Ada sesuatu yang getir tapi menggelikan dalam curhatan seorang dosen bergelar S3 dari Monash University yang menulis bahwa dirinya “dihargai 300 ribu rupiah” untuk berbicara di acara mahasiswa. Sementara influencer yang hadir di acara yang sama, konon dibayar belasan juta, plus riders segala. Ia menulis: It’s not about the money. Tapi justru di sanalah tragedinya mulai terasa: di dunia yang menilai ilmu pengetahuan dengan harga kopi kekinian, bahkan kata “menghargai” pun kehilangan maknanya.
Inilah era di mana The Death of Expertise bukan lagi sekadar buku, tapi kenyataan sehari-hari. Tom Nichols dalam bukunya menulis bahwa kepakaran mati bukan karena pakar berhenti berbicara, tapi karena publik berhenti mendengarkan. Dalam konteks kita, publik bukan hanya berhenti mendengarkan, tapi juga berhenti menghargai. Yang tersisa hanyalah kalkulator digital yang menghitung “engagement rate”, bukan kualitas pemikiran. Yang dicari bukan kebenaran, melainkan atensi.
Di hadapan algoritma, gelar akademik hanyalah tagar tanpa daya.
Clash of values-nya nyata di sini. Antara ekonomi versus moral, pengetahuan versus dampak, idealisme versus pragmatisme. Kita hidup di masa ketika moral dianggap “subsidi non-produktif”. Di mana keikhlasan ditertawakan sebagai kebodohan, dan keilmuan dianggap tak berguna kalau tak menghasilkan cuan. Kampus, yang dulu sakral sebagai benteng ilmu, kini lebih mirip startup event organizer: ada branding, ada sponsor, dan ada “influencer package” untuk menjual wibawa palsu.
Seorang dosen berbicara soal idealisme, tapi sistemnya sendiri menekan untuk menyesuaikan diri dengan pasar. Bukankah ironis, bahwa mahasiswa yang belajar tentang “etika profesi” justru melupakan etika menghargai profesi dosen mereka? Bahwa mereka belajar tentang “kewirausahaan sosial” tapi menghitung manusia dengan logika untung-rugi?
Inilah benturan paling absurd di abad digital: ketika pengetahuan tidak lagi menjadi kompas moral, tapi alat komersial.
Di sini, tragedinya bukan pada angka 300 ribu itu. Melainkan pada bagaimana angka itu menjadi simbol betapa murahnya nilai pengetahuan dalam hierarki kapitalisme digital. Kita membayar lebih mahal untuk orang yang bisa membuat kita tertawa lima belas detik daripada orang yang bisa membuat kita berpikir lima belas tahun ke depan. Dan lucunya, kita semua ikut menertawakan hal itu, lalu menganggapnya normal.
Sialnya, dosen itu salah satu korban, dan sekaligus bagian dari sistem yang menciptakan paradoks itu. Karena ia sendiri mengukur rasa “tidak dihargai”-nya dengan perbandingan honor. Ia bilang: “It’s not about the money.” Tapi kemudian menjelaskan perbandingan honor, jumlah peserta, followers, dan gelar. Padahal justru di situlah about the money itu bersembunyi, rapi tapi telanjang.
Kita hidup dalam dunia yang terus meneriakkan bahwa semuanya “bukan soal uang”, sambil menghitung dengan kalkulator di bawah meja. Dunia di mana kesombongan moral menyamar sebagai kesedihan intelektual.
Tom Nichols menyebut gejala ini sebagai “the democratization of ignorance”. Semua orang merasa setara dalam hal opini, bahkan tanpa dasar apa pun. Akibatnya, kepakaran kehilangan wibawa, karena dianggap tidak relevan dengan “realitas pasar”. Dulu, profesor bicara, publik mendengar. Sekarang, influencer bicara, profesor ikut menonton, karena kalau tidak, engagement-nya turun.
Dan begitulah kepakaran mati pelan-pelan. Bukan dibunuh oleh kebodohan, tapi ditikam oleh relevansi.
Para ahli kini dipaksa berperan sebagai content creator. Ilmu harus dikemas seperti snack ringan agar mudah dikunyah, cepat viral, dan tidak menyinggung siapa pun. Kalau terlalu rumit, dianggap elitis. Kalau terlalu jujur, dianggap nyinyir. Sementara kalau terlalu idealis, disebut tidak “marketable”. Maka jadilah akademisi yang sibuk membuat reels motivasi dengan musik lembut di latar belakang. Bukan karena mereka mau, tapi karena kalau tidak, dunia akan lupa bahwa mereka ada.
Dari sini muncul dilema yang lebih dalam: antara idealisme dan pragmatisme. Antara ingin dihargai sebagai pendidik, tapi juga ingin tetap relevan dalam ekosistem ekonomi digital. Akhirnya, banyak akademisi yang tidak sadar bahwa mereka sedang ikut mempopulerkan budaya yang membunuh kepakaran itu sendiri.
Misalnya: saat mereka mengukur pengaruh lewat jumlah followers. Saat mereka ikut berkompetisi dalam logika kapital sosial yang sama dengan influencer yang mereka kritik. Saat mereka mengeluh “dihargai 300 ribu”, tapi menegaskan “follower saya 101 ribu”. Ada paradoks yang getir di sana, sebuah tragedi intelektual yang terjebak dalam sistem yang mereka coba lawan.
Bukankah lebih jujur jika dikatakan begini: “Saya kecewa karena dunia tidak lagi menghargai ilmu.”? Tapi mungkin itu terdengar kurang Instagrammable.
Namun, di balik sinisme itu, ada satu luka sosial yang nyata: dunia akademik memang sedang kehilangan maknanya di hadapan logika pasar. Kampus bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan ajang mengukur daya jual. Mahasiswa belajar membuat personal branding, bukan argumen. Mereka menulis skripsi bukan untuk memahami, tapi untuk lulus cepat dan “naik level”.
Kita menciptakan generasi yang lebih tahu cara menaikkan engagement rate ketimbang menulis kajian ilmiah. Maka jangan heran kalau dosen dihargai 300 ribu, karena dalam algoritma pasar, nilai pikiran sudah kalah jauh dari nilai klik.
Tapi kalau kita tarik napas sedikit lebih panjang, di sinilah letak moralnya: penghargaan sejati tidak pernah datang dari sistem, tapi dari kesadaran. Kalau para dosen dan akademisi terus menunggu “penghargaan” dari dunia yang sudah buta arah ini, mereka akan kecewa terus-menerus. Dunia kapitalistik tidak dirancang untuk menghormati kebijaksanaan; ia dirancang untuk menjual perhatian.
Barangkali sudah waktunya para intelektual berhenti berharap dunia menghargai mereka, dan mulai menghargai dirinya sendiri. Dengan cara yang lebih senyap, tapi lebih bermartabat: terus berbagi ilmu tanpa menjadikannya komoditas. Karena begitu ilmu dijadikan produk, ia kehilangan ruhnya.
Ya, dunia sekarang memang tidak adil. Tapi keadilan tidak akan datang dari sistem yang hanya mengenal rate card. Ia hanya lahir dari keberanian untuk tetap waras di tengah pasar yang gila.
Tom Nichols menulis, “When everyone is an expert, there’s no need to listen.” Tapi di sini, bahkan lebih suram: ketika semua orang ingin dibayar seperti expert, tak ada lagi yang mau berpikir seperti expert.
Maka kematian kepakaran bukan hanya karena publik bodoh, tapi karena para pakar ikut menyesuaikan diri dengan kebodohan itu, demi relevansi. Dosen merasa perlu menulis curhatan di Instagram, menegaskan gelar dan jumlah follower, lalu menutupnya dengan “It’s not about the money.” Tapi kalau memang bukan tentang uang, mengapa harus ada postingan itu sama sekali?
Mungkin, tanpa disadari, kita semua sedang berdiri di pemakaman kepakaran. Di sana, nisan-nisannya bertuliskan: “Intelektualitas, mati karena like dan honor.”

Comments
Post a Comment