Skip to main content

Yang Kau Benci, Bisa Jadi Doa Orang Lain

 

Pernahkah kamu duduk lelah di sudut kamar, menatap langit-langit sambil bertanya:
“Kenapa hidupku begini-begini saja?”

Pekerjaan yang melelahkan. Rumah yang sempit. Rutinitas yang membosankan.
Senyum yang entah kenapa makin jarang muncul. Dan tubuh yang kadang terlalu lelah untuk disyukuri.
Kadang hidup memang terasa seperti loop tak berujung — bangun, kerja, tidur, ulangi. Seperti berjalan di atas treadmill; capek, tapi tak ke mana-mana.

Tapi izinkan aku mengganggumu sebentar — bukan untuk menggurui, apalagi meremehkan keluhmu.
Hanya ingin mengingatkan, bahwa bisa jadi, apa yang kamu benci hari ini... sedang dipanjatkan seseorang di tempat lain sebagai doa.

Pekerjaan yang kamu keluhkan karena bos cerewet dan gaji pas-pasan?
Ada orang yang sudah berbulan-bulan mengantre lamaran kerja, hanya ingin tahu rasanya “capek karena bekerja.”

Rumah yang kamu anggap sumpek, jelek, dan tak pantas dipamerkan di Instagram?
Bagi pengungsi yang tidur di tenda darurat atau anak jalanan yang berselimut terpal, rumahmu adalah istana dengan atap dan dinding yang mereka impikan.

Senyum yang makin jarang mampir ke wajahmu karena hari-hari terasa terlalu berat untuk ditanggapi dengan tawa?
Ada seseorang di luar sana yang bahkan lupa bagaimana rasanya tersenyum — terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kehilangan, trauma, atau luka yang belum sempat sembuh.

Dan kesehatan yang kamu anggap remeh — tubuh yang masih bisa berdiri, menyebrang jalan, makan sendiri, buang air sendiri, tertawa tanpa sesak?
Ada pasien di rumah sakit yang menukar seluruh isi tabung oksigennya hanya untuk bisa duduk lima menit di bawah sinar matahari.

Kita semua punya luka. Dan itu sah.
Keluhanmu valid. Lelahmu nyata. Hidup memang tak selalu ramah. Tapi dalam gelapnya hari-hari, jangan biarkan rasa sakit membuatmu buta terhadap hal-hal baik yang masih kamu punya.

Bersyukur bukan soal menutup mata dari derita.
Bersyukur adalah kemampuan membuka mata lebih lebar — untuk melihat keberlimpahan yang sering datang dalam bentuk paling sederhana.

Kita sering terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada, sampai lupa menjaga apa yang sudah ada.
Kita begitu terobsesi pada “lebih” dan “nanti”, sampai tak sempat menghargai “cukup” dan “sekarang.”

Padahal, hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk mengejar, tapi siapa yang paling sadar sedang hidup.

Jadi, saat dunia terasa sempit dan hidup terasa melelahkan, berhentilah sebentar. Tarik napas. Tatap sekelilingmu — bukan untuk merasa bersalah karena belum sukses,
tapi untuk menyadari bahwa kamu masih punya alasan untuk melangkah.

Kamu masih di sini. Masih bernapas. Masih diberi waktu.

Dan itu... adalah awal dari segala berkah.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...