, tanpa jeda.

Sebab, mari kita jujur: di negeri ini, buruh tidak pernah benar-benar jadi prioritas.
Yang diperjuangkan adalah stabilitas investor, efisiensi produksi, dan margin keuntungan.
Buruh cuma angka di spreadsheet, bukan manusia yang harus menghidupi anak, sekolah, dan bayar cicilan.
Kalau bisa di-outsourcing, di-PPPK-kan, di-Magang-kan, maka itu yang dilakukan.

Dan di balik semua ini, yang paling menyedihkan:
Buruh kadang ikut melanggengkan sistem ini sendiri.
Karena terlalu sibuk bertahan hidup, mereka tak sempat lagi berpikir melawan.
Yang penting hari ini kerja.
Yang penting besok bisa makan.
Dan mereka yang di atas?
Tinggal pakai topi "Peduli Buruh" satu hari, lalu lanjut meraup laba 364 hari berikutnya.


Penutup: Hari Buruh, atau Hari Tipu Buruh?

Selamat Hari Buruh, tentu saja.
Tapi mari tak lagi mudah ditipu parade ucapan manis dan pidato kosong.
Kalau benar peduli, hentikan upah murah, bukan hanya kirim karangan bunga.
Kalau benar pro-buruh, beri mereka kuasa berorganisasi, bukan justru dibungkam lewat pasal.
Dan kalau benar ingin bangsa ini maju, mulai dari memperlakukan buruh bukan sebagai beban—tapi sebagai manusia.

Sebab tanpa buruh, tak ada pabrik yang hidup.
Tak ada kota yang menyala.
Dan tak ada elite yang bisa bermewah-mewah sambil berkata:
“Selamat Hari Buruh.”

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...