Skip to main content

Tuhanmu Kurang Multibahasa?

 Sebuah Perjalanan Eksistensial Menuju Tuhan yang Lebih Global dan Tidak Ketinggalan Google Translate

Ada satu pertanyaan yang baru-baru ini mampir ke beranda digital saya, mengendap-endap seperti notifikasi dari semesta yang iseng:
"Jika Tuhanmu cuma paham bahasa Arab, dan Tanah Sucinya di Arab, apakah Dia benar-benar Tuhan Semesta Alam? Atau cuma Tuhannya orang Arab?"

Pertanyaan yang terdengar filosofis, terdengar universal, bahkan seolah membela hak semua makhluk untuk dimengerti Tuhan tanpa harus les privat bahasa Arab dulu. Tapi setelah saya renungkan sambil menyeruput kopi hitam rasa sinisme, saya sadar: ini bukan pertanyaan filosofis. Ini sindiran berbalut rasa superior dari manusia modern yang mengira Tuhan harus punya setting multicultural agar layak disembah.

Mari kita bahas perlahan. Kita urai benang kusutnya, sembari menikmati aroma satire yang menyesap tajam seperti parfum mahal yang disemprotkan ke kambing.


1. Tuhan yang Picky Bahasa: Narasi yang Menggelikan

Mari kita mulai dari premisnya: “Tuhan hanya paham bahasa Arab.”

Kalau benar demikian, itu berarti Tuhan tidak mengerti ratapan ibu di pelosok Papua yang berdoa dalam bahasa Mee, atau jeritan hati gadis Brazil yang menangis dalam Portugis. Ironis, bukan? Tapi yang lebih ironis: anggapan ini justru tidak datang dari kitab suci, melainkan dari manusia-manusia yang malas membaca tapi rajin menyindir.

Dalam Islam, Tuhan disebut Al-‘Alim — Maha Mengetahui. Itu mencakup seluruh bahasa, termasuk bahasa tubuh, bahasa hati, bahkan bahasa diam. Jadi jika Anda mengira Tuhan Islam itu eksklusif hanya karena Al-Qur'an berbahasa Arab, maka logika yang sama harus Anda terapkan pada Injil yang ditulis dalam bahasa Yunani Kuno dan Weda dalam bahasa Sanskerta. Apakah Tuhan Kristen hanya paham Koine Greek? Apakah Brahman harus ikut kursus bahasa Sansekerta dulu?

Tidak. Tapi lucunya, hanya Islam yang sering dituduh “etnosentris” karena kebetulan Tanah Sucinya ada di Timur Tengah. Seakan-akan Tuhan harus punya kantor cabang di Oslo, Seoul, dan New York agar diakui global.


2. Tanah Suci: Bukan Soal Koordinat GPS, Tapi Titik Puncak Makna

Mengapa Mekah jadi pusat? Bukan karena Tuhan punya saham di real estate Arab Saudi, melainkan karena di sanalah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, di sanalah Ibrahim meninggalkan jejak, dan di sanalah manusia dari segala penjuru datang — hitam, putih, Arab, non-Arab, kaya, miskin, bahkan yang pinjam uang demi bisa berhaji.

Jika Tuhan hanya milik orang Arab, maka pastilah tidak ada jutaan orang Afrika, Asia Tenggara, Eropa Timur, hingga penduduk Kepulauan Fiji yang rela berdiri menghadap satu titik yang sama lima kali sehari — bukan karena Arab superior, tapi karena itu simbol penyatuan.

Kalau kita harus menolak Tuhan karena Tanah Suci-Nya di Arab, maka logikanya: umat Kristiani seharusnya juga mempertanyakan Yerusalem, umat Hindu seharusnya merenung soal Sungai Gangga, dan umat Buddha harus was-was dengan Bodh Gaya.

Tapi tidak. Hanya Islam yang dipaksa untuk punya Tuhan versi globalisasi — yang multibahasa, multietnis, dan kalau bisa punya akun TikTok biar relate sama Gen-Z.


3. Bahasa Ibadah: Simbol Kolektif, Bukan Sensor Bahasa Lain

Mari kita bicarakan bahasa Arab dalam salat. Ini sering jadi titik pemantik untuk komentar: “Masa sih Tuhan gak ngerti kalau saya salat pakai bahasa Indonesia?”

Pertanyaan bagus. Dan jawabannya sederhana: Tuhan ngerti. Tapi salat bukan hanya komunikasi satu arah. Ia adalah ritual kolektif, seperti lagu kebangsaan, seperti bendera, seperti seragam — simbol bahwa kamu bagian dari sesuatu yang lebih besar dari egomu. Kalau salat boleh pakai bahasa masing-masing, umat Islam akan seperti orkestra yang masing-masing mainin lagu beda-beda. Harmoni? Jelas bubar jalan.

Dan yang menarik: doa di luar salat boleh pakai bahasa apapun. Mau curhat dalam bahasa Jawa, Minang, Rusia, sampai bahasa bucin — silakan. Tuhan mendengar semua. Tapi entah kenapa, yang suka bilang “Tuhan harus paham semua bahasa” justru seringkali ogah menyembah-Nya dalam bahasa apapun.


4. Tuhan Semesta Alam: Tak Butuh Validasi Kosmopolitanmu

Tuhan dalam Islam disebut “Rabbul ‘Alamin” — Tuhan seluruh alam. Bukan cuma Tuhan Arab, atau Tuhan yang bisa kita terima kalau Dia ikut seminar lintas budaya dulu. Dia Tuhan bagi manusia, hewan, pohon, mikroba, bahkan partikel yang belum ditemukan manusia. Tuhan bukan objek studi sosiolinguistik yang harus inklusif supaya dapat nilai A dari dosen modernitas.

Kalau kita hanya mengakui Tuhan yang sesuai dengan selera global kita — artinya kita sedang membentuk Tuhan versi kita, bukan mencari Tuhan yang sebenarnya.


Penutup:

Kalau Tuhanmu harus ikut TOEFL dulu supaya dianggap sah, mungkin masalahnya bukan di Tuhan — tapi di egomu yang sedang magang jadi semesta.

Tuhan yang sejati tidak dibatasi bahasa, budaya, atau benua. Tapi jika kamu menganggap penggunaan bahasa Arab dalam Islam sebagai tanda keterbatasan Tuhan, maka sesungguhnya keterbatasan itu ada di cara pandangmu sendiri.


Jangan khawatir, Tuhan tidak kesulitan membaca tulisanmu di media sosial. Tapi kamu mungkin kesulitan membaca Tuhan dalam kehidupan nyata.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...