Skip to main content

Tenggelam dalam Masa Lalu: Nostalgia Sastra dan Keinginan Menjadi Abadi di Midnight in Paris

 


Ada satu malam di Paris yang tidak akan pernah benar-benar berakhir—bukan karena lampu-lampu kota yang enggan padam, tapi karena imajinasi yang tak sudi pensiun. Gil Pender, tokoh utama dalam film Midnight in Paris, tidak hanya melangkahkan kaki di jalanan berbatu kota tua, tapi juga menyeberang waktu, memasuki dunia para penulis, pelukis, dan pemikir besar yang selama ini hanya ia kenal lewat buku, lukisan, dan catatan kaki sejarah.

Bagi banyak orang, nostalgia adalah kenangan personal. Tapi bagi seorang pencinta sastra, nostalgia bisa jadi jauh lebih kolektif—sejenis kerinduan terhadap masa yang bahkan tak pernah kita alami secara langsung. Midnight in Paris memahami ini dengan sangat baik. Film ini tidak sekadar menyuguhkan kisah perjalanan waktu yang ajaib, tapi juga menawarkan perenungan mendalam: mengapa kita begitu mencintai masa lalu? Apa yang kita cari di sana?

Masa Lalu Sebagai Rumah yang Tak Pernah Kita Tinggali

Gil merasa terasing di zamannya. Ia hidup di era modern dengan teknologi, pasar naskah film yang instan, dan tunangan yang lebih menyukai perhiasan daripada puisi. Namun jiwanya tertarik pada Paris 1920-an—masa yang ia anggap sebagai puncak peradaban sastra dan seni. Di situlah ia bertemu Hemingway yang berbicara seperti kalimat-kalimat novelnya, Gertrude Stein yang tegas tapi penuh kebijaksanaan, dan F. Scott Fitzgerald yang memancarkan aura glamor namun rapuh.

Gil tidak hanya sedang melancong; ia sedang pulang ke rumah yang tak pernah ia tinggali. Bagi penulis atau pembaca sejati, menemukan Hemingway di sebuah bar Paris seperti bertemu bapak kandung dari gaya prosa kita. Mendengar T.S. Eliot menyebut “Prufrock” di sebuah pojok kafe mungkin sama sakralnya dengan ziarah ke tanah suci. Nostalgia dalam film ini bukan nostalgia biasa, melainkan nostalgia intelektual—kerinduan pada tempat di mana ide-ide besar dilahirkan dan didebatkan dengan api.

Ilusi Zaman Keemasan

Namun Midnight in Paris tidak berhenti di titik pemujaan. Justru di sinilah film ini menjadi sangat jujur dan menyentuh: bahwa setiap zaman memiliki kerinduan akan masa lalu. Adriana, kekasih Gil di era 1920-an, justru mendambakan Belle Époque, masa keemasan sebelumnya. Dan ketika mereka tiba di sana, para seniman Belle Époque malah ingin kembali ke era Renaissance. Ini adalah lingkaran nostalgia yang tak pernah selesai—seolah masa kini selalu salah tempat, dan masa lalu selalu terlihat lebih bersinar.

Ini mengajak kita berpikir: mungkinkah nostalgia itu bukan soal waktu, tapi soal keresahan eksistensial? Bahwa kita tidak betah hidup di masa kini bukan karena masa kini buruk, tapi karena kita belum berdamai dengan diri sendiri. Gil akhirnya menyadari bahwa bukan eranya yang salah, tapi hidupnya yang belum jujur. Ia kembali ke masa kini, meninggalkan tunangannya yang superficial, dan memulai hidup baru yang lebih sejati.

Sastra sebagai Jembatan Waktu

Film ini penuh dengan Easter egg literer yang memanjakan penonton pencinta buku. Saat Hemingway berkata, “No subject is terrible if the story is true and if the prose is clean and honest,” kita tak hanya melihat karakter fiksi, tapi seolah mendengar langsung suara dari lembaran A Farewell to Arms. Ketika Gertrude Stein membaca naskah Gil dan memberi catatan, kita merasa seperti ikut dalam workshop sastra paling sakral sepanjang sejarah.

Sastra dalam film ini tidak hanya sebagai ornamen atau nostalgia museum. Ia menjadi jembatan waktu—penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan membaca Hemingway hari ini, kita sebenarnya melakukan perjalanan waktu juga, tanpa perlu naik mobil antik pukul dua belas malam. Membaca adalah bentuk teleportasi paling elegan yang pernah diciptakan manusia.

Paris dan Romantisasi Kebudayaan

Tentu, film ini juga tidak bisa dilepaskan dari Paris itu sendiri—kota yang sejak dulu menjual pesona masa lalu dengan sangat licin dan memikat. Kota ini bukan hanya latar tempat, tapi juga karakter penting dalam cerita. Setiap sudut Paris di film ini seolah sengaja menyatu dengan aroma buku tua, kopi pahit, dan percakapan filosofis yang tidak lekang oleh waktu. Woody Allen menangkap ini dengan puitis, bahkan nyaris klise, tapi justru di situlah kekuatannya.

Namun, seperti yang ditunjukkan film ini, Paris yang paling indah bukan hanya yang terlihat di luar jendela, tapi yang hidup di dalam kepala kita. Romantisasi terhadap kota, zaman, dan tokoh masa lalu adalah cara manusia menegosiasikan kekecewaan terhadap masa kini. Tapi jika terus-menerus hidup dalam ilusi nostalgia, kita bisa terjebak dalam waktu yang beku dan kehilangan keberanian untuk menulis cerita kita sendiri.

Akhirnya, Menulis Zaman Sendiri

Pada akhirnya, Midnight in Paris bukan tentang pelarian ke masa lalu, tapi tentang keberanian untuk kembali ke masa kini—dan menulisnya. Gil tidak memilih untuk tinggal di tahun 1920-an bersama Adriana. Ia kembali ke realitasnya, menyadari bahwa dunia tidak harus sempurna untuk bisa ditulisi.

Ini adalah pesan yang sangat relevan untuk para penulis, pembaca, pemimpi, dan siapa pun yang merasa “lahir di zaman yang salah.” Mungkin kita memang tidak bisa bertemu langsung dengan Hemingway, tapi kita bisa menulis dengan semangat yang sama jujurnya. Kita bisa menciptakan karya yang suatu saat akan menjadi nostalgia orang lain. Karena kenyataannya, kitalah yang sedang menciptakan masa lalu bagi generasi berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...