Skip to main content

Memori 13 November 1998


13 November 1998, tahu-tahu kami sudah sampai di sini, di daerah Jatinegara. Hari semakin sore. Perjalanan dari kampus UI Salemba hingga ke sini, sejauh ini masih lumayan aman. Ada beberapa isu yang katanya akan ada bentrok dengan Pamswakarsa. Ada juga yang bilang kalau sudah bentrok di tempat lain dan sudah jatuh korban juga. Aku tidak tahu mana yang benar. DI jalan isu-isu menyebar begitu cepat. Luar biasa aku pikir, mengingat di masa itu belum ada medsos.

Tuntutan kami adalah pengakhiran dwifungsi ABRI dan mengadili Soeharto segera. Kami juga menuntut agar Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Wiranto dan Presiden B.J. Habibie untuk mundur.

Di tengah perjalanan aku baru ingat kalau aku belum bilang ke orangtua kalau akan ikut aksi. Bergegas aku langsung meminjam ponsel dari salah seorang korlap. Ternyata papa yang mengangkat telepon rumah. Dari nada suara papa terdengar kekhawatiran ketika tahu keadaan anak sulungnya saat itu. Sudah kemarin muka anaknya ini muncul di headline koran hingga beliau mendapat kunjungan dari kawannya yang bekerja di BIN, kini ditambah lagi dengan aksi ini. Beliau sempat meminta ku balik badan dan pulang. Tapi aku tidak bisa mengiyakan permintaannya. Akhirnya dengan pasrah beliau hanya bisa mengingatkan agar aku tidak meninggalkan sholat. Bukan aku enggan menelpon orang rumah dari sejak sebelum berangkat. Tapi aku terlalu disibukkan dengan persiapan aksi, karena beban yang aku sandang sebagai korlap jurusan. Aku cukup bersyukur hanya ada 13 orang yang ikut dari jurusanku saat itu. Semakin sedikit orang, semakin ringan bebanku bukan?

Perjalanan kami semakin mendekati Semanggi. Aku dan kawan-kawan berada di barisan belakang. Aku memilih untuk menjaga jarak dengan yang lainnya, karena mayoritas dari kami adalah perempuan. Sudah bukan rahasia lagi kalau mayoritas mahasiswa di jurusan Sastra adalah perempuan. 13 orang peserta aksi termasuk sang pacar. Dan 19 November nanti akan genap 2 tahun masa pacaran kami.

Lepas maghrib akhirnya kami sampai di depan kampus Atmajaya. Di tengah-tengah istirahat kami, 2 orang kawan sejurusan kami muncul secara tiba-tiba. Hanya memakai selop dan tas kecil tanpa membawa barang-barang untuk aksi seperti baju ganti, handuk kecil, air minum dan odol.

"Hai, Arie.... Kita datang nih."

Aku hanya bisa mengelus dada. Kedua perempuan ini belum pernah ikut aksi apapun sebelumnya. Akhirnya aku meminta mereka supaya tidak jauh-jauh dari kami atau jaket kuning lainnya.

Ada kabar dari korlap kampus kami, kalau di barisan depan sudah chaos. Lagi-lagi Forkot yang menjadi biang keroknya. Mereka memancing keributan dengan PHH. Dan setelah aparat menjadi marah dan menyerang peserta aksi, para begundal itu lalu lari dan membiarkan peserta aksi di belakang mereka menjadi bulan-bulanan bogem mentah dan pentungan.

Tak lama aparat sudah berada di jarak 100 m di depan kami. Aku hanya kepikiran dengan keadaan kawan-kawan yang aku bawa. Pacarku terus berada di sampingku. Kalau dalam keadaan normal, mungkin akan terlihat romantis. Sialnya dalam keadaan kacau begitu komando terpecah. Satu orang meminta kami untuk berjongkok dalam keadaan berkelompok, dan yang lainnya menyuruh kami untuk mundur ke arah rumah sakit. Dan kami pun tercerai-berai. Aku bersama beberapa kawan lari ke arah cafe dekat rumah sakit. Suara tembakan dan ledakan masih terdengar keras di luar.

Lewat parkiran cafe kami berhasil menuju rumah sakit. Di sana aku lalu mengecek satu persatu kawan-kawan yang aku bawa. Alhamdulillah, semua selamat. Termasuk dua kawanku yang baru datang tadi. Hanya ada satu korban, tas pacarku. Ternyata saat kekacauan tadi tasnya terjatuh, dan tidak sempat dia selamatkan. Tapi hebatnya, tasnya bisa kembali lengkap dengan dompet di dalamnya. Setelah aksi di keesokan harinya seorang mahasiswa dari kampus Gunadarma menelponnya dan mengabarkan kalau dia menemukan tasnya.

Di rumah sakit itu pula aku menemukan salah seorang kawanku yang sedang mendapatkan perawatan. Rupanya paha bagian dalamnya terkena peluru karet. Namanya saja yang karet, aslinya sih tetap saja logam. Hanya saja tidak setajam seperti peluru pada umumnya. Dia adalah anggota pers kampus. senjatanya hanyalah sebuah kamera. Tapi peluru tidak punya mata kan. Walau begitu dia masih saja bisa bercanda. "Untung bukan kena yang tengah, bro. Kalau nggak suram masa depan gue."

Malam semakin larut, suara tembakan dan ledakan semakin berkurang. Masih ada kekhawatiran kalau aparat akan menyerbu tempat perlindungan kami saat itu. Dan aku pikir kami semua akan bermalam di rumah sakit ini. Sampai akhirnya, jam 2 dini hari, bapak-bapak Marinir datang menjemput kami dengan bis, membawa kami kembali ke kampus UI Salemba. Akhirnya kami bisa bernafas lega.

Keesokan harinya di kampus, tertampang daftar nama-nama korban yang terluka dan tewas akibat kejadian semalam.  

Comments

Popular posts from this blog

Pedang yang Tak Pernah Mereka Pegang, Tapi Darahnya Menggenang

Mereka bilang Islam menyebar dengan pedang. Itu sudah lagu lama. Kaset usang yang terus diputar ulang, bahkan saat listrik mati akal sehat. Dari ruang kelas hingga siaran televisi, dari artikel ilmiah yang pura-pura netral hingga obrolan kafe yang penuh superioritas samar—semua ikut bernyanyi dalam paduan suara yang berlagak objektif, tapi sebenarnya penuh kebencian dan ketakutan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, agama ini ekspansionis. Konon, para penganutnya doyan perang. Tapi mari kita berhenti sejenak. Tarik napas. Lihat sekeliling. Lihat reruntuhan di Irak yang bahkan belum sempat dibangun kembali. Lihat anak-anak di Gaza yang hafal suara drone lebih daripada suara tawa. Lihat reruntuhan peradaban yang ditinggal pergi oleh para pembawa “perdamaian.” Lalu tanya satu hal sederhana: siapa sebenarnya yang haus darah? Barat menyukai wajahnya sendiri di cermin. Tapi bukan cermin jujur—melainkan cermin sihir seperti di kisah ratu jahat. Di dalamnya, wajah pembantai bisa te...

Velocity: Dari Konsep Ilmiah Menjadi Joget Viral, Kemunduran atau Evolusi?

  Di era digital, istilah “velocity” mengalami perubahan yang cukup mencolok. Dulu, kata ini erat kaitannya dengan ilmu Fisika, di mana velocity merujuk pada besaran vektor yang menggambarkan kecepatan sekaligus arah gerak suatu objek. Namun kini, jika Anda menyebut kata “velocity” di depan anak-anak muda, besar kemungkinan mereka akan mengaitkannya dengan sebuah joget viral di media sosial, bukan dengan hukum Newton atau persamaan gerak. Lalu, bagaimana bisa konsep ilmiah yang serius berubah menjadi tarian yang penuh efek slow motion dan beat catchy? Apakah ini kemunduran intelektual, atau justru bentuk evolusi bahasa dan budaya pop? Dari Kelas Fisika ke TikTok: Perjalanan Istilah Velocity Velocity dalam ilmu Fisika adalah konsep fundamental yang menjelaskan gerak suatu benda. Ia memiliki arah, bukan hanya sekadar besarannya seperti speed. Tanpa memahami velocity, kita tidak bisa menjelaskan fenomena seperti bagaimana pesawat terbang, bagaimana mobil bisa melaju dengan stabil, ata...

April Mop: Satu Hari di Dunia, Seumur Hidup di Indonesia

April Mop, atau April Fools' Day , adalah hari di mana orang-orang di seluruh dunia berlomba-lomba menjahili satu sama lain dengan lelucon dan tipu daya. Biasanya, korban hanya bisa tertawa pahit dan mengakui bahwa dirinya kena prank. Tradisi ini dirayakan setiap tanggal 1 April, dengan berbagai cara unik di berbagai negara. Tapi, tunggu dulu! Jika di belahan dunia lain April Mop hanya terjadi satu hari dalam setahun, di Indonesia kita sudah terbiasa dengan April Mop sepanjang tahun ! Tak perlu menunggu bulan April, setiap hari ada saja kejutan yang bikin rakyat merasa sedang dipermainkan. Asal-Usul April Mop: Dari Kalender Hingga Ikan Tempel Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana April Mop bermula. Namun, ada beberapa teori menarik yang sering dibahas. Salah satunya berasal dari Prancis pada tahun 1582, ketika negara itu mengadopsi kalender Gregorian. Sebelumnya, tahun baru dirayakan pada akhir Maret hingga 1 April. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengetahui perubahan ini dan ...