Skip to main content

Apakah Kita Sudah Merdeka? Sebuah Cerita tentang Harapan yang Belum Tuntas


Ketika para pendiri bangsa duduk di bawah cahaya lampu minyak, menyusun naskah kemerdekaan dengan tangan gemetar dan hati menyala, mereka tidak hanya memimpikan sebuah negara yang bebas dari penjajahan. Mereka membayangkan sebuah tanah air di mana setiap anak bisa tumbuh tanpa rasa takut, di mana petani bisa memanen hasilnya tanpa dihimpit oleh harga yang tak masuk akal, dan di mana hukum berdiri tegak, bukan membungkuk di hadapan kekuasaan.

Bung Karno pernah berkata, “Kemerdekaan hanyalah jembatan emas.” Ia tahu, kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjuangan panjang menuju keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Tapi delapan puluh tahun lebih berlalu, dan kita masih berdiri di ujung jembatan itu, belum benar-benar menyeberang.

Di desa-desa, petani masih menunduk bukan karena hormat, tapi karena beban hidup yang tak kunjung ringan. Mereka menanam padi di tanah yang semakin sempit, bersaing dengan proyek-proyek besar yang datang membawa janji, tapi pergi meninggalkan debu. Dari 27,8 juta petani pengguna lahan, 17,2 juta di antaranya adalah petani gurem—mereka yang mengelola lahan kurang dari setengah hektar. Mereka bukan pemilik negeri, hanya penyewa harapan.

Di pesisir, nelayan berlayar dengan perahu tua, menantang ombak dan kapal asing yang lebih besar. Mereka tahu laut itu milik bangsa, tapi sering merasa seperti tamu di perairan sendiri. Hasil tangkapan mereka dihargai murah, sementara ikan-ikan terbaik dibawa pergi oleh kapal yang tak pernah mereka kenal.

Di kota, buruh bangun sebelum matahari terbit dan pulang saat langit sudah gelap. Mereka bekerja keras, tapi tetap hidup pas-pasan. Gaji mereka cukup untuk bertahan, tapi tidak untuk bermimpi. Anak-anak mereka berjalan jauh ke sekolah, melewati jembatan reyot dan jalan berlumpur, bukan karena semangat nasionalisme, tapi karena tak ada pilihan lain.

“Jumlah anak usia 6–18 tahun yang tidak bersekolah di Indonesia mencapai 4,2 juta.” — Kemendikbudristek

Dan ketika mereka bersuara, ketika mereka menuntut hak, suara itu sering dianggap gangguan. Jurnalis yang menulis fakta bisa ditekan, mahasiswa yang berdemo bisa dibubarkan. Padahal, bukankah kemerdekaan berarti bebas menyampaikan pendapat?

“Meski dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28F, kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi tantangan seperti penyensoran, pelarangan penerbitan, hingga kriminalisasi terhadap jurnalis.” — Aliansi Jurnalis Independen

Namun yang paling menyakitkan adalah ketika hukum tidak lagi menjadi pelindung, melainkan alat untuk menundukkan. Kita hidup dalam negeri di mana pasal bisa lentur seperti karet, tapi hanya ketika menyentuh yang lemah. Sementara bagi yang kuat, hukum menjadi kaca—bisa ditembus, bisa dibentuk ulang, bahkan bisa dipoles agar tampak indah di permukaan.

“Nenek Asyani dihukum karena mencuri kayu senilai Rp50 ribu, dijatuhi 1 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Sementara Harvey Moeis, terdakwa korupsi Rp300 triliun, hanya dijatuhi 6,5 tahun penjara karena dianggap sopan dan punya tanggungan keluarga.” — Laporan media 2025
“YLBHI mencatat 122 kebijakan yang melanggar prinsip negara hukum dan HAM. Penangkapan warga Rempang menunjukkan hukum digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan perlindungan.” — YLBHI, 2024–2025
“Skor Rule of Law Index Indonesia stagnan di angka 0,53 sejak 2015. Praktik KKN dan pelanggaran etik masih marak di institusi hukum.” — World Justice Project

Kemerdekaan seharusnya berarti anak-anak bisa sekolah tanpa khawatir biaya, ibu-ibu bisa berobat tanpa takut ditolak rumah sakit, dan rakyat bisa bicara tanpa dibungkam. Tapi hari ini, kemerdekaan sering kali hanya hidup di spanduk, di pidato, di baliho, dan di media sosial pejabat. Ia menjadi simbol yang dirayakan setahun sekali, tapi tidak dirasakan sehari-hari.

Mungkin kita sudah merdeka dari penjajahan fisik. Tapi kita belum merdeka dari ketimpangan, dari ketakutan, dari ketidakadilan. Kita belum merdeka dari sistem yang lebih peduli pada angka statistik daripada wajah-wajah yang mengantri di puskesmas.

Kemerdekaan adalah proses. Ia bukan hanya warisan, tapi juga tanggung jawab. Dan selama masih ada yang lapar, tertinggal, atau terpinggirkan, selama hukum masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka perjuangan belum usai.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...