Skip to main content

Senandung Jakarta di Sore Hari


Jakarta,
kau berdiri angkuh dan manis sekaligus,
di antara langit kelabu dan senja yang malu-malu
memoles cakrawala dengan rona jingga yang pelan
seakan tak ingin terburu-buru
mengakhiri hari yang penuh sesak.

Gedung-gedungmu
tegak seperti puisi yang dibangun dari baja dan kaca,
menyentuh langit tanpa ragu,
memantulkan cahaya yang kini mulai redup
namun tetap anggun,
seolah berkata:
“Aku pernah menyala, aku akan bersinar lagi esok pagi.”

Sungai kecil mengalir pelan di bawahnya,
cokelat dan jujur,
menjadi saksi bisu ribuan langkah yang pulang
menyusuri lorong-lorong waktu bernama rutinitas.
Lampu-lampu kendaraan menyalakan nyawa jalanan,
seperti bintang-bintang yang terlalu cinta tanah
hingga enggan bersemayam di langit.

Para pekerja—
dengan tubuh lelah dan mata yang menatap jauh
ke arah rumah,
ke arah pelukan,
ke arah nasi hangat dan anak-anak yang menunggu cerita—
mereka pulang,
dalam diam yang penuh harapan.

Sore di Jakarta bukan sekadar waktu,
ia adalah rasa.
Campuran getir dan manis,
antara ambisi dan kerinduan,
antara hiruk-pikuk dan hening yang dirindukan.
Di sela-sela hon dan langkah cepat,
terselip doa-doa kecil:
tentang rezeki yang cukup,
tentang waktu luang yang utuh,
tentang hidup yang tetap hangat walau tak selalu mudah.

Jakarta,
kau tak pernah benar-benar tidur,
tapi soremu adalah jeda yang lembut,
sebelum malam mengganti baju dan
menghidupkan lampu-lampu mimpi.

Dan di balik segala riuh dan gegap gempita,
kau tetap cantik,
dalam caramu yang paling sederhana—
ketika senja jatuh perlahan
di sela bayang gedung-gedung yang tak pernah lelah
menjaga langitmu.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...