Skip to main content

Aksen, Kekuasaan, dan Kolonialisme di Galaksi Jauh

 

Di galaksi yang konon “jauh, jauh di sana,” ternyata gema aksennya masih sangat dekat , terutama bagi telinga manusia yang hidup di planet biru penuh sejarah kolonial ini. Star Wars, saga yang sering dielu-elukan sebagai kisah universal tentang kebebasan dan tirani, ternyata menyimpan peta kekuasaan yang tidak kalah duniawi: aksen siapa yang berkuasa, dan aksen siapa yang dijadikan tontonan.

George Lucas mungkin tak berniat membuat tesis pascakolonial, tapi semesta ciptaannya nyaris seperti eksperimen linguistik politik: siapa yang bicara dengan logat Inggris akan berkuasa; siapa yang beraksen Prancis, eksotis dan sensual; siapa yang beraksen Jamaika, lucu dan kikuk; siapa yang beraksen Jepang, licik dan serakah; dan siapa yang beraksen Amerika? Hero, tentu saja.


Di pihak pemberontak, Luke, Leia, Han, dan kawan-kawan, kita mendengar suara Amerika Serikat versi Hollywood klasik: penuh kepercayaan diri, keras kepala, dan spontan. Mereka adalah everyman heroes, pahlawan yang menembak lebih dulu, lalu berpikir belakangan. Sementara di sisi kaisar, suara yang bergaung di ruang rapat Death Star adalah aksen Inggris formal, Received Pronunciation, suara kolonialisme yang membungkus otoritas dengan tata bahasa sempurna. Seolah Lucas ingin berkata: “The Empire speaks English properly.” Dan pemberontak? Mereka berbicara seperti petani luar kota yang ingin menggulingkan kerajaan.

Tak perlu waktu lama untuk melihat hierarki linguistik ini bekerja. Dalam Star Wars, siapa yang memiliki tata bahasa, memiliki kuasa. Siapa yang terbata-bata, menjadi lelucon. Dari situ, fiksi sains berubah menjadi refleksi sosial: bahkan di antara bintang-bintang, kolonialisme tetap punya aksen.


Lucasfilm (dan Hollywood pada umumnya) gemar menyamarkan stereotip sebagai worldbuilding. Ketika The Phantom Menace tayang, banyak penonton Asia Timur yang merasa tidak nyaman: Nute Gunray dan ras Neimoidian berbicara dengan aksen Jepang yang diseret, penuh infleksi palsu yang mengingatkan pada karikatur perang dunia. Orang Karibia pun tidak kalah terganggu melihat Jar Jar Binks, Gungan dengan dialek Jamaika karikatural yang terus tersandung-sandung di medan perang. Bahkan ada yang menyebutnya “the blackface of CGI.”

Namun, Hollywood punya cara khas untuk membela diri: it’s just an alien. Tentu saja, dan semua alien itu kebetulan berbicara seperti etnis yang dulu pernah dijajah atau diejek oleh kekaisaran beraksen Inggris. Ironi ini terlalu halus untuk dianggap kebetulan.


Bahasa, dalam dunia Star Wars, bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah lambang posisi sosial. Twi’leks seperti Hera Syndulla diberi aksen Prancis, karena Lucas menganggapnya “romantic, elegant, a little mysterious.” Dengan kata lain: cukup eksotis untuk menggoda, tapi tidak cukup berbahaya untuk mengancam. Padahal, bagi orang Prancis sendiri, aksen itu melambangkan kolonialisme balik, mereka yang dulu menjajah kini dijadikan flavoring suara alien yang cantik. Aksen menjadi rempah, bukan identitas.

Lalu lihat Nightsisters dari Dathomir, terutama Merrin dari Jedi: Fallen Order. Aksen Slavia yang berat, dingin, dan penuh tekanan konsonan dibuat seolah berasal dari dunia kelam dan sihir. Perempuan dengan logat Eropa Timur selalu berpotensi menjadi penyihir, bukan guru Jedi. Dalam semesta ini, linguistik bukan hanya soal fonetik; ia adalah garis depan stereotip.


Dan jangan lupakan clones. Semua klon Jango Fett berbicara dengan aksen Selandia Baru, hasil langsung dari aktor Maori, Temuera Morrison. Di permukaan, itu tampak seperti keberagaman representatif. Tapi di lapisan bawah, ada kejanggalan: semua tentara Republik, yang dikorbankan, diklon, dan dihapus identitasnya , kebetulan memakai aksen dunia pascakolonial. Para prajurit berwajah Maori menjadi pasukan sekali pakai dari sebuah republik yang mengaku demokratis. Kolonialisme tidak lagi menaklukkan tanah; ia menyalin DNA.


Di antara parade suara ini, Hollywood bermain-main dengan geografi moral. Imperial officers berbahasa Inggris formal, simbol disiplin, kekuasaan, dan kebangsawanan. Rebels berbahasa Amerika, lambang kebebasan, improvisasi, dan keberanian. Alien tertentu berlogat Asia atau Karibia, lambang ketidakmengertian, kelucuan, atau bahaya eksotik. Semua tertata seperti peta kolonial abad ke-19, hanya kali ini digambar dengan mikrofon, bukan senapan.

George Lucas mungkin ingin menulis epik tentang kebebasan, tapi tanpa sadar ia menulis ulang White Man’s Burden versi antariksa: Imperium berbahasa Inggris memerintah, bangsa-bangsa luar sistem berbicara dengan aksen yang “unik,” dan kaum pemberontak Amerika memimpin revolusi moral. Kolonialisme linguistik dengan efek suara Dolby Surround.


Namun yang paling menarik, atau menyedihkan, adalah bagaimana aksen masih menentukan siapa yang pantas disebut “civilized.” Dalam dunia nyata, kita tahu bahwa berbicara dengan logat tertentu sering dianggap “kurang pintar,” “kurang profesional,” atau “terlalu kampung.” Star Wars hanya memperluas logika itu ke galaksi: bahkan alien perlu berbicara dengan tata bahasa Imperial agar didengar.

Bahasa menjadi penjaga gerbang peradaban. Dan di antara cahaya pedang laser, kita bisa mendengar gema masa lalu: logat Inggris tetap menjadi suara kekuasaan, dari Death Star hingga Dewan Keamanan PBB.


Bagi sebagian penonton, ini semua hanya kebetulan. Tapi kebetulan yang berulang bukan lagi kebetulan, ia adalah pola. Dan pola ini menyingkap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar fiksi. Star Wars adalah produk budaya Amerika yang lahir dari bayang-bayang kolonialisme Inggris, dan seperti anak-anak banyak bekas koloni, ia masih meniru aksen bapaknya saat ingin terdengar berwibawa. The Empire, it seems, speaks with the voice of its creator.

Sementara para penontonnya, dari Manila sampai Casablanca, menonton dengan bahasa yang pernah dijajah, dan bersorak untuk kebebasan yang berbicara dalam aksen Amerika.


Pada akhirnya, semesta Star Wars bukan hanya pertarungan antara terang dan gelap, tapi juga antara Standard English dan segala bentuk logat yang dianggap “kurang galaktik.” Para Jedi boleh mengajarkan keseimbangan, tapi keseimbangan linguistik belum pernah benar-benar terjadi. Mungkin karena di dunia fiksi sekalipun, kekuasaan masih diukur dari cara seseorang melafalkan huruf “r.”

Dan mungkin, jika suatu hari galaksi benar-benar menemukan perdamaian, akan ada Jedi yang berbicara dengan logat Medan, atau Gungan yang berpidato dalam bahasa Yoruba. Sampai hari itu tiba, Star Wars akan tetap menjadi dokumen kolonial paling menghibur di alam semesta, dengan aksen yang indah, dan ketimpangan yang nyaris musikal.


Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...