Skip to main content

Ketika Mao Zedong Nge-Prank Satu Bangsa: Seratus Bunga, Satu Jebakan

 

Pada tahun 1957, Mao Zedong—dengan karisma revolusionernya yang legendaris dan senyum misterius ala pemilik rencana rahasia—mengundang rakyat Tiongkok untuk melakukan hal paling tak lazim dalam negara otoriter: mengkritik pemerintah. Serius. Kata beliau, “Biarkan seratus bunga mekar, biarkan seratus aliran pemikiran bersaing.”

Dan rakyat pun bersorak. Mahasiswa, intelektual, bahkan rakyat biasa mulai ikut "berkebun ide", menanam bunga kritik di dinding-dinding kota. Poster-poster penuh sindiran dan tuntutan berjejal di tembok yang dengan cepat dijuluki “Dinding Demokrasi.” Untuk sesaat, aroma kebebasan menyeruak—walau hanya sebentar, seperti parfum diskon yang cepat menguap.

Tapi di balik senyum Mao, rupanya tersimpan sesuatu. Bukan niat mulia untuk memperbaiki negara, tapi lebih mirip prank skala nasional. Ketika suara kritik mulai tajam, ketika bunga-bunga mulai berbau seperti oposisi, Mao berubah haluan. Pada 7 Juni, beliau menyatakan bahwa semua kritik itu adalah aksi subversif kelompok anti-revolusioner.

Boom. Plot twist. Para pengkritik pun dijebloskan ke kamp kerja paksa, diadili, diasingkan, disiksa—dan tak sedikit yang kehilangan nyawa. Seratus bunga pun layu bersamaan. Dan Tan Tianrong, penulis esai terkenal berjudul “Gulma Beracun,” menjadi simbol dari mereka yang percaya pada janji palsu.


Kebebasan yang Dipancing, Bukan Diberikan

Kalau ini adalah konten TikTok, judulnya bisa jadi:

“Gue bilang kritik boleh... eh malah beneran ngkritik. Kena gas langsung 😏🔥”

Fenomena ini bukan sekadar tragedi, tapi juga studi kasus luar biasa tentang bagaimana kekuasaan bisa menggunakan “keterbukaan” sebagai alat deteksi dini. Mao secara harfiah membuat rakyat membuka mulut, hanya untuk kemudian menandai siapa saja yang perlu dibungkam. Seperti kucing yang pura-pura tidur demi nangkep tikus.

Dalam istilah Gen-Z: ini bukan cuma gaslighting. Ini sudah masuk level gasfurnace-ing—karena ujungnya para pengkritik masuk kamp kerja paksa.


Ketika Kritik Dianggap Kudeta

Apa yang bisa kita pelajari dari “eksperimen kebebasan” ini? Bahwa dalam sistem otoriter, kebebasan sering dijadikan umpan. Dan bahwa kebebasan berbicara yang tiba-tiba datang dengan embel-embel “bebas, tapi sopan ya~” harus dicurigai.

Lalu muncul pertanyaan besar: Apakah Mao benar-benar berniat menerima kritik? Atau sejak awal, ini semua cuma jebakan level maestro? Sejarawan masih berdebat. Tapi rakyat Tiongkok waktu itu tidak sempat berdiskusi—mereka keburu diseret keluar kampus dan disuruh gali parit.


Dampaknya? Trauma Kolektif Nasional

Setelah Kampanye Seratus Bunga, masyarakat Tiongkok seperti mengalami shutdown demokratis. Kritik jadi semacam dosa sosial. Orang lebih memilih ngomong ke tembok sungguhan daripada tembok yang bisa mendengar dan melapor ke aparat. Dan trauma itu menetap selama puluhan tahun, menjalar ke generasi berikutnya.

Lucunya, kampanye ini justru mengajarkan warga satu pelajaran penting: kalau pemerintah tiba-tiba terlalu baik, pasti ada udang di balik kampung kerja paksa.


Penutup: Dari Seratus Bunga ke Seribu Ketakutan

Seratus bunga pernah diminta untuk mekar. Tapi ternyata itu ladang jebakan, bukan taman dialog. Mao tidak mengundang perdebatan, ia mengadakan audisi penjara. Dan siapa pun yang tampil terlalu menonjol, langsung "lulus" ke tahap penyiksaan lanjutan.

Jadi, jika suatu hari Anda diajak oleh rezim untuk bebas bersuara, ingatlah kisah ini. Bisa jadi Anda sedang diajak bermain Truth or Trap—dan spoiler alert: tak ada pemenang, kecuali yang memegang kursi kekuasaan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...