Di dunia Arab yang dibanjiri minyak, emas, dan janji-janji kosong, sejarah justru ditulis oleh seorang gadis Swedia berusia 22 tahun. Namanya Greta Thunberg. Dunia mengenalnya sebagai aktivis iklim, gadis yang berdiri di forum-forum internasional sambil menunjuk hidung para pemimpin dunia dan berkata: “How dare you.” Kini, ironinya: kalimat itu tidak lagi diarahkan ke kapitalis karbon, melainkan ke para penguasa Arab yang memilih diam ketika G4Z4 berubah jadi neraka terbuka.
Greta tidak datang dengan jet tempur. Ia tidak punya istana marmer, tidak ada OPEC, tidak ada miliaran dolar untuk membeli citra di media internasional. Ia hanya punya satu hal yang tidak dimiliki para raja dan presiden Arab: keteguhan moral. Itulah yang membuat 46 negara bisa disatukan dalam satu armada sipil, Global Sumud Flotilla, sebuah ekspedisi kemanusiaan yang melintasi lautan untuk menantang blokade paling barbar abad ini.
Orang-orang suka menempelkan label pada Greta: Asperger’s, autisme, remaja emosional. Dunia yang sibuk dengan normalitas ini lupa bahwa justru “ketidaknormalan”-nya yang menyelamatkan dia dari penyakit utama peradaban: kompromi. Greta fokus, konsisten, dan tidak bisa dibeli. Sementara para pemimpin “waras” sibuk berhitung soal kurs dolar, kursi jabatan, dan kursus pencitraan.
Sejarah tidak pernah mengingat angka GDP atau jumlah rudal yang dipamerkan di parade militer, tapi ia mencatat dengan teliti siapa yang berani menyeberangi laut demi kebenaran. Dulu ada Mavi Marmara yang menjadi simbol perlawanan sipil terhadap blokade. Kini, Greta memberi babak baru: flotilla yang lahir dari generasi muda, lintas bangsa, dengan satu bahasa universal: nurani.
Ironi pahitnya, dunia Arab yang katanya satu umat, satu bahasa, satu agama, justru lebih hancur persatuannya dibanding negara-negara Eropa yang selama ini dituduh “sekuler” dan “dingin.” Seorang gadis dari Swedia berhasil menyatukan 46 negara, sementara Liga Arab bahkan tidak sanggup menyatukan sepuluh mulut untuk mengeluarkan satu kalimat jelas melawan penjajahan.
Apakah kita masih harus pura-pura heran? Para raja Arab lebih sibuk membangun stadion megah untuk sepak bola daripada menghentikan bombardir yang menghapus anak-anak dari daftar hadir sekolah. Mereka meneken kontrak senjata dengan Washington sambil membiarkan G4Z4 jadi laboratorium eksperimen rudal. Di hadapan itu semua, Greta yang tidak punya senjata justru lebih menakutkan: karena keberanian moral tidak bisa ditembak jatuh.
Global Sumud Flotilla adalah tamparan paling keras bagi para penguasa yang gemar berfoto bersama bendera Palestina, tapi tiarap begitu ada ancaman embargo. Tamparan yang ironisnya datang bukan dari seorang jenderal Arab, melainkan dari seorang perempuan muda berambut kepang asal Swedia.
Sejarah nanti akan mengingat ini dengan sederhana: ketika G4Z4 terkepung, bukan para khalifah palsu atau presiden boneka yang berdiri, melainkan seorang gadis Asperger’s. Dunia yang menganggapnya “abnormal” justru akan berhutang padanya, karena di tengah kegilaan global, hanya orang-orang yang berbeda yang mampu menjaga kewarasan kemanusiaan.

Comments
Post a Comment