Skip to main content

Sumud: Keteguhan yang Berlayar di Lautan

Ada kata yang lahir dari tanah yang terluka, tapi tumbuh menjadi falsafah perlawanan: Sumud (صمود). Dari akar kata ṣ-m-d yang bermakna “berdiri teguh”, “tidak goyah”, “berpegang erat.” Namun bagi bangsa yang dipaksa hidup dalam pengusiran abadi, kata ini melampaui arti kamus. Ia menjelma sebuah cara hidup.

Sumud bukan sekadar sabar. Sabar tanpa arah adalah pasrah, dan pasrah tanpa perlawanan hanyalah undangan untuk dilenyapkan. Sumud adalah sabar yang menolak tunduk, sabar yang berakar, sabar yang menjelma tekad kolektif. Sebuah keteguhan yang tidak sekadar bertahan hidup, tetapi bertahan bermakna.

Di Filistin, Sumud hadir dalam wajah yang berbeda. Ada Sumud pasif: keputusan untuk tetap tinggal di tanah meski rumah digusur, meski desa dikubur dalam arsip. Ada pula Sumud aktif: membangun sekolah di bawah bayang-bayang tank, menulis puisi di tengah senapan yang terkokang, menanam pohon zaitun meski berkali-kali ditebang.

Pohon zaitun itu sendiri adalah kitab terbuka tentang Sumud. Akarnya menyelam dalam, batangnya menyimpan usia berabad-abad, dan meski ditebang, ia kembali tumbuh. Zaitun tidak melawan dengan kilatan besi, melainkan dengan kesabaran yang keras kepala. Dan di situlah inti Sumud: perlawanan yang mungkin tampak halus, namun justru itulah yang membuatnya tak terkalahkan.

Falsafah ini menolak dikerdilkan menjadi jargon politik. Ia adalah napas sehari-hari, denyut yang menjaga agar bangsa tidak larut dalam keputusasaan. Di tanah lain, kekalahan berarti penaklukan. Di Filistin, kekalahan hanya berarti babak berikutnya dalam perlawanan.

Hari ini, falsafah itu berlayar. Sumud meninggalkan metafora, lalu menjelma nyata dalam bentuk armada: Global Sumud Flotilla. Kapal-kapal sipil dari 46 negara, berisi relawan, dokter, aktivis, bahkan guru dan nelayan. Mereka tidak membawa senjata, melainkan gandum, obat, dan tekad. Mereka tidak didorong kepentingan negara, melainkan nurani.

Di hadapan mereka terbentang lautan yang penuh blokade, dengan risiko ditangkap, dihalangi, bahkan ditenggelamkan. Namun justru di sanalah Sumud menemukan bentuk paling jernihnya: tidak berlayar untuk menang, melainkan untuk menolak diam. Tidak bergerak demi kekuasaan, melainkan demi memastikan dunia tidak lupa.

Kontrasnya telanjang. Negara-negara besar dengan kapal perangnya memilih menutup mata, sementara flotilla ini berlayar dengan perbekalan sederhana. Para pemimpin Arab bersaing dalam parade kata-kata kosong, sementara warga sipil internasional justru menempuh risiko yang mereka hindari. Armada selfie melintas di Mediterania dalam kapal pesiar mewah, sementara armada nurani menembus lautan dengan kapal bekas, penuh harapan rapuh namun teguh.

Sumud di darat berarti menolak meninggalkan tanah. Sumud di laut berarti menolak membiarkan dunia melupakan Gaza. Kapal-kapal ini mungkin akan dihentikan, mungkin relawannya akan ditahan, mungkin bantuan yang mereka bawa akan dirampas. Tapi sekali lagi, Sumud tidak pernah diukur dengan menang atau kalah. Ia hanya diukur dengan satu hal: tetap ada, tetap berdiri, tetap teguh.

Sejarah akan mencatat bukan pada siapa yang terkuat, tetapi pada siapa yang menolak hilang. Dan di lautan ini, armada Sumud telah memastikan bahwa Filistin, dengan segala luka dan darahnya, tetap hidup dalam ingatan dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...