Mengapa Laskar Amatir Ini Begitu Ditakuti Jenderal Inggris?**
Mereka bukan tentara profesional.
Mereka adalah buruh pelabuhan, pemuda kampung, kuli toko, tukang becak, hingga pelajar yang baru kemarin lusa disuruh ibunya pulang sebelum Maghrib. Senjata mereka? Apa yang tersisa dari Jepang. Semangat mereka? Tak perlu ditanya. Dalam kamus hidup mereka, hanya ada dua pilihan yang sangat sederhana: Merdeka atau Mati, dan keduanya sama-sama terlihat heroik di mata mereka.
Namun justru laskar amatir inilah yang membuat Inggris, pemenang Perang Dunia II dengan reputasi “kerajaan yang mataharinya tak pernah terbenam,” terpaksa menggaruk kepala dan bertanya-tanya: "Ini rakyat atau pasukan spesial yang lupa dikasih seragam?"
Mereka adalah BPRI, Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia.
Jika Bung Tomo adalah suara pembakar jiwa di udara, maka BPRI adalah tenaga, otot, dan amarah rakyat yang meledak di jalanan Surabaya.
Dan dalam sejarah pertempuran yang intens di kota itu, para pejuang lain menjuluki mereka sebagai "Pemadam Kebakaran."
Ironi? Memang.
Karena yang mereka padamkan bukan api.
Mereka memadamkan serangan Inggris, yang justru menjadikan Surabaya kota yang benar-benar terbakar.
Api yang Datang dari Barat
Beri Inggris tank Sherman, pesawat tempur, artileri berat, dan pasukan Gurkha yang ganas.
Beri Inggris juga perintah: taklukkan Surabaya dalam tiga hari.
Tiga hari itu, nyatanya hanya cukup untuk Inggris memahami satu kenyataan pahit:
Menghancurkan kota itu mudah.
Menghancurkan tekad orang Surabaya, itu mimpi buruk.
Karena Surabaya di 10 November bukan kota biasa.
Ia adalah padang luas yang dipenuhi manusia-manusia yang memandang kematian seperti diskon akhir tahun: murah, dan sayang kalau dilewatkan.
Mengapa “Pemadam Kebakaran”?
Di tengah perang yang kacau, BPRI bukan organisasi dengan strategi perang berlapis-lapis.
Mereka pasukan reaksi cepat, mendengar kabar Inggris menembus satu sektor, langsung meluncur ke titik paling panas. Gang sempit? Mereka menyelam. Rumah-rumah rapat? Mereka menyusup. Tank musuh mulai masuk kota? Mereka menunggu dari atas genteng, memakai keberanian sebagai parasut.
Mereka datang untuk bertempur, bukan untuk pulang.
Jika garis pertahanan jebol di Jembatan Merah, mereka hadir.
Jika Inggris memaksa masuk Perak, mereka mengarah ke sana.
Jika peluru makin deras di Viaduk, mereka ikut deras bersama darah dan keringat.
Itulah pemadam kebakaran versi Surabaya:
Bukan menyiram air ke api,
tapi menyiram peluru, granat gentong, dan kemarahan rakyat ke pasukan Inggris.
Mereka memadamkan gempuran, bukan nyala api.
Perang Kota: Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan
Perang kota itu bukan heroik gaya Hollywood.
Ia brutal, jarak dekat, wajah bertemu wajah, napas bercampur mesiu, dan teriakan seringkali lebih dulu terdengar sebelum tembakan dilepas.
Senjata BPRI itu sederhana:
-
Senapan rampasan Jepang (yang terkadang lebih cocok dipakai jadi tongkat selfie)
-
Parang dan pisau panjang
-
Bom molotov yang diracik seadanya
-
Granat buatan tangan yang meledak… kalau beruntung
Sementara Inggris punya:
-
Tank dengan baja tebal
-
Mesin perang yang baru menang melawan Nazi
-
Komandan berpengalaman yang pernah berperang di Eropa dan Afrika
Namun semua itu tak berarti banyak saat memasuki labirin Surabaya:
Gang sempit tempat tank hanya bisa berputar-putar bagaikan badut tersesat di pasar malam.
Di sanalah para pemuda BPRI melompat dari atas atap, menghujamkan granat ke titik buta tank. Banyak yang gugur seketika. Namun, setiap kematian mereka selalu ditebus oleh ketakutan baru di hati Inggris.
Karena bagaimana caranya menakut-nakuti orang yang sudah tak takut mati?
Bung Tomo: Mikrofon yang Menyalakan Peluru
Setiap kali BPRI bertempur hingga suaranya habis oleh teriakan, Bung Tomo menggantikan suaranya di udara:
“Allahu Akbar! Jangan mundur! Kita bukan bangsa budak!”
Pidatonya tidak hanya terdengar oleh rakyat:
Inggris pun mendengarnya, dan itu membuat mereka semakin gelisah.
Surabaya bertempur dengan dua amunisi:
Senjata seadanya dan api semangat yang mustahil dipadamkan.
Dan BPRI adalah bukti hidup dari amunisi yang kedua.
Tragedi yang Menggema Sampai Meja Diplomasi
Akhirnya, Surabaya roboh.
Rumah-habis, tanah menjadi abu, dan sungai berubah menjadi saksi bisu darah pemuda.
Ribuan pejuang gugur.
BPRI tercerai berai, mundur ke luar kota, bukan untuk menyerah, tapi untuk melanjutkan perang dalam bentuk gerilya.
Apakah mereka kalah?
Secara taktis: ya.
Namun dunia akhirnya terhenyak:
“Negeri kecil ini benar-benar ingin merdeka.”
Dan terkadang dalam sejarah, kemenangan bukan tentang siapa yang terakhir berdiri,
tapi siapa yang tidak pernah mau berlutut.
Warisan Sang Pemadam Kebakaran
BPRI tidak punya monumen megah seperti tentara resmi yang berbaris rapi dalam buku sejarah.
Mereka lebih mirip catatan kaki yang menentukan isi keseluruhan halaman.
Jika mereka tidak berdarah-darah menahan Inggris di Surabaya,
mungkin kemerdekaan Indonesia hanya menjadi negosiasi panjang yang membosankan di meja perundingan, tanpa harga diri.
Mereka laskar biasa.
Tapi perjuangan mereka luar biasa.
Karena bangsa ini lahir bukan dari pidato-diplomasi saja,
tapi dari pemuda-pemuda nekat yang memilih mati dulu baru bicara.
Karena kemerdekaan Indonesia tidak diberikan.
Kemerdekaan Indonesia direbut. Dengan tangan kosong dan hati yang menyala.
Dan di Surabaya,
mereka yang masih tersisa dari neraka itu berkata:
“Kami hanya ingin hidup merdeka.
Tapi kalau harus mati,
setidaknya kami mati sebagai kaum merdeka.”

Comments
Post a Comment