Skip to main content

Ijazahmu Bukan Takdirmu: Sebuah Drama Epik Antara Transkrip dan Takdir


Di lapangan luas bernama kehidupan, kita semua adalah pemain. Beberapa datang dengan seragam penuh bintang—Sarjana Hukum, Teknik, Ekonomi—masuk dengan gelar seolah mereka starter utama dalam final Liga Champions. Sementara yang lain, duduk di bangku cadangan, mengenakan jaket almamater dari jurusan yang bahkan ibunya sendiri pun tak paham: antropologi digital, filsafat kelautan, atau teknik lingkungan tropis basah.

Tapi pertandingan belum dimulai.

Dan seperti biasa, wasit kehidupan tidak peduli siapa lulusan universitas mana, atau siapa yang IPK-nya cumlaude. Ia hanya meniup peluit, dan dunia berjalan. Kadang lambat. Kadang brutal. Dan seringkali—tidak adil.


Mimpi dan Mitos yang Ditanamkan

Di tanah tempat matahari terbit pukul enam tapi harapan muncul sejak dalam kandungan, ada dogma yang tak tertulis tapi diwariskan turun-temurun:

“Pilih jurusan yang tepat, maka hidupmu selamat.”

Keluarga menjual sawah demi S1. Remaja 17 tahun disuruh memilih jurusan, seperti memilih pasangan hidup di Tinder tanpa bisa swipe left. Dan sejak itu, hidup dipetakan:

📚 Hukum? Jadi pengacara.
📊 Akuntansi? Keuangan.
💻 Informatika? Programmer.

Tak ada opsi lain. Tak boleh ada belokan. Karena katanya, jurusan adalah takdir. Seperti nasib Oedipus yang tak bisa menghindari ramalan, walau sekuat apapun berlari.

Namun, tahukah kau?

Takdir itu sering bercanda. Dan dunia kerja, lebih liar dari sekadar soal ujian akhir semester.


Kekacauan yang Mulia

Lihatlah sekeliling.

Seorang mantan mahasiswa teknik mesin, kini adalah digital marketer.
Lulusan pendidikan, kini mengepalai tim AI di unicorn teknologi.
Anak biologi—yang dulunya hapal kingdom monera dan protista—kini membuat desain UX yang memukau.

Apakah mereka tersesat?

Tidak. Mereka hanya berbelok, dan menemukan bahwa jalan tol bernama passion seringkali tidak muncul di Google Maps jurusan kuliah.

Justru dari “kesesatan” itulah lahir hal-hal besar. Di mana sistem gagal meramalkan potensi, manusia membangun jalurnya sendiri.


Bangkitnya Para Pembelajar Abadi

Kita hidup di era di mana gelar tak lagi sakti. Di mana CEO perusahaan teknologi bahkan tak bisa ngoding, dan content creator lebih dicari daripada insinyur nuklir.

Howard Schultz? Komunikasi.
Jack Ma? Bahasa Inggris.
Andrea Hirata? Ekonomi.
Ika Natassa? Perbankan.

Tapi mereka semua tidak berhenti di apa yang tertulis di ijazah. Mereka menulis ulang takdir mereka dengan tinta yang mereka pilih sendiri.

Karena hari ini, bukan siapa yang tahu paling banyak, tapi siapa yang mau terus belajar.


LinkedIn dan Lompatan Tak Terduga

Jadi jika hari ini kau duduk termenung di kelas, bertanya dalam hati: “Apa hubungannya semua ini dengan hidupku nanti?”—maka izinkan aku berkata:

Tarik napas. Lihat ke sekeliling. Dunia tidak seketat transkrip.

Mulailah dari mana saja.
Bangun portofolio.
Coba hal baru.
Bikin konten receh.
Tulis opini di LinkedIn.
Bangun personal branding.

Karena bisa jadi, dari satu postingan jujur yang kelihatan sepele, datang undangan wawancara dari tempat yang tak kau bayangkan.


Kesimpulan yang Membebaskan

Dalam pertandingan ini, ijazahmu adalah kick-off, bukan gol kemenangan. Ia hanyalah awal dari cerita, bukan narasi yang ditentukan penuh sejak prolog.

Dan seperti Drury berkata, “In this theatre of dreams, where scripts are often torn and rewritten mid-play, the bravest are those who dare to improvise.”

Jadi, kepada kalian yang merasa “salah jurusan”: mungkin kalian tak salah jalan, hanya sedang menulis rute sendiri.

Dan siapa tahu, justru jalan memutar itu akan membawa kalian pada pemandangan yang tak bisa dilihat dari jalan tol para akademisi.

Karena hidup bukan soal lulus dari mana.

Tapi soal kau menjadi siapa setelahnya.


Final Score:
Takdir 1 – Ijazah 0
Kemenangan ditentukan bukan oleh kampusmu, tapi oleh keberanianmu menari bersama ketidakpastian.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...