Skip to main content

Hidup Tenang Bukan Berarti Kamu Gagal

 

Ada manusia yang lahir dengan ambisi menara Eiffel: tinggi, menonjol, bikin orang melongo. Mereka kerja dari subuh sampai bulan capek bersinar, ngejar jabatan macam ngejar diskonan iPhone. Mereka baca buku How to be a CEO Before You Turn 30, ikut seminar yang isinya motivasi untuk jadi pemimpin dunia meskipun bayar cicilan aja masih ngos-ngosan.

Tapi di sisi lain, ada manusia yang cuma ingin tidur delapan jam tanpa mimpi dikejar KPI. Bangun pagi dengan sarapan sederhana, kerja secukupnya, pulang sebelum lampu kantor kedip-kedip minta dimatikan. Lalu menghabiskan sisa hari sambil bercengkerama dengan keluarga atau pasangan, ngobrol ringan tanpa perlu bahas target Q4.

Dan tau apa? Mereka ini benar-benar hidup.


Sejak kecil, kita dicekokin narasi: hidup itu perlombaan. Siapa yang tertinggi dialah pemenang. Kalau tidak naik jabatan, berarti mandek. Kalau tidak jadi pemimpin, berarti kurang hebat. Kalau tidak bekerja mati-matian sampai lupa makan, berarti kurang ambisius.

Seolah standar kebahagiaan cuma ada di puncak, padahal sebagian orang justru takut ketinggian.

Ada manusia yang tidak membutuhkan spotlight sebab mereka bahagia jadi penonton yang duduk di bangku paling nyaman. Ada yang nggak butuh tepuk tangan karena tepuk pundak dari anak atau pasangan saja sudah cukup jadi medali emas.

Dan ini bukan pembelaan untuk kemalasan. Ini pembelaan untuk kewarasan.


Bayangkan, seseorang berusaha mati-matian naik tangga karier, sampai suatu hari sadar bahwa tangganya bersandar ke dinding yang salah. Dari bawah terlihat keren, tapi ternyata pemandangannya cuma rapat, rapat, rapat, dan… rapat.

Yang lucu, ketika ia sampai di atas, ia menengok ke bawah dan melihat teman-temannya di lantai dasar lagi makan siang bareng sambil ketawa. Ia melambaikan tangan, tapi suara dari atas terlalu jauh untuk didengar. Ia duduk sendirian dengan gelar prestasi, sementara piringnya penuh tapi hatinya kosong.


Ada orang yang ketika ditanya cita-citanya menjawab dengan lantang:

“Aku ingin memimpin sebuah perusahaan!”

Ada juga yang menjawab:

“Pulang kerja jam 5 sore.”

Dan jawaban kedua tidak kalah mulia. Karena ia tahu batas: apa yang cukup untuk dirinya sendiri. Ia tidak munafik. Ia sadar bahwa posisinya di dunia ini sudah baik-baik saja, tidak perlu menjadi headline.

Mereka jenis manusia yang ketika ada lowongan posisi manajer langsung mundur perlahan sambil berbisik, “Terima kasih, tapi saya masih ingin bernafas.”


Hidup itu ujian, kata banyak orang. Tapi tidak semua ujian harus dinilai dengan angka.

Kadang, skor tertinggi justru milik mereka yang bisa menutup laptop tepat waktu. Mereka yang bisa makan enak tanpa deg-degan mikirin target bulan depan. Mereka yang masih punya energi untuk tertawa, bukan hanya untuk membaca email jam 11 malam.

Dunia sering lupa: ada orang yang tidak ingin menjadi penting. Mereka hanya ingin merasa cukup dan merasa hidup.

Mereka yang bahagia melihat daun jatuh saat sore, bukan melihat notifikasi masuk saat malam. Mereka yang tahu bahwa gaji mungkin tidak fantastis, tapi jiwanya tidak diperas sampai kering.

Mereka yang memilih permainan keseimbangan, bukan permainan panjat sosial.


Barangkali, definisi sukses itu sudah terlalu lama dikuasai oleh mereka yang bicara paling kencang. Mereka yang suka bilang:

“Kamu harus punya mimpi besar!”
“Kamu bisa jadi apapun!”
“Kamu harus terus naik level!”

Oke, tapi bagaimana dengan mereka yang sudah puas dengan level sekarang?

Tidak semua orang ingin memimpin rapat, ada yang lebih suka memimpin doa sebelum makan. Tidak semua ingin jadi nomor satu, ada yang cukup jadi satu-satunya bagi keluarga di rumah. Tidak semua orang ingin dikenang sejarah, ada yang cuma ingin dikenang saat ketemu mertua.

Bukankah itu juga bentuk kebahagiaan yang sah?


Dan ini poin paling penting: hidup tenang bukan berarti kamu gagal. Justru dalam dunia yang sibuk pamer kesibukan, mereka yang bisa tenang itu pemenang sejati.

Butuh keberanian besar untuk berkata:
“Aku tidak ingin lebih tinggi, aku ingin lebih bahagia.”

Butuh mental baja untuk menolak kompetisi yang tidak kamu ikuti sejak awal.

Butuh hati yang kuat untuk bersyukur pada apa yang kamu dapatkan hari ini tanpa harus membandingkannya dengan orang lain.


Kalau kamu adalah tipe manusia semacam ini, yang lebih memilih tidur nyaman daripada pangkat berderet, jangan malu. Dunia butuhmu untuk menjaga keseimbangan. Karena kalau semua orang ngotot jadi pemimpin, siapa yang mau jadi manusia biasa yang menikmati hidup?

Dan kalau suatu saat ada yang bilang kamu kekurangan ambisi, kamu boleh tersenyum dan menjawab dalam hati:

“Aku tidak kekurangan apa-apa. Aku hanya memilih hidup.”

Yang lain boleh sibuk mengejar puncak,
tapi kamu tahu: kebahagiaan juga ada di tanah lapang,
tempat kamu bisa berbaring,
menatap langit,
dan merasa semuanya cukup.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...