Ada kisah yang sering diceritakan seperti dongeng revolusi: Kuba membuka pintu, Amerika membuka tangan, dan rakyat berbondong-bondong menyeberangi laut. Tapi seperti semua dongeng politik, bagian yang manis sering dilebihkan, dan bagian yang pahit biasanya disembunyikan di balik retorika pahlawan.
Ketika Negara Menjadi Penjaga Pintu
Sudah sejak 1960-an, pemerintah Kuba memang mengontrol emigrasi secara ketat. Meninggalkan negara tanpa izin? Bisa dipenjara. Itu fakta yang terdokumentasi baik di laporan hak asasi manusia.
Apakah alasannya karena CIA sedang mencari bakat untuk tentara pembangkang anti-Castro?
Mungkin sebagian. Mungkin juga itu hanya alasan klasik negara mana pun yang tak mau kehilangan rakyat: “Kami melindungi Anda dari musuh.”
Padahal yang dilindungi sebenarnya adalah legitimasi.
Namun, tidak ada dokumen resmi yang mengatakan “Larangan 1970 dibuat agar warga tidak direkrut CIA.” Itu versi dramatis yang sedap bagi cerita revolusioner, tapi tidak bagi arsip sejarah.
1980: Tahun Ketika Laut Menjadi Terminal Keberangkatan
April 1980. Fidel Castro membuka Pelabuhan Mariel. Siapa pun yang ingin pergi, dipersilakan pergi. Yang terjadi adalah ribuan kapal kecil dari pihak keluarga di AS datang menjemput, total sekitar 1.700 kapal selama enam bulan.
Sekitar 125.000 orang meninggalkan Kuba. Fakta.
Ini bukan eksodus spiritual. Ini eksodus ekonomi, politik, frustrasi, dan kesempatan.
Sebuah pelarian massal yang membuat Miami dan Florida menjadi ruang tunggu dadakan bagi puluhan ribu orang yang tiba nyaris bersamaan seperti antrean raksasa yang tak pernah direncanakan.
Di tengah pelarian itu, setidaknya 27 orang tewas karena kapal kecil yang kelebihan muatan, gelombang, dan kondisi laut yang tidak memaafkan optimisme manusia.
Amerika Kaget, Carter Tergagap
Presiden Jimmy Carter memang membuka pintu bagi pengungsi Kuba. “Humanitarian gesture”, katanya.
Yang tidak dia perkirakan adalah volumenya.
Politik, memang, seperti undangan pesta kecil yang tiba-tiba menjadi festival lintas benua, semua orang datang, dan tuan rumah mulai panik mencari kursi tambahan.
Carter diserang dari kanan dan kiri.
Kaum konservatif: “Ini bencana!”
Kaum liberal: “Mengapa tidak siap?”
Gelombang Mariel menjadi beban politik nyata yang ikut menyeret Carter ke jurang kekalahan Pilpres.
Di sinilah politik andalannya: kita ingin terlihat baik, tapi jangan sampai repot.
Sementara Itu di Kuba: Antara Retorika dan Realitas
Ada narasi populer yang mengatakan:
“Setelah 125.000 orang pergi, ekonomi Kuba tiba-tiba pulih, perdagangan surplus, dan semuanya berkembang.”
Sayangnya itu tidak didukung data ekonomi yang serius.
Kuba tetap tertekan embargo, tetap bergantung pada subsidi Soviet, dan tidak ada catatan bahwa Mariel Boatlift membuat ekonomi mereka membaik secara magis.
Ini seperti mengatakan:
“Setelah banyak orang pindah kota, macet langsung hilang!”
Ya… mungkin terasa lebih lega, tapi itu bukan solusi struktural, itu hanya perubahan sementara dalam jumlah tubuh yang mengantre.
Tentang ‘Cacing-cacing’ dan Retorika Revolusi
Anda mungkin pernah mendengar kutipan dramatis yang sering disebar:
“Cacing-cacing ini… mereka adalah orang Amerika di antara kita.”
Kutipan yang terlalu sempurna untuk propaganda.
Begitu sempurna hingga… tidak ditemukan dalam arsip pidato Fidel Castro.
Apa yang memang ada adalah retorika keras terhadap emigran dan oposisi: istilah escoria (“sampah”) pernah dipakai dalam konteks yang sangat menghina. Itu nyata.
Tapi kutipan puitis tentang “worm/ cacing” sendiri tampaknya lebih sering muncul dalam legenda politik daripada dokumen historis.
Kadang narasi revolusioner itu seperti novel: beberapa dialog ditulis jauh setelah tokohnya mati.
Moral Kisah: Negara Selalu Memilih Siapa yang Disebut ‘Beban’
Mariel Boatlift menunjukkan satu hal:
ketika negara membuka pintu, itu jarang karena kemurahan hati, lebih sering karena kalkulasi.
Ketika negara menutup pintu, itu juga bukan karena “ancaman dari luar”, melainkan ancaman kehilangan wajah.
Ketika rakyat pergi massal, laut menjadi saksi bisu bahwa negara punya batas, dan manusia punya titik jenuh.
Dan ketika dunia kemudian menyimpulkan pelajaran dari tragedi ini, biasanya mereka berkata:
“Ini tentang keberanian rakyat.”
Padahal diam-diam, para pemimpin sedang menghitung, siapa yang pergi, siapa yang tinggal, dan siapa yang bisa dijadikan simbol dalam pidato berikutnya.

Comments
Post a Comment