Sebelum menonton film Abadi Nan Jaya, saya sudah menurunkan ekspektasi lebih dulu. Saya tahu ini bukan World War Z yang membuat jantung kerja lembur, dan juga bukan Zom 100: Bucket List of the Dead yang bisa membuat kita tertawa di tengah kekacauan. Saya cuma berharap satu hal sederhana: para pemainnya jangan sampai akting seperti sedang audisi sinetron kejar tayang. Well, harapan saya tidak sepenuhnya terkabul, tapi juga tidak sepenuhnya hancur. Setidaknya, tak ada adegan melotot disertai suara hati yang menggema seperti efek gua. Itu sudah pencapaian.
Film ini dibuka dengan suasana khas pedesaan Jawa: acara selamatan anak Pak Kades yang baru dikhitan. Musik dangdut, tenda di depan rumah, dan warga desa yang sibuk menyantap hidangan, semuanya tampak normal, damai, dan sangat “desa”. Rahman, seorang polisi (diperankan dengan gaya yang entah mengapa lebih mirip polisi di iklan layanan masyarakat daripada polisi sungguhan), datang dengan niat mulia: melamar Ningsih. Namun begitu ia meninggalkan lokasi pesta, suasana damai itu mendadak berubah menjadi mukbang zombie. Begitu cepat peralihannya, seperti channel TV yang ganti dari RCTI ke Trans7 tanpa jeda iklan.
Lalu film mundur lima jam ke belakang. Di sinilah muncul Pak Sadimin, pemilik perusahaan jamu legendaris “Wani Waras”, yang diperankan oleh Donny Damara, satu-satunya aktor di film ini yang tampak benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Pak Sadimin mencoba ramuan hasil eksperimen terbaru: jamu yang konon bisa membuat tubuh muda kembali. Dan tentu saja, sesuai hukum alam film zombie, semua yang ingin awet muda biasanya berakhir tidak hidup sama sekali. Dalam hitungan jam, Sadimin berubah menjadi zombie. Efeknya menular ke pembantu-pembantunya, lalu ke warga sekitar. Seisi rumah Sadimin pun menjelma menjadi paguyuban mayat hidup.
Cerita film ini hanya berlangsung satu hari, tapi entah kenapa terasa lebih lama dari masa PPKM. Desa Wanirejo yang tadinya adem berubah jadi ladang mayat berjalan. Kalau bicara soal alur, ya, so so lah. Formula klasik film zombie: gigitan, teriakan, kejar-kejaran, darah di mana-mana. Tapi film ini punya “plus” tersendiri. Plus-nya bukan di efek visual, bukan di naskah, apalagi di akting. Plus-nya justru di tingkat kebodohan para karakternya yang membuat penonton tak henti-henti bergumam, “serius nih?”
Ada banyak momen di mana para tokoh tampak tidak punya naluri bertahan hidup. Misalnya, sudah tahu ada zombie mendekat, tapi tetap diam di tempat. Atau adegan sok heroik di mana seseorang yang sudah digigit masih berlagak jadi pahlawan, padahal jelas-jelas tinggal tunggu waktu jadi mayat juga. Rasanya seperti menonton orang-orang yang tidak pernah menonton film zombie sebelumnya. Mungkin di semesta mereka, film Train to Busan belum pernah diputar.
Yang ironis, para pemain figuran, sopir truk, para pembantu rumah, warga desa, justru bermain lebih natural dibanding para pemeran utama. Sopir truk yang cuma muncul dua menit saja bisa terlihat lebih hidup (dalam arti sesungguhnya) dibanding tokoh protagonisnya. Ada momen di mana seorang ibu-ibu desa menjerit ketakutan, dan entah kenapa ekspresinya jauh lebih meyakinkan ketimbang ekspresi si tokoh utama perempuan yang tampak seperti sedang bingung mau pesan kopi atau teh.
Donny Damara dan Eva Celia jadi pengecualian. Donny Damara berhasil menghadirkan sosok pemilik perusahaan jamu yang menjiwai banget perannya sebagai seseorang yang kegirangan setelah berhasil kembali muda. Sementara Eva Celia sangat pas menjadi seorang ibu tiri yang menikah dengan ayah dari sahabatnya sendiri. Ingin kembali menyambung tali persahabatan dengan temannya itu, namun selalu dijutekin, karena temannya itu masiih tidak terima ayahnya menikah dengan sahabatnya. Ayahnya diperankan Donny Damara dan temannya itu diperankan Mikha Tambayong by the way. Selebihnya, akting pemain lain terasa seperti versi panjang dari latihan teater SMA, termasuk Mikha Tambayong yang selalu melotot setiap melihat zombie mengejar dia.
Sebagai penonton, saya berkali-kali menahan diri untuk tidak menekan tombol “skip 10 detik”. Tapi setiap kali rasa sabar mulai habis, film ini malah memberi adegan yang makin absurd. Rasanya seperti menonton video tutorial “Cara Bertahan dari Zombie dengan Langkah yang Salah”. Kalau kamu punya tekanan darah rendah, film ini bisa jadi terapi alami. Sepanjang menonton, kamu akan sering kesal, dan tekanan darahmu dijamin naik perlahan tapi pasti.
Namun di balik semua kekacauan itu, ada hal menarik yang sebenarnya bisa digali lebih dalam: gagasan tentang obsesi manusia terhadap keabadian. Film ini seolah ingin menyampaikan pesan bahwa keinginan untuk awet muda bisa berakhir mematikan. Jamu yang seharusnya menyembuhkan justru mengubah manusia jadi pemangsa. Ini semacam satire tentang budaya “anti-tua” yang menjamur: krim pemutih, suplemen anti-aging, suntik kolagen, hingga jamu mistis yang menjanjikan vitalitas abadi. Dalam konteks itu, film ini sebenarnya punya potensi jadi kritik sosial yang cukup cerdas, kalau saja naskahnya digarap dengan lebih serius, bukan sekadar parade orang panik tanpa arah.
Sayangnya, potensi itu tenggelam dalam naskah yang terasa seperti ditulis sambil menunggu azan magrib. Dialog-dialognya tak jarang terdengar janggal. Beberapa punchline komedi malah terasa dipaksakan, dan ketika film mencoba serius, hasilnya justru membuat penonton tertawa, bukan karena lucu, tapi karena tak tahu harus bereaksi apa.
Namun, di tengah segala kekonyolan itu, Abadi Nan Jaya tetap punya pesona unik: ia gagal dengan gaya. Ada momen-momen di mana film ini nyaris menyentuh absurditas yang menghibur, semacam so bad it’s good. Seperti menonton seseorang jatuh di atas pisang, tapi dengan niat tulus. Film ini tidak malu menjadi aneh. Bahkan, terkadang terasa seperti parodi dari genre zombie itu sendiri. Kalau niatnya memang itu, maka selamat, film ini berhasil secara tak sengaja.
Menariknya, di akhir film kita disuguhi adegan yang memberi isyarat akan adanya sekuel. Grace, salah satu karakter, terlihat meminum jamu misterius itu sebelum berangkat ke luar negeri bersama suaminya. Saya dan anak saya sempat berandai-andai, seperti apa bentuk film lanjutannya nanti. Mungkin perpaduan antara I Am Legend versi FTV dan Zombieland versi tanpa humor. Atau bisa juga jadi Eat Pray Love, tapi yang dimakan bukan pizza, melainkan manusia.
Tentu, semua kemungkinan itu terbuka lebar. Dunia sinema Indonesia saat ini sedang gemar membuat semesta, dari semesta superhero lokal sampai semesta hantu viral. Jadi, tidak menutup kemungkinan akan lahir “Semesta Jamu Wani Waras”, di mana tiap karakter punya kisah sendiri tentang bagaimana mereka salah minum jamu dan berakhir jadi mayat hidup. Setidaknya, peluang itu ada, meski harapan saya sederhana saja: kalau sekuel benar dibuat, semoga jamunya tidak hanya bikin muda, tapi juga bikin aktingnya ikut waras.
Pada akhirnya, Abadi Nan Jaya bukan film zombie yang menegangkan, bukan pula yang kocak, tapi entah bagaimana berhasil membuat penonton betah menonton sampai akhir, mungkin karena kita menunggu-nunggu kapan semua ini selesai. Film ini seperti eksperimen jamu itu sendiri: berani, ambisius, tapi tidak diuji klinis. Ia punya semangat lokal yang menarik, tapi juga kekacauan struktural yang tak bisa diabaikan.
Kalau kamu mencari hiburan yang membuatmu berpikir, ini bukan filmnya. Tapi kalau kamu ingin tahu seperti apa rasanya menonton film di mana pemain figuran tampak lebih berjiwa daripada pemeran utama, maka Abadi Nan Jaya adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tidak karena bagus, tapi karena membuat kita sadar bahwa terkadang, menjadi figuran pun bisa lebih berharga, selama kita benar-benar “hidup” di layar.

Comments
Post a Comment