Skip to main content

Ketika Genesis Menemukan Jantungnya

 

Ketika Peter Gabriel keluar dari Genesis, kepanikan menyergap seluruh band.
Bagaimana nasib mereka tanpa sang vokalis ikonik?
Lalu dimulailah pencarian besar-besaran: 400 penyanyi diaudisi untuk mengisi kekosongan itu.
Empat ratus suara, empat ratus harapan dan tak satu pun yang terasa tepat.

Hingga seseorang melontarkan ide yang terdengar begitu sederhana, namun tidak terpikirkan sebelumnya:
“Bagaimana dengan Phil?”

Phil Collins, si drummer yang selalu duduk di belakang panggung.
Pria yang merasa tempatnya memang di sana, menjaga ritme, memukul drum, dan tidak pernah menjadi pusat perhatian.
Ia menolak dengan cepat:

“Saya drummer. Itu saja yang saya lakukan.”

Namun band terus mendesak.
Akhirnya, ia maju juga.
Dan ketika ia membuka suara, semua berhenti.
Mereka langsung tahu: inilah orangnya. Suara itu sebenarnya sudah ada bersama mereka selama ini.

Mulailah sebuah babak baru.
Album A Trick of the Tail menjadi debut Phil sebagai vokalis utama Genesis.
Para penggemar sempat panik, bersiap menghadapi kehancuran image band yang mereka cintai.
Tetapi yang datang bukan bencana, melainkan keajaiban baru.

Phil membawa kehangatan, luka, dan kekuatan emosional dalam suaranya.
Genesis tidak runtuh, mereka justru terlahir kembali.


Tahun 1981.
Sebuah peristiwa pahit mengoyak hidup Phil.
Perceraian brutal membuatnya limbung.
Kesedihan itu tidak ia pendam, ia ubah menjadi musik.
Lahirlah album solo pertamanya: Face Value.

Dari situ dunia mendapatkan In the Air Tonight.
Sebuah lagu yang bukan hanya hit, tetapi momen sejarah.
Dentuman drum yang muncul seperti teriakan emosi paling dalam, tak ada yang melupakannya.

Karier Phil Collins kemudian melesat sangat jauh.
Tahun 80-an menjadi panggung besar baginya.
Satu demi satu lagu menembus tangga lagu teratas:
Against All Odds, One More Night, Sussudio, Another Day in Paradise,
suara Phil terdengar di radio setiap hari, di hampir setiap negara.

Yang menakjubkan, antara 1982 dan 1990…
tidak ada artis lain yang lebih banyak masuk Top 40 Amerika daripada Phil Collins.
Bahkan Madonna dan Michael Jackson tertinggal jauh untuk periode itu.

Ia memenangkan Grammy. Brit Awards. Bahkan Oscar.
Album solonya terjual lebih dari 100 juta kopi.
Karyanya bersama Genesis, juga 100 juta kopi.
Ia berdiri di antara legenda yang sangat sedikit jumlahnya.

Dan kemudian datang hari yang begitu gila: Live Aid, 13 Juli 1985.
Phil tampil di Wembley, lalu terbang dengan Concorde melintasi Atlantik,
dan kemudian tampil lagi di Philadelphia pada hari yang sama.
Siapa yang melakukan itu?
Phil Collins, drummer yang dulu hanya ingin duduk di belakang panggung.


Namun semua kejayaan memiliki bayangan.
Puluhan tahun memukul drum memakan korban.
Saraf-saraf di tangannya menjerit. Tulang punggungnya rusak.
Pada 2011, ia menyerah dan pensiun dalam kepedihan.

Tetapi musik belum selesai dengannya.

Tahun 2017, ia kembali dalam tur “Not Dead Yet”.
Terlihat rapuh, berjalan dengan tongkat,
dan duduk sepanjang pertunjukan karena tubuhnya tidak lagi mampu menopang mimpi mudanya.

Dan di belakangnya , seorang drummer muda memainkan beat yang dulu menjadi miliknya:
Nic Collins, putranya sendiri.
Seolah kehidupan ingin menunjukkan bahwa musik Phil akan terus berdetak, bahkan saat ia tak lagi memegang stik drum.

Lalu tiba tahun 2021.
Genesis kembali bersatu dalam tur “The Last Domino?”
Sebuah salam perpisahan untuk band yang pernah mengubah dunia.
Phil bernyanyi sambil duduk, ringkih namun tetap menyala.
Senyumnya menyimpan rasa syukur dan perpisahan yang tak terucap.


Phil Collins…
Pria yang tidak pernah mengejar spotlight.
Tidak pernah menempatkan dirinya sebagai bintang.
Ia hanya mencintai drum, sederhana, tulus, tanpa ambisi berlebih.

Namun justru dari kesederhanaan itulah dunia menemukan seorang legenda.
Ia menjadi jantung Genesis.
Menjadi suara yang mendefinisikan satu dekade utuh.
Menjadi bagian dari memori dan kehidupan jutaan manusia di seluruh dunia.

Yang paling indah:
semua itu berawal dari sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.


Hidup memang aneh.
Sering kali jalan terbaik justru datang dari ketidaksengajaan,
dari pilihan-pilihan yang bahkan tidak kita inginkan pada awalnya.

Mungkin saat ini kau merasa hidup tidak terlalu bersahabat.
Masa depan tampak kabur.
Dan potensimu seakan belum terlihat.

Tapi siapa tahu?
Mungkin yang selama ini kau cari…
telah berada dalam dirimu sendiri, diam, menunggu waktu untuk bersinar.

Phil Collins hanyalah seorang drummer
yang suatu hari diminta untuk bernyanyi.
Dan ketika ia memberanikan diri,
dunia pun berubah.

Jadi, jangan berhenti melangkah.
Jangan meremehkan bakat yang belum kau sadari.
Karena kadang, keajaiban hanya membutuhkan satu langkah kecil,
langkah yang bisa mengubah segalanya.

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...