Skip to main content

The Pelican Brief dan Peringatan Kuno Tentang Negara, Oligarki, dan Mayat di Kolam Minyak


Kita mulai dari film lama: The Pelican Brief (1993). Judulnya mungkin terdengar seperti spesies unggas atau laporan ornitologi, tapi jangan salah. Ini bukan tentang burung. Ini tentang pembunuhan hakim Mahkamah Agung demi sepetak rawa yang mengandung emas cair—minyak bumi. Ini tentang bagaimana negara, ketika disetir oleh uang, bisa berubah dari simbol hukum menjadi tukang pukul bagi konglomerat.

Lalu saya berpikir: ini bukan fiksi. Ini dokumenter dengan filter Hollywood. Dunia yang digambarkan Grisham dan Pakula dalam film itu adalah dunia kita hari ini—bedanya, kita tidak butuh dua hakim tewas untuk tahu bahwa hukum itu bisa disewa. Cukup buka berita pagi.

Darby Shaw dan Ilusi Hukum

Mahasiswa hukum Darby Shaw, yang diperankan oleh Julia Roberts, menulis sebuah teori yang "terlalu masuk akal untuk tidak berbahaya." Dua hakim dibunuh karena mereka bisa menghalangi seorang taipan minyak bernama Mattiece mengeksplorasi lahan rawa di Louisiana. Teori ini, yang disebut The Pelican Brief, ternyata lebih akurat dari laporan intelijen negara. Apa yang terjadi selanjutnya? Negara tidak membela sang mahasiswa. Negara memburu dia.

Karena dalam dunia The Pelican Brief, dan sayangnya juga dunia kita, tidak ada tempat bagi logika hukum jika ia mengancam dompet penguasa.

Kita lihat ini terjadi di mana-mana. Di Brasil, aktivis dibunuh demi sawit. Di Honduras, demi bendungan. Di Papua? Jangan pura-pura tak tahu. Negara bisa tutup mata, asal investasi tetap datang, dan ladang emas tetap mengalir. Darby Shaw hidup di mana-mana, tapi biasanya mati muda.

Politik: Peliharaan Korporat yang Terlalu Rakus untuk Menyalak

Presiden dalam The Pelican Brief tidak membunuh siapa-siapa. Dia hanya membiarkan hal-hal terjadi. Tidak menahan. Tidak mencegah. Tidak berpikir. Seperti banyak presiden di dunia nyata, yang percaya bahwa selama mereka tidak menandatangani surat perintah pembunuhan, mereka suci seperti malaikat. Padahal, dosa birokrasi bukan cuma pada tindakan, tapi pada kelambanan yang disengaja.

Kasus Freeport? Kita punya. Kasus pembunuhan Munir? Masih menggantung. Kasus Novel Baswedan? Air keras bisa lenyap, tapi jejaknya di wajah negara tetap terlihat: satu mata buta, satu lagi pura-pura buta.

Dan jangan salah. Dalam dunia di mana politik dibiayai oleh oligarki, tidak ada “kebijakan publik” yang murni. Yang ada adalah “ROI”—return on investment—bagi pemodal kampanye. Hukum hanya berlaku jika tidak mengganggu mereka yang membayar makan malam di meja kekuasaan.

Jurnalisme: Harapan Terakhir atau Saksi Bisu Kekalahan?

Di film, Denzel Washington memerankan Gray Grantham, jurnalis yang akhirnya menerbitkan kebenaran. Ia digambarkan sebagai ksatria pena, penyelamat demokrasi. Tapi di dunia nyata, jurnalis seperti itu langka. Bukan karena mereka tak ada, tapi karena mereka cepat dipecat, dibungkam, atau diserap ke dalam birokrasi media yang lebih sibuk menghitung rating ketimbang menyisir kebusukan negara.

Media hari ini? Banyak yang jadi PR elite. Investigasi mendalam kalah dengan infotainment. Kebenaran jadi mahal karena terlalu murah dijual.

Tapi jangan salah: jika ada kekuatan yang masih bisa menendang balik oligarki, ia bukan senjata, bukan partai, bukan demo. Ia adalah narasi. Kata. Fakta. Sayangnya, narasi ini kini dikurung di balik paywall.

Whistleblower: Martir Modern Tanpa Gereja

Darby Shaw bukan satu-satunya yang nyaris dibunuh karena tahu terlalu banyak. Dunia kita punya Snowden, Assange, Chelsea Manning—orang-orang yang memilih menyuarakan kebenaran dan dibayar dengan pengasingan, penjara, atau karakterisasi media sebagai “pengkhianat.”

Negara tidak suka orang jujur. Bukan karena mereka berbahaya, tapi karena mereka tidak bisa dibeli.

Kesimpulan: Siapa Sebenarnya yang Mengatur Negara?

The Pelican Brief seharusnya kita tonton ulang, bukan sebagai nostalgia film 90-an, tapi sebagai manual bertahan hidup dalam era di mana negara, korporasi, dan aparat hukum sering tidur di ranjang yang sama.

Film ini tidak hanya menggambarkan konspirasi. Ia membongkar kenyataan pahit: bahwa dalam sistem yang dipimpin oleh modal, hukum bisa jadi kosmetik, keadilan jadi slogan, dan rakyat—kita—hanya figuran dalam drama besar bernama “demokrasi pasar bebas.”

Jadi lain kali Anda menonton film seperti The Pelican Brief, jangan bilang itu fiksi. Bilang saja: ini dokumenter dengan soundtrack dramatis.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...