Skip to main content

Ketika Dua Update Sistem Bertemu di Kantor: Millennials vs Gen Z dan Drama Eksistensi Bernama “Kerja”

 

Di dunia ideal, kantor adalah tempat para manusia berkumpul untuk menciptakan nilai, mengembangkan potensi, dan saling memajukan karier dengan saling mendukung.
Di dunia nyata, kantor adalah tempat penuh chat “boleh quick call?”, meeting yang bisa jadi email, dan kopi sachet yang entah sejak kapan expired-nya.

Dan di tengah kekacauan kosmik ini, dua generasi yang sangat berbeda harus bekerja bersama: Millennials dan Gen Z.
Mereka seperti dua pilihan hidup yang tidak pernah ada di buku pelajaran: tindak atau tindih.
Bertahan atau bertanya.
Kerjakan atau pertanyakan dulu SOP-nya.

Yang menarik: keduanya menganggap diri mereka benar.
Dan mungkin memang benar… hanya saja dunianya yang berbeda.


Millennials: Generasi yang Dipaksa Dewasa Terlalu Cepat

Millennials tumbuh di era di mana internet masih berisik (dial-up), dan kalau mau main game komputer harus izin dulu karena itu komputer office milik keluarga. Hidup mereka adalah pelajaran disiplin panjang sebelum masuk dunia kerja.

Jadi ketika bos bilang “kerjaan mendadak, deadline besok pagi”, responnya sederhana:

Tarik napas. Kerjakan. Curhat ke kopi.

Mereka jarang bertanya kenapa karena sudah terlalu sering diberi jawaban “begitulah hidup.”
Motto hidupnya jelas: “jangan banyak masalah, nanti rezeki seret.”

Tidak heran, loyalitas jadi semacam pelindung diri:
7–10 tahun di satu perusahaan?
Ya kenapa tidak—yang penting tetap survive dan bisa kredit rumah meski bunganya bikin pusing.

Millennials percaya bahwa kalau rajin, dunia akan balas budi.
Sayangnya dunia kini lebih sering bilang:

“Maaf, perusahaan sedang restrukturisasi ya…”


Gen Z: Lahir dengan Bahasa “Boundary” dan Izin untuk Bertanya

Gen Z muncul ketika internet sudah kuat dan mental health sudah masuk kurikulum TikTok.
Mereka dibesarkan dengan kesadaran bahwa hidup bukan sekadar bekerja, tapi juga bagaimana bekerja.

Mereka masuk kantor lalu menemukan budaya:

  • Meeting sepanjang dua jam yang isinya satu kalimat

  • Email jam 23.00 dengan high importance

  • Jabatan kosong karena “atasan belum pensiun-pensiun”

Gen Z menatap semua ini lalu berkata:

“Sistemnya harusnya diperbaiki, bukan manusianya dipaksa kuat.”

Dan kalimat itu membuat sebagian senior refleksi, sebagian lagi mendadak tersinggung.
Karena bagi yang sudah terlanjur ikhlas hidup di pola lama, kritik itu terasa seperti pembatalan perjuangan.

Tapi Gen Z tidak tahan dengan ketidakjelasan.
Kalau meeting ngambang? Mereka tanya tujuan.
Kalau job desk melebar seperti elastis, mereka tanya kompensasi.

Keberanian itu bukan karena mereka manja, tapi karena mereka sadar:

kesehatan mental tidak bisa di-claim BPJS.


“Different Problems, Different Tools”

Sumber salah paham antara Millennials dan Gen Z sebenarnya sederhana:
mereka tumbuh dalam dunia yang tidak sama, menghadapi ketakutan yang berbeda, lalu mengembangkan mekanisme bertahan yang juga berbeda.

Millennials tumbuh di era ekonomi yang goyang. Mereka diajarkan bahwa hidup harus stabil dulu, baru boleh memikirkan kebahagiaan. Maka loyalitas pada perusahaan menjadi tameng untuk bertahan. Mereka menaruh harga diri pada kesetiaan terhadap satu tempat kerja, seolah-olah semakin lama bertahan, semakin layak mereka disebut manusia kuat.

Gen Z hadir di masa ketika arus informasi begitu bising dan berlimpah, bahkan sering menyesakkan dada. Mereka tidak tumbuh dengan rasa aman; tapi tumbuh dengan kesadaran bahwa aturan bisa salah dan wajar untuk mempertanyakannya. Mereka belajar bahwa kalau bahagia ditunda sampai stabil, bisa-bisa stabil tidak pernah datang. Maka kebahagiaan lebih dulu diperjuangkan, supaya hidup tetap terasa hidup.

Soal karier, Millennials melihatnya sebagai maraton yang panjang. Tahanlah beberapa tahun, naiklah perlahan, lalu suatu saat dunia akan mengakuimu. Sementara Gen Z memperlakukan karier seperti es krim di siang terik, kalau mulai mencair dan tidak lagi memberi rasa, ya cari rasa lain. Mereka bukan tidak loyal… mereka hanya menolak stagnan.

Dan pada akhirnya, cara kedua generasi memaknai diri pun berbeda.
Bagi Millennials, bekerja dengan baik adalah identitas:

“Saya bangga karena saya dibutuhkan di sini.”

Bagi Gen Z, identitas harus lebih besar daripada satu perusahaan:

“Saya harus tetap berharga bahkan saat saya resign.”


Kenapa Millennials Nggak Banyak Protes?

Karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana impian bisa rontok tanpa pesangon.
Mereka melihat krisis yang memakan tabungan orang tua.
Mereka tahu bahwa bertanya terlalu banyak itu berisiko tidak disukai bos yang mood-nya sering lebih mengerikan daripada audit pajak.

Mereka memilih bertahan karena itu lebih rasional pada zamannya.
Pertahanannya: disiplin dan resilience.


Kenapa Gen Z Berani Protes?

Karena mereka melihat bahwa bekerja keras tanpa arah itu berpotensi:

  • burnout

  • kehilangan identitas

  • lalu diakhiri dengan kalimat sadis:
    “Kebijakan berubah, terima kasih atas dedikasinya selama ini.”

Mereka menolak jadi mesin.
Pertahanannya: boundaries dan assertiveness.


Kantor: Tempat Dimana Timeline dan Filosofi Sering Berantem

Millennials sepakat hidup itu keras.
Gen Z sepakat hidup seharusnya tidak sekeras ini.

Konflik terjadi bukan karena keduanya salah… melainkan karena sistem kerja sering membebani keduanya:

  • Struktur hierarki kaku

  • Pekerjaan multitasking tanpa peningkatan gaji

  • Senioritas yang dipakai untuk membungkam pendapat

  • Budaya lembur dianggap loyalitas

Sementara target perusahaan terus meningkat,
manusianya diharapkan tetap tersenyum dengan seragam rapih.

Kantor pada dasarnya adalah mikro drama kehidupan:
Ambisi, ketakutan, ego, dan rapat tanpa akhir.


Jika Kantor Punya Mulut…

Mungkin dia akan bilang:

“Saya adalah medan perang ekspektasi.

Saya makan idealisme saat breakfast

dan meludahkannya sebagai memo kebijakan sore hari.”


Sebenarnya, Mereka Butuh Satu Sama Lain

Tanpa Millennials, perubahan akan kehabisan tenaga karena terlalu cepat lelah.
Tanpa Gen Z, perubahan tidak akan pernah dimulai karena terlalu takut salah langkah.

Millennials adalah para pembangun pondasi.
Gen Z adalah para penguji kekuatan pondasi.

Millennials bilang:

“Ada harga yang harus dibayar untuk bertahan.”

Gen Z menjawab:

“Jangan semua harga harus dibayar dengan kesehatan mental.”

Jika dipadukan, mereka bisa menciptakan budaya kerja yang masuk akal:
masih ada kerja keras, tapi juga ada kemanusiaan.
ada target besar, tapi juga ada ruang bernapas.


Realitas Baru: Bekerja Bukan Lagi Identitas

Zaman berubah.
Pekerjaan bukan lagi pusat dari seluruh diri manusia.

Kini muncul prinsip baru:

“I work to live. Not live to work.”

Generasi masa depan tidak ingin pensiun dengan kalimat:

“Seumur hidup saya bekerja untuk apa sebenarnya?”

Mereka ingin hidup yang lebih seimbang:

  • karier tumbuh tanpa mengorbankan jiwa

  • uang cukup tanpa menjual seluruh waktu

  • masa depan yang tidak ditukar dengan masa kini

Dan siapa pun yang menganggap itu kelemahan…
mungkin hanya belum pernah merasa lelah menjadi kuat terus.


Kesimpulan yang Belum Final 

Kantor, pada akhirnya, adalah permainan strategi:
bagaimana tetap hidup sambil merasa hidup.

Millennials dan Gen Z sedang belajar memainkan game yang sama
dengan controller yang berbeda.

Yang satu percaya reset itu menakutkan.
Yang satu percaya reset itu perlu.

Mungkin inilah saatnya dunia kerja berhenti memilih pemenang
dan mulai menciptakan peraturan main baru:

  • Meeting jelas tujuan

  • Evaluasi kinerja yang manusiawi

  • Kompensasi sepadan kewajiban

  • Akses mental health yang nyata

  • Kesempatan berkembang yang terbuka

Biar semua bisa bekerja tanpa harus mengorbankan batin.

Karena kalau ada satu hal yang sebenarnya dicari dua generasi ini adalah hal yang sama:

Pekerjaan yang memungkinkan manusia tetap menjadi manusia.

Setidaknya, sebelum semuanya memutusan jadi content creator full time.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...