Di tengah riuhnya dunia kerja, ambisi karier, pencapaian finansial, dan godaan gemerlap dunia digital, manusia modern semakin lihai menjadikan Tuhan sebagai latar belakang yang buram. Bukan hilang, bukan tak dikenal, hanya sengaja diredam. Ditaruh di tempat paling sunyi, sementara dunia diberi panggung paling megah.
Kita hidup di era yang menormalisasi ketidakhadiran spiritualitas. Sholat dianggap opsional, zikir dicap sebagai hobi eksklusif orang tua, dan nilai-nilai ketuhanan hanya dipajang saat kematian menghampiri. Sementara itu, setiap pagi kita diburu oleh jam absen, logistik Zoom meeting, notifikasi WhatsApp grup kerja, dan kebutuhan untuk tampil seolah-olah “produktif”—meski dalamnya keropos dan penuh kekosongan batin.
Di satu sisi, ada orang yang mencibir, “Gajimu berapa sih, sampai berani ninggalin sholat?” Tapi izinkan saya bertanya lebih dalam: Berapa banyak yang sudah kamu dapatkan dari dunia ini, sampai kamu merasa pantas menentang perintah Tuhanmu yang menciptakanmu dari setetes air hina?
Dunia yang Memabukkan
Dunia memang manis di awal, tapi punya efek candu yang mengerikan. Begitu sudah merasakan sedikit kenikmatan, manusia akan selalu haus lebih. Dari bonus lima juta jadi ingin sepuluh. Dari naik jabatan jadi ingin kursi direktur. Dari punya satu rumah jadi ingin investasi properti. Bukan karena butuh, tapi karena "bisa."
Masalahnya bukan di rezekinya. Tuhan tidak pernah mencela orang kaya, tapi manusia seringkali lupa bahwa rezeki itu bukan prestasi, melainkan titipan yang ada batas waktunya. Tapi karena dunia ini lihai berdandan, banyak yang terperdaya. Tuhan disingkirkan demi tender, ibadah dilupakan karena deadline, dan suara hati dikalahkan demi mengejar satu digit tambahan di rekening.
Ritual yang Dikalahkan oleh Rutinitas
Kita sering merasa sibuk sekali, padahal kita hanya kalah prioritas. Sholat lima menit terasa berat, tapi scroll TikTok satu jam terasa “healing.” Dzikir dianggap mubazir waktu, tapi rapat yang tak jelas ujungnya dianggap produktif. Tuhan dikalahkan oleh rapat, oleh Excel, oleh laporan bulanan, oleh klien, oleh “izin lembur,” dan oleh segala rutinitas duniawi yang terasa mendesak, padahal seringkali tidak penting.
Lebih ironis lagi, ada orang yang dengan bangga berkata, “Gue sibuk banget, sampai gak sempat sholat.” Sebuah pengakuan yang sebenarnya tragis, tapi dijadikan semacam medali kebanggaan. Seolah-olah makin sibuk makin keren, makin jauh dari Tuhan makin elite. Padahal justru, kesibukan tanpa kedekatan dengan Tuhan adalah kesibukan yang sia-sia. Dunia tetap berputar, dan kita tetap lelah—tanpa tahu apa yang sedang kita kejar.
Menantang Tuhan dengan Lembut
Yang paling berbahaya bukan pemberontakan yang keras, tapi pembangkangan yang halus. Kita tidak terang-terangan menantang Tuhan, tapi kita pelan-pelan menyusun pembenaran. “Tuhan kan Maha Pengampun.” “Yang penting hatinya baik.” “Sholat kan gak menjamin masuk surga.” Kalimat-kalimat itu seperti gula yang melapisi racun. Kita seolah bijak, tapi sejatinya sedang mencari cara untuk terus menunda taat.
Padahal, siapa kita sampai berani menawar-nawar perintah Tuhan? Siapa kita yang merasa pantas berkata, “Nanti saja kalau sudah mapan, baru ibadah serius”? Siapa kita yang merasa bisa menunggu waktu luang untuk bertobat, seolah-olah kita pemegang kalender ajal?
Ketika Dunia Tidak Menjamin Apa-apa
Mari jujur: berapa banyak dari kita yang pernah merasa sudah memiliki segalanya—gaji tetap, rumah nyaman, pasangan yang baik, karier yang menanjak—namun tetap merasa kosong? Karena ternyata dunia, seindah apapun bentuknya, tidak bisa menjamin damainya hati. Tidak bisa menebus kehilangan arah. Tidak bisa menyelamatkan jiwa yang tenggelam dalam kebisingan dunia yang fana.
Orang bisa punya segalanya tapi tetap merasa gagal. Orang bisa dipuji semua orang tapi tetap merasa hampa. Dan itu terjadi ketika kita terlalu mengandalkan dunia, dan meminggirkan Tuhan dalam agenda hidup kita.
Dunia Bukan Musuh, Tapi Jebakan
Dunia ini bukan musuh. Ia bisa jadi sahabat, kalau kita tahu menaruhnya di tempat yang tepat. Tapi seringkali, dunia malah kita undang duduk di singgasana, sementara Tuhan kita letakkan di ruang tunggu. Kita hanya mendekat saat bencana, saat kehilangan, saat tak punya pilihan lain. Lalu setelah selamat, kita kembali sibuk mengejar dunia yang sama.
Kita sedang hidup dalam era “pengabaian halus” terhadap Tuhan. Kita tidak membenci Tuhan, kita hanya tidak menganggap-Nya penting. Dan di situlah letak kehancuran spiritual itu bermula—saat Tuhan kita taruh dalam lemari arsip, dan hanya kita buka saat darurat.
Akhir yang Layak Kita Takuti
Hari ini mungkin kita masih bisa tertawa, masih bisa menunda, masih bisa merasa hebat dengan capaian duniawi. Tapi waktu akan terus berjalan. Dan pada akhirnya, kita akan kembali pada Tuhan yang selama ini kita abaikan. Pertanyaannya bukan cuma, “Apa yang akan kita bawa?” tapi juga, “Berapa banyak yang sudah kita sia-siakan?”
Karena tak ada satupun dari pencapaian dunia yang bisa menyelamatkan kita nanti. Tuhan tidak menilai seberapa tinggi jabatanmu, berapa digit gajimu, atau seberapa banyak followers-mu. Ia hanya akan bertanya: "Seberapa taat kamu padaku ketika Aku beri kamu segalanya?"

Comments
Post a Comment