Skip to main content

Merah Putih: One For All — Nasionalisme Rasa Mi Instan

 

Film animasi Merah Putih: One For All lahir dengan premis yang di atas kertas terdengar megah: delapan bocah dari suku Betawi, Papua, Medan, Jawa Tengah, Tegal (bukannya ini di Jawa Tengah juga ya?), Makassar, Manado, dan Tionghoa, bersatu padu menyelamatkan bendera pusaka menjelang 17 Agustus. Masalahnya, bendera ini cuma Merah Putih biasa, yang di dunia nyata bisa dibeli di Shopee atau Tokopedia pakai gratis ongkir. Tapi di tangan pembuatnya, ia dijadikan simbol nasionalisme membara. Hasilnya, visual kaku, dialog seperti teks pidato, dan tempo cerita seperti nafas orang bengek.

Trailer dirilis 8–9 Agustus 2025 dan langsung dibanjiri kritik. Tanggal rilis bioskop adalah 14 Agustus 2025, tiga hari sebelum HUT ke-80 RI. Kalau ini lomba lari estafet, mereka bukan cuma sprint, tapi sprint sambil bawa batu di punggung.

Respons warganet tidak ada rem. Ada yang bilang grafisnya mirip “grafis keluarga Somat”, ada yang menyebut ini “tugas PPKn anak SMA yang dikerjakan seminggu sebelum deadline”, bahkan ada yang sarkas, “lihat kursi bioskop kosong selama dua jam kayaknya lebih menghibur.” Ada pula yang menuduh ini cuma strategi dadakan untuk melawan hype bendera Jolly Roger One Piece yang sedang panas-panasnya.

Budgetnya sekitar Rp6,7 miliar. Tapi grafisnya disebut mirip adegan PlayStation 2. Dana sebesar itu biasanya bisa menghasilkan minimal animasi yang rapi, tetapi di sini hasilnya membuat penonton heran: ini film nasional atau simulasi 3D tugas akhir SMK. Unsur produksinya sampai dituding “cuci uang”. Transparansi? Nol besar. Situs perfiki.com tiba-tiba dikunci (“403 forbidden”), informasi tim produksi menguap seperti proyek siluman yang bubar jalan.

Secara teknis, gerakan karakter kaku seperti boneka plastik yang baru ikut kelas yoga untuk pemula. Pencahayaan flat, latar belakang seperti wallpaper PowerPoint, dan ekspresi wajah mati rasa. Saat animasi dunia sudah bermain di level simulasi fisika realistis dan sinematografi 3D memukau, Merah Putih: One For All masih berkutat dengan rigging asal jadi dan transisi adegan kasar.

Dibandingkan Jumbo, animasi lokal yang dulu jadi kebanggaan, kalau Jumbo adalah iPhone maka Merah Putih: One For All ini Nokia jadul yang tiba-tiba dikira smartphone. Standar animasi internasional bahkan untuk film anak di platform seperti Netflix dan Disney+ sudah sangat tinggi. Anak-anak hari ini tumbuh dengan Turning Red, Encanto, atau Spider-Man: Into the Spider-Verse, yang indah secara visual sekaligus kuat secara naratif. Begitu Merah Putih muncul dengan kualitas teknis yang tertinggal, bahkan penonton anak-anak bisa langsung merasakannya.

Memang, industri animasi lokal punya keterbatasan anggaran dan SDM. Tapi itu bukan alasan untuk merilis karya yang belum matang. Lihat Si Juki The Movie atau Battle of Surabaya. Terbatas, iya. Tapi tetap menghadirkan visual yang layak tonton dan cerita yang solid.

Soal naskah, film ini lebih mirip brosur moral daripada animasi petualangan. Dialognya berisik dan patriotiknya kelewat formal, seperti pembacaan naskah upacara 17-an. Alur petualangannya ngebut, sehingga karakter dan emosi cuma numpang lewat. Alih-alih membiarkan karakter berkembang lewat aksi, film ini memilih menjejalkan pesan persatuan secara verbal, seolah takut penonton tidak paham kalau ini film nasionalis.

Bisa kah film ini bersaing dengan Demon Slayer: Infinity Castle yang rilis di waktu sama? Rasanya tawa adalah jawaban paling sopan. Produksi seperti ini lebih cocok jadi proyek ekstrakurikuler daripada penantang liga dunia.

Namun, adilnya, untuk anak-anak yang baru mengenal animasi Indonesia, film ini masih bisa menjadi tontonan ringan dengan bumbu cinta tanah air. Tapi kalau mau jadi tonggak sejarah, Merah Putih: One For All butuh upgrade total, dari animasi yang halus, cerita yang matang, akting suara yang hidup, sampai profesionalisme yang tidak lagi tunduk pada deadline 17 Agustus.

Pada akhirnya, menghormati penonton dan menjaga kualitas bukanlah pilihan, melainkan harga yang harus dibayar. Kalau tidak, karya ini hanya akan dikenang sebagai pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup untuk membuat film yang layak dibanggakan.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...