“History is written by the victors,” kata pepatah lama. Tapi sejarah juga mencatat:
para penulisnya seringkali tidak pernah disebut dalam pidato kemenangan.
Mari kita buka kembali satu babak yang sempat membuat dunia menoleh ke Indonesia—IMF–World Bank Annual Meeting di Bali, tahun 2018. Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Jokowi berdiri, tersenyum tipis, dan mengucapkan tiga kata yang tidak lazim terdengar di forum keuangan internasional:
“Winter is Coming.”
Bukan angka. Bukan kurva. Bukan jargon ekonomi. Tapi sebuah kutipan dari serial Game of Thrones, lengkap dengan analogi tentang Great Houses, Iron Throne, dan Evil Winter yang mengancam dunia.
Para hadirin tertawa. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian lainnya mencatat: "Indonesia has arrived." Dunia internasional mendengar pidato itu bukan karena Jokowi presiden negara besar—tapi karena pidato itu punya cerita. Dan seperti semua cerita yang bagus, ada satu orang di balik layar yang menulisnya:
Tom Lembong.
Dari Pena ke Penjara
Tujuh tahun kemudian, nama yang dulu menjadi arsitek narasi global itu kini disebut di persidangan. Tom Lembong divonis 4,5 tahun penjara dalam kasus impor gula. Tuduhannya: lebih mengutamakan ekonomi kapitalis ketimbang demokrasi ekonomi dan Pancasila.
Kata jaksa, Tom telah menyimpang dari semangat kerakyatan. Kata sebagian publik, ini hanyalah kriminalisasi atas teknokrat yang terlalu independen. Tapi satu hal pasti: negara ini punya selera aneh dalam memilih siapa yang harus dipuja, dan siapa yang harus dibuang.
Tom pernah menyelamatkan wajah Presiden saat ditodong pertanyaan wartawan asing. Dia menjawab cepat, tepat, tanpa naskah, demi menjaga reputasi Indonesia di panggung global. Tapi seperti nasib ghostwriter pada umumnya, begitu tinta mulai pudar, ia dihapus dari naskah.
Politik: Seni Menjilat, lalu Menggeser
Ada satu hukum tak tertulis dalam kekuasaan:
Semakin besar kontribusimu di belakang layar, semakin besar pula risiko kamu dilupakan.
Para teknokrat seperti Tom Lembong adalah semacam Pitagoras di istana yang penuh Machiavelli. Mereka datang membawa logika, data, dan harapan. Tapi istana bukan tempat untuk logika. Ia adalah ruang intrik, di mana loyalitas lebih penting dari kapasitas, dan kedekatan lebih penting dari kejujuran.
Tom adalah penulis pidato. Tapi ia bukan penulis kisah akhir kekuasaan.
Dan dalam sistem politik seperti ini, yang menulis bukanlah yang berkuasa—dan yang berkuasa, kadang tak paham isi tulisan.
"Winter is Coming", Tapi Bukan untuk Semua
Pidato Jokowi kala itu mengingatkan dunia akan ancaman global—perang dagang, ketimpangan, perubahan iklim. Tapi saat dunia benar-benar dihantam pandemi dan inflasi, pidato-pidato seperti itu menguap bersama wacana jangka pendek yang tak konsisten.
Ironisnya, narasi tentang persatuan untuk menghadapi ancaman bersama justru ditinggalkan di dalam negeri. Mereka yang tidak ikut barisan politis tertentu, atau terlalu banyak berpikir sendiri, mulai dipinggirkan. Musim dingin itu akhirnya datang, tapi bukan untuk melanda dunia seperti kata pidato—melainkan untuk membekukan suara-suara yang dulu setia menulisnya.
Tom Lembong kini menjadi simbol tragis:
bahwa menjadi cerdas saja tak cukup.
Bahwa menulis pidato legendaris tidak menjamin kekebalan dari politik lokal yang picik.
Dan bahwa mereka yang memperindah wajah kekuasaan, juga yang pertama dilempar keluar saat topeng mulai retak.
Negeri Para Bayangan
Di negeri ini, kita terbiasa mengangkat para penghibur jadi menteri, dan menjebloskan para pemikir ke penjara. Kita menepuk pundak penyair saat mereka melantunkan pujian, tapi menendangnya keluar saat puisinya berubah jadi pengingat.
Tom bukan satu-satunya. Banyak teknokrat—ekonom, birokrat, diplomat—yang dulunya dirangkul karena kompetensi, kini dianggap ancaman karena tidak bersedia ikut nyanyi paduan suara.
Mereka ini adalah para penulis bayangan kekuasaan, ghostwriter narasi negara, yang rela bekerja dalam diam, tanpa panggung, tanpa gelar. Tapi ketika badai datang, merekalah yang pertama dikorbankan agar kapal terlihat stabil.
Akhir yang Layak Ditulis
Kita hidup dalam zaman ketika konten lebih penting dari konteks, dan simbol lebih laku daripada substansi. Jokowi yang dulu berani mengutip Game of Thrones, kini dikelilingi tokoh-tokoh yang mungkin belum pernah menonton, tapi sibuk merebut Iron Throne versi lokalnya: jabatan, kursi komisaris, dan hak menentukan siapa yang masuk, siapa yang dibuang.
Mungkin benar, seperti kata Jon Snow:
“The true enemy won’t wait out the storm. He brings the storm.”
Dan dalam dunia nyata, musuh itu bukan White Walker, tapi lupa diri dan pembusukan loyalitas.
Jika sejarah memang ditulis oleh para pemenang, mari kita catat satu hal:
Para penulisnya juga berhak mendapat halaman yang adil.

Comments
Post a Comment