Bayangkan ini: Archimedes duduk termenung di bathtub. Bukan karena memikirkan hukum daya apung, tapi karena postingannya tentang fisika dasar cuma dapat 11 likes dan satu komen spam. Ia pun menghapus semua coretannya dari papirus, mengganti bio-nya jadi: "mantan pemikir, sekarang jualan sandal."
Konyol? Ya. Tapi dunia sekarang seringkali tak jauh dari situ.
Kita hidup di era ketika ide bagus bisa tenggelam dalam algoritma, dan omong kosong bisa viral hanya karena dikemas pakai font aesthetic. Ketika nilai sebuah pemikiran bukan lagi ditakar dari kedalamannya, tapi dari jumlah tanda jempol yang menyertainya. Ketika seseorang lebih takut tidak dilihat, daripada salah total. Dan ketika pencapaian spiritual, intelektual, maupun kemanusiaan dipandang usang kalau tidak bisa dijadikan konten.
Maka, mari sejenak berhenti scrolling dan bertanya: apa jadinya jika para tokoh besar dalam sejarah berpikir seperti kita hari ini?
Tidak Ada Like, Tapi Tetap Jalan
Nabi Muhammad SAW berdakwah 13 tahun di Mekkah tanpa follower massal. Siksaan, hinaan, dan bahkan embargo sosial menanti. Jika ukuran keberhasilan adalah viralitas, mungkin Islam tinggal jadi catatan kaki di buku sejarah. Tapi beliau terus melangkah. Karena misi sejati tak pernah menunggu validasi.
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu...”
(QS. At-Taubah: 128)
Tidak ada trending topic. Tidak ada donasi dari sponsor. Yang ada hanya keyakinan bahwa kebenaran, meski sendirian, tak boleh dibiarkan redup.
Galileo Melawan Dunia
Galileo Galilei mengatakan bumi mengelilingi matahari. Gereja menyuruhnya diam. Zaman itu, kebenaran ilmiah bisa dianggap bid’ah. Ia dipaksa menarik ucapannya. Tapi sejarah tahu siapa yang benar. Bayangkan kalau Galileo berpikir, “Yah… views YouTube saya cuma 200, mending saya jadi food vlogger aja.”
Untung tidak.
"All truths are easy to understand once they are discovered; the point is to discover them."
— Galileo Galilei
Beethoven yang Tak Bisa Mendengar
Beethoven menulis beberapa karya terhebatnya saat ia sudah tuli. Tak bisa mendengar satu pun nada. Tapi ia tidak berhenti. Karena ia menulis bukan untuk disoraki, tapi untuk mengabdi pada sesuatu yang lebih besar dari telinga dan pujian—yakni keabadian seni.
Coba bayangkan kalau Beethoven hidup di era TikTok. Mungkin ia minder karena simfoninya tidak cocok buat backsound dance challenge. Tapi ia tidak menunggu orang lain mem-validasi jeniusnya. Ia menjadi jenius itu, titik.
Tesla, Sang Penemu yang Dilupakan
Nikola Tesla memberi kita listrik arus bolak-balik, teknologi radio, dan bahkan dasar bagi nirkabel modern. Tapi hidupnya berakhir dalam kesepian dan kemiskinan. Ia kalah pamor dari Thomas Edison yang lebih jago marketing. Tapi siapa yang kini dikenang sebagai bapak revolusi listrik sejati?
“Let the future tell the truth, and evaluate each one according to his work and accomplishments.”
— Nikola Tesla
Dunia Tidak Butuh Bintang, Tapi Sumbu Cahaya
Kita terjebak dalam budaya spektakel. Dalam kehausan untuk dilihat, bukan untuk menjadi. Kita ingin terkenal dulu, lalu mikir mau ngapain belakangan. Akibatnya? Banyak yang jadi peniru, sedikit yang jadi pencetus. Banyak yang jago bikin konten, tapi miskin kontemplasi.
Padahal dunia ini tidak selalu butuh bintang yang bersinar terang sesaat. Kadang yang ia butuhkan adalah sumbu kecil, yang meski nyalanya redup, tetap bisa menyalakan lilin lain. Dan sumbu itu kadang tak dikenal siapa-siapa.
Buat Apa Berkarya Kalau Tak Viral?
Pertanyaan ini sering muncul, baik dari konten kreator, seniman, penulis, bahkan akademisi.
Jawabannya sederhana: karena karya bukan soal viral, tapi warisan.
Archimedes tidak tahu bahwa hukum yang ia temukan akan digunakan dalam desain kapal selam 2.000 tahun kemudian. Imam Bukhari tidak membuat kitab hadis untuk dibacakan dalam seminar ber-AC. Rumi menulis puisi bukan untuk masuk Goodreads Choice Award. Mereka semua menulis, berpikir, mencipta, dan berdakwah karena merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari ego mereka.
Ada Hal-Hal yang Harus Dikerjakan Meski Sepi
Seorang bijak pernah berkata, "Kita tidak selalu harus bersuara keras, tapi kita tidak boleh diam pada yang salah." Dunia bukanlah panggung yang harus kita isi dengan atraksi demi tepuk tangan. Kadang, ia adalah ladang sunyi, tempat kita menanam dengan sabar dan sadar, meski tak ada yang menonton.
Dan jangan remehkan sunyi itu. Karena kadang, diam adalah tempat di mana ide-ide paling revolusioner tumbuh. Kadang, yang paling mengubah dunia adalah yang tidak sedang mencari pengakuan.
Menjadi Seperti Matahari
Matahari tidak pernah protes kenapa ia tak trending. Ia bersinar setiap hari, bahkan ketika mendung. Ia memberi panas, bahkan pada orang yang mengutuknya. Ia tak peduli apakah ada yang berterima kasih. Karena itu memang kodratnya.
Maka kalau kamu sedang menulis, berpikir, berkarya, berdakwah, atau berjalan di jalur yang benar tapi sepi, ingat ini:
Jangan berhenti hanya karena tidak ada yang melihat.
Karena yang benar, tetap benar, meski hanya ada satu yang percaya.
Tutup Layar, Nyalakan Arah
Sampai di sini, barangkali kamu mulai bertanya: “Apakah ini artinya kita harus cuek pada audiens?”
Tidak. Tapi jangan diperbudak olehnya.
Biarlah like, follow, dan subscriber jadi bonus. Bukan alasan utama. Karena ketika sebuah pesan lahir dari kejujuran dan keyakinan, ia akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak lewat kamu. Tapi jejaknya tak akan hilang.
Karya tulus akan bertahan lebih lama dari likes.
Keberanian berpikir akan hidup lebih lama dari trending.
Dan kebenaran… akan tetap bernapas, bahkan saat tak satu pun manusia mengakuinya.
Jadi kalau kamu sedang merasa jalanmu sepi, ingat saja:
Untung Archimedes nggak ngambek cuma gara-gara gak ada yang nge-like.
Comments
Post a Comment