Skip to main content

Negara Itu Ibu, Pemerintah Itu Penjaga Warung

 


Negara Itu Rumah, Bukan Milik Pemerintah

Ada kalimat yang sering terlontar di ruang diskusi, unggahan sosial media, bahkan dalam bisik-bisik warung kopi:
“Saya mencintai negara ini, tapi tidak dengan pemerintahnya.”
Dan seperti biasa, akan selalu ada yang buru-buru merasa tersinggung. Katanya, kalau tak hormat pada pemimpin, berarti tak cinta tanah air. Seolah negara ini identik dengan penguasa, seolah mencintai negeri ini artinya wajib menyembah yang sedang duduk di kursi kekuasaan.

Padahal, logika paling dasar pun tahu: negara dan pemerintah bukan satu paket yang tak terpisah.


Negara dan Pemerintah: Dua Entitas, Dua Sifat

Negara adalah tanah, rakyat, bahasa, sejarah, luka-luka kolektif, dan cita-cita bersama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia adalah rumah besar yang kita tinggali, yang kita bela, dan yang kita perjuangkan, bahkan ketika cat temboknya mulai mengelupas dan atapnya bocor.

Pemerintah? Hanyalah penghuni sementara rumah itu. Mereka bukan pemilik, bukan arsitek, dan sering kali, bahkan tak tahu di mana letak peta fondasinya. Mereka datang dengan janji memperbaiki, tapi tak jarang justru mengacak-acak tata ruang demi keuntungan pribadi.

Kalau negara adalah ibu kandung, maka pemerintah hanya pengasuh yang datang silih berganti. Kadang peduli, kadang korup. Kadang melindungi, kadang menelantarkan.


Cinta Sejati Itu Mau Rewel

Mereka bilang, “Kalau cinta tanah air, jangan banyak mengkritik pemerintah!”
Tapi justru karena cinta, kita berani cerewet. Karena peduli, kita tak diam saat ketidakadilan dibiarkan menjamur. Karena cinta bukan hanya soal tepuk tangan di depan panggung, tapi juga soal berani menunjuk borok di balik tirai.

Cinta tanpa keberanian untuk mengkritik bukan cinta. Itu tunduk.

Kita tak sedang menghina negara saat kita marah pada pemimpinnya. Kita justru sedang menjaganya, agar tak dikuasai oleh mereka yang memperalat kekuasaan untuk menguntungkan diri dan kelompoknya sendiri.


Ketika Cinta Tanah Air Mengambil Dua Wajah

Di sinilah letak perbedaan besar antara patriotisme dan nasionalisme.

  • Patriotisme adalah cinta tanah air yang penuh nalar. Ia lahir dari kesadaran, bukan dari hafalan. Ia membuatmu berani bertanya: apakah pemerintah ini benar-benar memperjuangkan rakyat?

  • Nasionalisme, terutama dalam bentuk sempitnya, bisa jadi cinta yang buta. Ia mencintai negara sebagai lambang, tapi melupakan nilai. Ia mengibarkan bendera, tapi melarang kritik. Ia menepuk dada soal identitas, tapi menutup mata terhadap ketimpangan.

Cinta tanah air bisa lahir dari dua rasa:

  • Yang satu ingin merawat,

  • Yang satu ingin menguasai.

Dan di antara dua wajah itulah, banyak pemimpin yang memilih menjadi cermin palsu: tampak patriotik dari luar, padahal di dalam sibuk menyedot anggaran.


Rezim Gagal Tak Sama dengan Negeri yang Layak Ditinggalkan

Banyak dari kita muak dengan wajah para penguasa, lalu berpikir untuk meninggalkan negeri ini. Tapi negeri ini bukan milik mereka. Mereka hanya episode, bukan keseluruhan cerita.

Jangan tinggalkan rumah hanya karena tikusnya sedang banyak. Tikus bisa disingkirkan. Rumah bisa direnovasi. Tapi tanah tempat kita tumbuh, bahasa yang kita pakai untuk berpikir dan mencintai — itu tak tergantikan.

Jadi kalau hari ini kita lantang bersuara, itu bukan karena benci. Justru karena tak rela negeri ini jatuh ke tangan penjilat, koruptor, dan oportunis berseragam rapi yang mengambil sumpah demi Tuhan, tapi melanggar demi isi perut.


Cinta Negara Bukan Menyembah Pemerintah

Kita tidak lahir karena pemerintah. Kita tidak makan dari mulut mereka. Kita tidak merdeka karena mereka. Mereka hanyalah penumpang yang kebetulan sedang duduk di kursi sopir.
Dan kita, rakyat, punya hak — bahkan kewajiban — untuk mengoreksi arah setir.

Jadi kalau suatu hari mencintai negeri ini artinya harus bersuara keras, menolak tunduk, dan berani dianggap pembangkang, maka biarlah begitu. Karena jauh lebih berbahaya jika seluruh negeri ini diam serentak demi menjaga ego penguasa.


Dan Kalau Mereka Bilang: “Kalau Tak Suka Pemerintah, Tinggalkan Negaranya!”

Jawablah:

“Bukan kami yang harus pergi. Tapi kalian yang menyalahgunakan kekuasaanlah yang harus turun.”

Karena negeri ini terlalu mahal untuk diserahkan pada mereka yang tak pernah mencintai rakyatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...