Tahukah Anda bahwa hidup di Indonesia sekarang lebih menegangkan daripada ikut Squid Game? Bedanya, yang ini versi negara—judulnya Makan Bergizi Gratis. Tapi kalau Anda salah makan, ya... bonusnya muntah berjamaah dan rawat inap kolektif. Seru, bukan?
Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, punya cara unik melihat tragedi. Ketika ratusan siswa tumbang usai menyantap program MBG (Makan Bergizi Gratis), beliau menenangkan rakyat: “Yang keracunan cuma 0,005 persen, sisanya baik-baik saja kok. Berarti sukses 99,99 persen dong!”
Ah, betapa menyegarkan. Rupanya ketika ada 342 siswa di Bandung muntah-muntah, 121 anak di PALI masuk puskesmas, dan puluhan lainnya menyusul di Sukoharjo, Cianjur, Batang, Tasikmalaya, dan Empat Lawang, itu bukan kegagalan. Itu hanya efek samping kecil. Ibarat obat, ini cuma ‘gangguan ringan’ yang bisa ditoleransi oleh statistik.
Statistik, Saudara-saudara! Inilah obat baru untuk mengatasi luka batin para orang tua: “Tenang Bu, anak ibu cuma bagian dari 0,005 persen kok. Masih bisa bangga!”
Luar biasa memang. Kalau kita teruskan logika ini, maka tragedi kapal tenggelam pun bisa dianggap sukses pelayaran—asal yang selamat lebih banyak dari yang tenggelam. Kalau rumah Anda kebakaran, tak apa, yang lain kan tidak. Selamat, Anda adalah bagian dari mayoritas!
Presiden juga menambahkan, mungkin anak-anak itu keracunan bukan karena makanannya busuk, tapi karena... tidak pakai sendok. Atau lupa cuci tangan. Jadi bukan makanan yang salah, tapi tangan anak Anda yang terlalu kotor untuk menyentuh rezeki dari negara. Wah, tak pernah terpikir oleh WHO bahwa piring bisa aman selama tangan tak ikut campur.
Tapi pertanyaannya sederhana: siapa yang memberi makan? Siapa yang bertanggung jawab atas kualitasnya? Dan ketika makanan itu justru menjadi sumber penyakit, apa boleh program ini tetap disebut ‘makanan bergizi’?
Kalau makanan dari negara bikin muntah, kita sedang makan atau sedang diuji imannya?
FAO dan WHO sudah jelas berkata: “Kalau tidak aman, itu bukan makanan.” Tapi di Indonesia, kalau tidak aman, itu pengalaman.
Konstitusi jelas menjamin hak atas kesehatan. Tapi ternyata di republik ini, amanat UUD bisa ditekuk sedemikian rupa agar cocok dengan klaim politik. Pasal 28H ayat (1) bukan prioritas. Yang penting angka sukses terlihat di layar presentasi, meski bau amis muntahan masih tertinggal di ruang kelas.
Dan sayangnya, tidak ada seorang pun yang secara resmi dimintai pertanggungjawaban. Katering tetap jalan. Pengadaan terus lanjut. Evaluasi? Mungkin nanti, kalau sudah viral. Atau setelah jumlah yang muntah lebih signifikan dalam Excel.
Ini bukan hanya soal makanan basi. Ini soal kepemimpinan yang lebih sibuk mencari pembenaran ketimbang perbaikan. Soal seorang kepala negara yang menanggapi keracunan anak-anak dengan pernyataan normatif dan pengalihan isu.
Bukankah aneh, ketika anak-anak sekolah menjadi korban, yang ditegur justru kebiasaan makan tanpa sendok?
Kalau begini cara negara bekerja, jangan-jangan nanti kalau ada ledakan gas di sekolah, kita disalahkan karena tidak pakai lilin aromaterapi.
Dan untuk semua anak-anak yang selamat dari menu harian MBG: Selamat, kamu berhasil melewati tahap pertama Uji Coba Ketahanan Nasional. Besok makan lagi ya. Kali ini jangan lupa bawa sendok dan doa panjang.

Comments
Post a Comment