Di penghujung tahun 2021, sebuah notifikasi WhatsApp masuk di ponsel saya. Isinya dari HRD tempat saya bekerja. Nada kalimatnya formal, tapi saya tahu isinya akan membuat dada saya nyesek. Benar saja — saya diberi kabar bahwa saya termasuk dalam daftar karyawan yang akan di-lay off.
Saya diam. Menatap layar. Membaca ulang pesan itu, seolah berharap maknanya berubah jika saya baca lebih pelan.
Tapi tidak. Itu adalah kenyataan. Saya harus menerima bahwa masa kerja saya di sana sudah selesai. Lewat pesan singkat. Tanpa aba-aba. Tanpa kesempatan membela diri.
Yang lebih menyesakkan, ini bukan pertama kalinya saya mengalami hal seperti ini.
Beberapa tahun sebelumnya, saya juga pernah diberhentikan dari MD Entertainment. Saat itu, saya baru empat bulan bekerja. Dipanggil ke ruangan manajer, ditemani atasan langsung. Suasananya formal, tapi dingin. Saya dijelaskan bahwa keputusan untuk memberhentikan saya bukan karena kinerja saya — mereka bahkan mengatakan bahwa saya bekerja dengan baik — tapi karena kondisi keuangan perusahaan sedang menurun. Rasanya seperti dihargai dan dikecewakan di saat bersamaan.
Saya pulang kerja hari itu dengan hati remuk. Mencoba terlihat tegar di depan orang rumah. Tapi jujur, di dalam hati saya mempertanyakan banyak hal: Kenapa saya? Apa saya tidak cukup berusaha?
Tahun 2021 saya kembali menganggur. Dan seperti biasa, hidup tidak menunggu kita siap.
Alhamdulillah, kali ini saya masih mendapat uang pisah. Bukan jumlah besar, tapi cukup untuk saya belikan satu unit iMac. Dan dari sanalah titik balik pertama dimulai. Saya memutuskan untuk masuk ke dunia freelancer. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan menjadi jalan hidup saya.
Awalnya berjalan baik. Bahkan lebih baik dari yang saya duga. Selama enam bulan, saya mendapat proyek editing secara rutin. Dari YouTuber luar negeri, dari mantan kantor saya, bahkan dari stasiun TV tempat saya dulu bekerja. Saya merasa seperti diberi napas baru. Seakan-akan semesta berkata, ini jalurmu sekarang.
Tapi seperti semua musim dalam hidup, musim proyek pun berlalu.
Tanpa aba-aba, order menghilang. Satu per satu klien berhenti memberi pekerjaan. Saya menunggu. Saya berharap. Tapi tidak ada yang datang. Saya mulai bertanya-tanya: Apakah ini ujian? Atau pertanda harus menyerah?
Saya mulai melamar kerja kembali — bahkan sebelum freelance sepi total, saya sudah mulai kirim-kirim CV. Tapi tak ada kabar. Hari-hari saya lewati dengan membuka email berkali-kali, menatap pesan masuk yang kosong, lalu menutupnya lagi sambil menahan napas.
Ada masa ketika saya merasa ingin menangis, tapi air mata pun tidak keluar. Saya tidak tahu lagi harus merasa apa. Marah? Kepada siapa? Tuhan?
Saya ingat, di malam yang sunyi, saya berbicara dalam hati, “Kalau ini kehendak-Mu, saya pasrah. Tapi tolong, beri saya kekuatan untuk tetap percaya.”
Saya kembali mengulang satu kalimat yang entah sejak kapan menjadi semacam mantra hidup: "Semoga ada hikmahnya."
Saya mencoba peruntungan dengan menghubungi grup alumni kantor lama. Dari sekian banyak orang yang saya kenal, hanya satu-dua yang menyahut. Tapi justru dari merekalah, pintu rezeki kembali terbuka sedikit demi sedikit.
Saya kembali mendapat proyek editing. Masih freelance. Masih tidak pasti. Tapi cukup untuk bertahan. Dari akhir 2023 hingga akhir 2024, saya masih bisa menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Tidak mewah, tapi cukup.
Namun seperti roda hidup yang berputar, awal 2025 kembali membawa saya ke titik nadir. Pekerjaan kembali hilang. Tidak ada pemasukan. Tidak ada proyek. Saya kembali menatap kalender dan bertanya, sampai kapan harus begini?
Saya sempat ditawari pekerjaan oleh seorang teman yang sudah jadi manajer. Tapi batal. Ada juga tawaran freelance lain yang kelihatan menjanjikan — tapi gagal juga. Saya sudah sampai pada titik ketika saya tidak bisa membedakan mana harapan dan mana penghiburan semu. Yang saya tahu hanyalah: saya harus tetap hidup.
Dan setiap malam sebelum tidur, saya tetap mengucap, “Semoga ada hikmahnya.”
Dan benar saja. Pertolongan Allah datang dari arah yang tidak pernah saya bayangkan.
Suatu hari, di LinkedIn — ya, platform profesional yang sudah lama saya anggap terlalu "rapi" untuk curhat — saya melihat sebuah komentar dari teman. Komentar itu mengarah ke sebuah lowongan kerja. Saya coba lamar. Saya ikut tes. Saya ikut wawancara. Saya bahkan tidak terlalu berharap, karena sudah terlalu sering kecewa.
Tapi kali ini berbeda. Saya diterima.
Saya sempat termenung beberapa saat. Bahkan tidak langsung memberi tahu siapa-siapa. Seakan tidak percaya. Setelah semua ini, Allah masih mau beri saya kesempatan.
Kenapa saya menulis semua ini?
Karena saya tahu ada banyak orang di luar sana — mungkin Anda — yang sedang berada di fase yang sama seperti saya dulu. Fase kehilangan. Fase diam-diam menangis di pojok kamar. Fase ketika hidup terasa tidak adil, dan Tuhan terasa jauh.
Saya tidak punya jawaban atas semua itu. Saya tidak bisa memberi janji bahwa semuanya akan membaik. Tapi izinkan saya berbagi satu hal yang saya pelajari:
Bahwa hidup ini tidak selalu lurus. Kadang jalan-Nya berliku, penuh tikungan tajam, turunan curam, dan lubang-lubang gelap. Tapi itu bukan karena Tuhan tidak peduli. Justru karena Dia sedang menyiapkan hati kita untuk hal yang lebih besar.
Jika Anda hari ini sedang lelah, sedang merasa putus asa, sedang ingin menyerah... izinkan saya menggenggam tangan Anda, walau hanya lewat tulisan ini, dan berkata:
"Semoga ada hikmahnya."
Dan percayalah, akan selalu ada. Entah besok, entah tahun depan. Tapi Dia tidak pernah tidur. Dan tidak ada usaha yang sia-sia dalam pandangan-Nya.
Teruslah melangkah. Walau pelan. Walau terseok. Karena selama kita tidak berhenti, kita belum kalah.

Comments
Post a Comment