Rejim Nazionis lagi-lagi berpesta pora. Mereka menampilkan intersepsi Sumud Flotilla sebagai “kemenangan besar.” Kapal dicegat, aktivis diculik, semua digiring ke Ashdod. Dalam propaganda murahan mereka, itu disebut “mencegah ancaman.” Padahal yang dicegat bukan misil, bukan torpedo, bukan kapal induk. Yang dicegat hanya hati nurani manusia. Dan hati nurani, kalau sudah berlayar, tak bisa dibajak dengan senapan.
Sejak awal, Flotilla tidak pernah dirancang untuk menembus blokade Gaza dengan kapal kecil. Itu misi mustahil, dan para penggagasnya tahu. Tujuan sebenarnya adalah menembus blokade moral, memecahkan tembok kebisuan dunia. Dan itu berhasil jauh sebelum kapal mencapai garis pantai.
Lihat saja. Setelah intersepsi, respons global bukan melemah — justru meledak. Kolombia mengusir diplomat Israel dan menyatakan membatalkan FTA, langkah diplomatik paling berani di Amerika Latin. Afrika Selatan langsung menghubungkan penculikan itu dengan pembangkangan Isra-hell terhadap ICJ. Turki membuka penyelidikan resmi atas warganya yang ikut Flotilla. Malaysia konsisten menggempur di jalur diplomasi.
Dari Italia lahir solidaritas yang paling praktis: serikat buruh mengumumkan pemogokan umum, melumpuhkan pelabuhan dan logistik. Ini bukan sekadar kecaman di podium, tapi benturan langsung di denyut nadi kapitalisme: rantai distribusi. Dari Eropa lain muncul gelombang protes, dari Belgia sampai Yunani. Dari Amerika Latin massa turun di Buenos Aires, menggaungkan solidaritas di jalanan.
Isra-hell mengira dengan menahan kapal cerita selesai. Justru sebaliknya, satu kapal yang ditahan berarti satu gelombang baru solidaritas. Isolasi bukan lagi sekadar wacana, tapi proses yang nyata berjalan.
Biaya, Risiko, dan Kebodohan yang Disengaja
Mari berhitung. Sumud Flotilla menghabiskan dana setidaknya 130 miliar rupiah. Dengan uang sebesar itu, bisa dikirim ratusan kontainer bantuan jauh lebih banyak daripada 44 kapal kecil itu. Dari segi efisiensi logistik, Flotilla jelas kalah. Dari segi keselamatan, risikonya absurd: setiap relawan siap ditembak babi hutan berseragam IOF yang berlagak kebal hukum internasional.
Tapi sekali lagi, ini bukan soal logistik. Flotilla adalah teater moral. Relawan tahu blokade tidak bisa didobrak dengan yacht dan perahu nelayan. Yang mereka dobrak adalah kesunyian politik di negeri masing-masing. Tiga tujuan utama:
-
Membuka mata publik dan politisi di negara asal relawan.
-
Mendorong tekanan politik-ekonomi terhadap Isra-hell.
-
Jika ada korban, memaksa negara asal serius membela warganya.
Itulah sebabnya spesifikasi utama relawan Flotilla bukan soal otot atau senjata, melainkan paspor. Paspor dari negara yang pemerintahnya bisa ditekan rakyatnya sendiri. Paspor dari demokrasi yang masih punya harga diri.
Ketika Olahraga dan Seni Ikut Bicara
Dan efeknya kini bergema jauh ke sektor yang biasanya pura-pura steril: olahraga dan seni.
Lebih dari 30 ahli hukum internasional baru saja menulis surat kepada Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, menuntut Israel dikeluarkan dari semua kompetisi. Alasannya jelas: laporan resmi PBB menyatakan genosida sedang berlangsung. Dunia sepakbola, kata mereka, tidak bisa terus menjadi arena pencucian darah. Rusia pernah dibekukan hanya karena invasi. Kenapa Isra-hell yang melakukan pembantaian massal dibiarkan?
Tekanan datang juga dari atlet dan federasi: federasi Turki, puluhan atlet internasional, bahkan UN experts sendiri. UEFA kini berada di bawah sorotan: apakah mereka sekadar operator turnamen atau penjilat genosida?
Di panggung seni, giliran Eurovision yang terbakar. Broadcaster dari Irlandia, Belanda, Spanyol, Slovenia, hingga Islandia mengancam boikot kalau Isra-hell tetap ikut serta. Bayangkan: festival musik pop, yang biasanya sibuk dengan glitter dan lipsync, kini menjadi arena politik paling keras. Bahkan gitar listrik pun tahu kapan harus berhenti bernyanyi.
Isra-hell dalam Cermin Dunia
Yang menarik bukan sekadar daftar panjang kecaman, tapi pola yang mulai terbentuk. Politik, diplomasi, hukum, olahraga, seni, buruh, massa jalanan — semua sektor perlahan bergerak serempak. Isra-hell semakin tampil telanjang sebagai rezim yang hanya bisa hidup dari dua hal: monopoli senjata dan cuci muka di layar propaganda.
Mereka menang dalam pertempuran senapan, tapi kalah total dalam perang moral. Mereka bisa menahan kapal, tapi tidak bisa menahan arus solidaritas yang mengalir dari pelabuhan Italia sampai panggung Eurovision.
Dan semakin mereka menembakkan peluru ke relawan, semakin banyak sektor dunia yang sadar bahwa yang ditembak bukan tubuh manusia semata, melainkan kredibilitas hukum internasional, kredibilitas demokrasi, kredibilitas seni, bahkan kredibilitas olahraga.
Penutup: Kemenangan yang Tidak Mereka Pahami
Jadi benar, Isra-hell berhasil “menghentikan” Sumud Flotilla. Tapi seperti biasa, mereka tidak membaca bab berikutnya. Flotilla bukan misi logistik, tapi misi moral. Dan misi moral itu tidak bisa dicegat di tengah laut.
Setiap peluru yang mereka tembakkan ke relawan, setiap kapal yang mereka bajak, setiap aktivis yang mereka culik — semua itu justru melahirkan gelombang solidaritas baru.
Dari serikat buruh yang menutup pelabuhan, hingga pakar hukum yang menutup peluang Isra-hell di UEFA. Dari negara yang mengusir duta besar, hingga penyanyi pop yang menolak tampil di panggung yang sama dengan penjagal.
Sumud Flotilla sudah membuktikan satu hal: isolasi Isra-hell bukan lagi ancaman, tapi kenyataan yang sedang menelan mereka hidup-hidup.

Comments
Post a Comment