Skip to main content

Negara dengan Dua Matahari: Republik yang Mendua

 

"Jika dua matahari bersinar di satu langit, bumi tidak akan menemukan siang dan malam yang pasti."
Sun Tzu

Di bawah langit republik ini, kita sedang menyaksikan dua pusat cahaya bersinar bersamaan: Prabowo Subianto, presiden terpilih, dan Joko Widodo, mantan presiden dua periode yang belum benar-benar menepi. Satu memegang mandat rakyat secara formal, yang satu lagi tetap menggenggam kendali secara informal.

Dan ketika dua matahari mencoba bersinar dalam satu langit kekuasaan, republik ini tak lagi punya siang dan malam yang pasti. Hanya kebingungan yang membayangi, dan rakyat yang makin sulit membedakan mana pemimpin, mana bayangan.


Prabowo Presiden, Tapi Bayangan Jokowi Tak Hilang

Secara resmi, Prabowo akan menjadi Presiden Republik Indonesia. Tapi secara politis, nama Jokowi masih bergema nyaring dalam konfigurasi kekuasaan. Penempatan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden bukanlah sekadar regenerasi—itu adalah sinyal politik yang terang benderang bahwa Jokowi belum selesai.

Lebih dari itu, dinamika partai, arah kebijakan, hingga narasi politik nasional masih terasa dipengaruhi oleh mantan presiden tersebut. Bukan hal aneh jika publik hari ini bertanya-tanya: apakah Prabowo benar-benar berkuasa, atau hanya memegang setir sementara pedal gas masih ditekan dari belakang?


Politik Dua Kepala: Stabilitas atau Kekacauan?

Di permukaan, para elite akan mengatakan ini adalah bentuk “kerja sama politik.” Tapi faktanya, dua pusat kekuasaan dalam satu sistem lebih sering melahirkan tarik-menarik kepentingan, bukan harmoni.

Dalam sejarah kekuasaan—baik sipil maupun militer—dua kepala dalam satu komando hanya akan melahirkan kekacauan. Sebab ketika satu komando memerintahkan maju, dan satu lagi berbisik untuk mundur, maka organisasi akan lumpuh di tempat. Begitu juga dengan negara.

Demokrasi bukan berarti semua harus punya kuasa. Demokrasi berarti kekuasaan dibagi sesuai aturan, bukan dibagi rasa. Jika eksistensi seorang mantan presiden lebih berpengaruh dari presiden yang sedang menjabat, maka kita sedang hidup dalam rezim bayangan, bukan pemerintahan yang sah secara penuh.


Republik atau Dinasti Politik?

Kemenangan Gibran yang dipermulus oleh celah hukum Mahkamah Konstitusi, lalu dominasi Jokowi dalam percaturan partai besar, menegaskan satu hal: demokrasi kita sedang ditumpangi oleh dinasti. Bukan dalam pengertian formal, tapi secara fungsi dan distribusi kekuasaan.

Kini, kita punya presiden terpilih yang dibayangi oleh keluarga mantan presiden. Ini bukan regenerasi politik, tapi perpanjangan pengaruh lewat jalur darah. Dan sejarah menunjukkan, ketika negara tak mampu memisahkan urusan negara dari urusan keluarga, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.


Satu Matahari: Keniscayaan dalam Kepemimpinan

Prabowo, dengan seluruh latar belakang militernya, tentu paham bahwa garis komando tidak bisa ganda. Ia tahu bahwa kepemimpinan tidak bisa dikelola seperti koalisi bisnis—perlu arah tunggal, keputusan final, dan satu suara yang ditaati.

Sayangnya, hingga kini belum terlihat tanda bahwa Prabowo ingin menjadi satu-satunya matahari di langit republik ini. Justru yang terlihat adalah kompromi yang terlalu lembek, terlalu “mengerti,” terlalu taktis—hingga membiarkan Jokowi tetap bercokol dalam orbit kekuasaan.

Jika benar Prabowo ingin menjadi pemimpin, maka ia harus bersinar penuh. Tidak bisa setengah terang, tidak bisa berbagi langit dengan bintang masa lalu. Karena langit negara hanya cukup untuk satu matahari, bukan dua.


Negara yang Mendua: Arah yang Kabur, Kepemimpinan yang Tidak Jelas

Masyarakat hari ini bukan sekadar butuh presiden. Mereka butuh arah. Butuh kepastian siapa yang memegang kemudi. Siapa yang bertanggung jawab bila kapal ini oleng. Tapi jika negara dikelola oleh dua tokoh dengan kekuatan yang tumpang tindih, siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban?

Ketika kebijakan gagal, siapa yang disalahkan? Prabowo sebagai presiden resmi? Atau Jokowi yang masih menentukan arah di balik layar?

Ini bukan sistem presidensial. Ini teater boneka kekuasaan. Dan rakyat berhak tahu: siapa sebenarnya dalang di balik panggung pemerintahan?


Akhir Kata: Harus Ada yang Mundur

Negara ini tidak butuh dua pemimpin. Negara ini butuh satu arah yang jelas. Jika Prabowo yang memimpin, maka Jokowi harus benar-benar pergi—secara politik, bukan hanya administratif. Ia harus berhenti mengatur orkestrasi partai, berhenti mengisyaratkan pengaruh, dan berhenti menjadi bayang-bayang kekuasaan.

Karena kalau tidak, kita akan hidup dalam republik yang mendua: siang yang tak pernah terang, malam yang tak pernah gelap. Hanya kekacauan yang menyaru sebagai stabilitas.

Jika dua matahari bersinar di satu langit, bumi tidak akan menemukan siang dan malam yang pasti.
Sun Tzu

Dan jika dua pemimpin bersinar di satu negara, rakyat tak akan pernah tahu siapa yang benar-benar memimpin.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...