Ada satu kisah yang sering berseliweran di dunia maya: kisah seorang presiden yang makan siang bersama mantan penyiksanya. Kisah yang katanya berasal dari Nelson Mandela. Ia duduk di restoran bersama tim pengawal, lalu melihat seorang pria tua di meja seberang yang tangannya bergetar hebat saat makan. Mandela mengundangnya duduk bersama. Pria itu datang, duduk di sebelahnya, makan tanpa berani menatap, lalu pergi dengan cepat.
Seorang pengawal berbisik, “Tuan, dia tampak sangat sakit.”
Mandela menjawab pelan, “Tidak, dia hanya takut.”
Pria itu dulunya kepala penjara, tempat Mandela disiksa selama bertahun-tahun. Ketika Mandela yang muda dulu memohon air, dia datang, bukan membawa air, tapi penghinaan. Ia menumpahkan urin di kepala tahanannya yang lemah. Dan kini, puluhan tahun kemudian, sang tahanan menjadi Presiden Afrika Selatan. Namun alih-alih membalas, Mandela hanya makan bersamanya dan membiarkannya pergi.
Entah kisah itu benar-benar terjadi atau hanya alegori yang tumbuh dari legenda, tapi jujur saja: kisah itu terdengar lebih jujur daripada sebagian besar pidato pemimpin modern.
Karena kisah itu menggambarkan sesuatu yang sangat langka: kuasa yang tidak dipakai untuk membalas.
Kita hidup di dunia yang terlalu mencintai drama balas dendam. Dunia yang percaya bahwa luka hanya bisa sembuh jika luka lain dibalas dengan luka baru.
Kita menulis kisah pahlawan, tapi selalu menutupnya dengan kemenangan berdarah. Kita bicara tentang keadilan, tapi yang kita cari adalah pembalasan.
Dunia mencintai dendam, asal bukan dendam yang ditujukan padanya sendiri.
Tapi sejarah punya cara lain untuk menunjukkan kebesaran.
Dan jauh sebelum Mandela, ada seorang manusia yang menunjukkan hal yang sama, bukan di abad ke-20, tapi di abad ke-7.
Saat Nabi Muhammad Saw menaklukkan Mekkah, kota yang dulu mengusir, menghina, dan memeranginya, beliau datang bukan sebagai pemenang yang haus balas dendam, melainkan sebagai manusia yang telah menaklukkan egonya sendiri.
Dengan kekuasaan penuh di tangan, beliau bisa saja membalas seluruh perlakuan Quraisy yang kejam: yang pernah melempar kotoran di punggungnya saat salat, menyiksa para sahabat, bahkan memaksa beliau hijrah. Tapi beliau tidak melakukannya.
Beliau berkata:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Idhabû fa antum al-thulaqâ’.)
Hanya itu. Tanpa hukuman, tanpa penghinaan, tanpa pembalasan.
Dan kepada dunia yang mengukur kekuatan dari jumlah musuh yang ditaklukkan, beliau menunjukkan definisi baru: kekuatan sejati adalah menahan diri ketika balas dendam ada di depan mata.
Di masyarakat Arab waktu itu, balas dendam adalah bentuk kehormatan.
Suku-suku menilai harga diri dari seberapa cepat mereka membalas luka. Tapi Nabi membalik logika dunia itu: bahwa kehormatan sejati bukan pada kemampuan melukai, tapi pada kemampuan memaafkan.
Beliau bahkan berkata, “Hari ini adalah hari kasih sayang,”
(Al-yawmu yawmul marhamah),
ketika orang lain berharap beliau berkata, “Hari ini adalah hari pembalasan.”
Dan dari pengampunan itulah, lahir revolusi yang lebih besar dari sekadar kemenangan militer:
revolusi spiritual yang memulihkan manusia dari rantai kebencian.
Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Mekkah dan Mandela di Pretoria memiliki gema yang sama, hanya berbeda bahasa dan abad.
Keduanya pernah disiksa, dihina, dipenjarakan, tapi ketika kuasa ada di tangan, mereka tidak berubah menjadi bayangan dari para penindasnya.
Dan di situlah letak kebesaran sejati: menang tanpa meniru kejahatan yang dulu melukai kita.
Mereka berdua memahami sesuatu yang kebanyakan manusia modern lupa, bahwa dendam bukan bentuk kekuatan, melainkan bentuk lain dari kelemahan yang belum sembuh.
Hari ini, kita hidup di zaman di mana kebencian bisa dikirim dalam satu klik.
Kita tidak lagi menyerang kota, tapi kita menyerang karakter.
Kita tidak lagi menebas kepala musuh, tapi kita menebas reputasi.
Kita menyebutnya “keadilan digital”, padahal yang kita cari adalah sensasi menjadi benar.
Di media sosial, semua orang ingin jadi hakim, tak ada yang mau jadi penyembuh.
Kita berbicara tentang “peace” di caption, tapi dalam komentar kita mengobarkan perang.
Kita mengutip Mandela dan Nabi, tapi hidup dengan prinsip: “Aku akan maafkan, tapi aku tidak akan lupa, dan aku akan pastikan dia tahu itu.”
Padahal yang dimaksud memaafkan bukan sekadar tidak membalas, tapi berhenti memberi luka itu kekuasaan atas diri kita.
Dalam banyak hal, Mandela dan Nabi Muhammad sama-sama memberi pelajaran tentang kekuasaan yang beradab.
Bahwa kekuasaan bukan soal siapa yang berlutut, tapi siapa yang memilih tidak membuat orang lain berlutut.
Bahwa kemenangan sejati bukan ketika musuh kalah, tapi ketika hati kita tidak lagi ingin mereka kalah.
Karena memaafkan bukan tanda kelemahan, itu tanda bahwa kita sudah terlalu kuat untuk terus terikat pada kebencian.
Keduanya menunjukkan bahwa sejarah manusia hanya bisa bergerak maju kalau luka tidak diwariskan sebagai dendam.
Mandela tahu, jika Afrika Selatan ingin sembuh, bangsa itu harus memilih rekonsiliasi, bukan pembalasan.
Begitu pula Nabi Muhammad tahu, jika Mekkah ingin damai, ia harus dimaafkan, bukan dihancurkan.
Dan itulah bedanya pemimpin besar dengan penguasa biasa: yang satu membangun masa depan, yang lain hanya membalas masa lalu.
Mungkin benar kata Mandela:
“Resentment is like drinking poison and hoping it will kill your enemies.”
Dan mungkin benar juga pelajaran Nabi:
“Barangsiapa menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh manusia pada hari kiamat, dan memberinya kebebasan memilih bidadari yang diinginkannya.”
(HR. Abu Dawud)
Dua kalimat dari dua zaman, tapi nadanya sama:
bahwa kebencian itu racun, dan pengampunan adalah kebebasan.
Jadi, entah di padang pasir abad ke-7 atau di ruang sidang abad ke-20, pesannya tetap abadi:
bahwa kebesaran bukan terletak pada siapa yang kita kalahkan,
melainkan pada siapa yang kita pilih untuk tidak kita kalahkan.
Dan barangkali, di dunia yang semakin keras dan bising ini,
pengampunan adalah satu-satunya revolusi yang tersisa,
revolusi yang tidak menumpahkan darah, tapi menyembuhkan jiwa.

Comments
Post a Comment